Search This Blog

Loading...

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Friday, November 12, 2010

What Diah Has Mini-Researched: Taman Langit di Gerbang Tuhan

Semasa SD saya kerap kali menduga-duga bentuk dan letak Taman Gantung Babilonia. Apakah berada di angkasa seperti istana para dewa yang dikisahkan dalam dongeng-dongeng, atau benar-benar menggantung dalam arti masing-masing sisi diikat seutas tali, atau seperti kereta gantung yang berjalan dengan menggunakan kabel seperti yang ada di TMII?

Melalui berbagai kepustakaan, saya menemukan jawaban bahwa sesungguhnya taman gantung tidak tergantung dalam makna harfiah. Kesalahan penafsiran ini disebabkan kesalahan penerjemahan kremastos dalam bahasa Yunani atau pensilis dalam bahasa Latin yang artinya bukan hanya “tergantung”, tetapi juga “menjorok” seperti balkon atau teras.

Taman Gantung Babilonia atau dikenal pula sebagai Taman Tergantung Semiramis merupakan salah satu tujuh kejaiban dunia kuno yang disebut oleh Antipater Sidon dalam puisinya. Kemungkinan Taman Gantung Babilonia terletak di tepi timur Sungai Eufrat, sekitar 50 kilometer selatan Kota Baghdad, Irak tepatnya di kota Al-Hillah.


Kembali ke Peradaban Mesopotamia


Mesopotamia
Babilonia merupakan negara purba yang terletak di Selatan Mesopotamia. Daerah Mesopotamia diapit dua aliran sungai, yaitu sungai Eufrat dan Tigris. Tanah di sekitar dua sungai tersebut sangat subur dan luas namun pertahanan alamnya kurang memadai sehingga menjadi sasaran bangsa-bangsa sekitarnya untuk dikuasai.

Bangsa pertama yang menduduki Mesopotamia adalah Sumeria pada sekitar 3000 SM. Peninggalan Bangsa Sumeria yang terpenting adalah Ziggurat yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Tulisan paku (cuneiform) yang kemudian dikembangkan oleh Bangsa Romawi menjadi huruf latin juga merupakan peninggalan Bangsa Sumeria.


Ziggurat
Cuneiform



Bangsa Sumeria memperkenalkan sistem angka hitungan dengan dasar 60 (sixagesimal). Pengetahuan ini menjadi dasar perhitungan waktu yang kita gunakan sekarang ini. Mereka menghitung satu jam sama dengan 60 menit dan satu menit sama dengan 60 detik.

Kekuasaan Banga Sumeria berakhir pada 2350 SM setelah ditaklukkan oleh Bangsa Akkadia di bawah kepemimpinan Sargon. Kata Babilon berasal dari Bahasa Akkadia yang berarti gerbang tuhan.

Kebudayaan Bangsa Akkadia dan Sumeria tidak jauh berbeda. Bangsa Akkadia meniru kebudayaan Bangsa Sumeria yang lebih berkembang. Bahkan beberapa kebudayaan berakulturasi sehingga melahirkan Kebudayaan Sumer-Akkad.

Hammurabi
Sekitar 1900 SM Bangsa Akkadia dikalahkan oleh Bangsa Amorit. Mereka mendirikan Kerajaan Babilonia dengan ibukota di Babilon. Kerajaan Babilonia mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan Raja Hammurabi.


Codex Hammurabi
Salah satu peninggalan yang paling bernilai adalah Codex Hammurabi. Menurut kepercayaan mereka, Codex Hammurabi berisi hukum yang berasal dari pemberian Dewa Marduk―tuhan tertinggi. Agar senantiasa ditaati masyarakat, Codex Hammurabi yang merupakan peraturan tertulis pertama di dunia dipahat di balok batu hitam dan ditempatkan di tengah ibukota. Pembalasan yang menjadi inti Codex Hammurabi membuktikan bahwa sejak abad 18 sudah ada pemimpin yang memperlakukan anggota masyarakatnya dengan adil dan bijaksana demi tercapainya ketertiban masyarakat.

Setelah Hammurabi meninggal dunia, Bangsa Babilonia terpecah belah dan diruntuhkan oleh Bangsa Huthit/Hittit. Selanjutnya pada 1200 SM Mesopotamia dikuasai oleh Bangsa Assyria.

Bangsa Assyria berhasil membentuk imperium yang besar dengan menaklukkan bangsa-bangsa di sekitarnya sehingga digelari Bangsa Roma dari Asia. Pertahanan Bangsa Assyria yang bercorak militer dilihat dari pasukan infantri, kavaleri dan tentara yang banyak serta kereta perang yang sangat kuat.

Selain mengembangkan sistem pemerintahan diktator militer, Bangsa Assyria juga memajukan pendidikan dan pengetahuan. Assurbanipal, seorang Raja Assyria, membuat 22000 buah lempengan tanah liat yang memuat tulisan tentang hal keagamaan, sastra, pengobatan, matematika, ilmu pengetahuan alam, kamus dan sejarah. Lempengan-lempengan tersebut disimpan di perpustakaan Niniveh yang kini menjadi perpustakaan tertua di dunia.

Pada 612 SM, Bangsa Assyria hancur oleh serangan Bangsa Khaldea. Di bawah kepemimpinan Raja Nabopalassar, Bangsa Khaldea membangun kembali Kota Babilon dan menjadikannya sebagai pusat Kerajaan Babilonia Baru. Bangsa Khaldea mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Nebukadnezar. Seorang sejarawan Mesir kuno, Herodotus, menyatakan bahwa keindahan Kota Babilon melampaui keindahan kota-kota tersohor di dunia.


Bukti Cinta

Peninggalan Bangsa Babilon Baru yang paling menarik adalah menara babel yang berfungsi sebagai mercusuar dan keindahan taman gantung.



Nebukadnezar
Taman gantung dibangun oleh Raja Nebukadnezar―cucu Raja Hammurabi juga anak Raja Nabopalassar―sekitar tahun 600 SM untuk melipur kesedihan istrinya, Amytis, yang merindukan pohon-pohon dan tanaman-tanaman wangi yang tumbuh di kampung halamannya, Persia. Amytis berasal dari Media yang keadaan lahannya bertolak belakang dengan Babilonia, penuh dengan padang rumput hijau dan bergunung-gunung. Pernikahan Nebukadnezar dengan Amytis bertujuan politik, yaitu untuk membentuk aliansi antar bangsa.


Konstruksi dan Dimensi Taman Gantung

Ahli sejarah Yunani, Strabo dan Diodorus Siculus mencatat tentang arsitektur taman gantung yang luar biasa memukau. Strabo melukiskan teras berkubah yang saling bertumpu ke atas dan berdiri di atas fondasi berbentuk seperti kubus. Bagian dalam taman berongga dan berisi tanah sehingga memungkinkan pepohonan besar ditanam. Taman berbentuk segi empat dengan panjang masing-masing sisi berukuran empat plethra. Teras, termasuk fondasi dan atapnya, terbuat dari batu bata dan aspal. Terdapat tangga bersekrup untuk menuju atap teras teratas. Para budak menyalurkan air terus menerus dari Sungai Eufrat ke taman melewati tangga. Dari puncak teras terlihat pemandangan Kerajaan Babilonia dan sekitarnya.



Taman Gantung Semiramis

Sedangkan Diodorus Siculus mendeskripsikan bahwa jalan menuju taman terjal seperti bukit dan beberapa bagian struktur bangunan menanjak dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya seperti tanah yang ditumpuk-tumpuk. Konstruksi taman gantung terdiri dari lempeng batu besar yang dilapisi buluh, aspal dan batu ubin. Atasnya disalut lembaran timah agar hujan yang membasahi tanah tidak membuat fondasi lapuk. Terbentang tanah yang luas untuk ditanami pepohonan besar. Mesin mengangkat air dalam jumlah besar dari sungai, meskipun tidak seorang pun melihatnya dari luar. Ukuran dan pesona berbagai jenis pohon yang tumbuh memberikan kesenangan bagi orang-orang yang menyaksikannya.


Karya Martin Heemskerck
Philo dari Byzantium menerangkan bahwa tanaman dibudidayakan dengan cara hidroponik yaitu ditanam di atas permukaan tanah namun akar tanaman tertanam di teras bukan di bumi. Keseluruhan massa ditopang pilar-pilar batu. Air yang memancur dari atas mengalir turun di saluran air yang landai. Seluruh taman disiram agar akar pepohonan berair dan menjaga seluruh area taman lembap. Dengan demikian, rerumputan tetap hijau dan dedaunan tumbuh subur. Pengairan tersebut merupakan sebuah karya seni Babilonia yang mewah. Dan hal yang paling mencengangkan adalah ketika para pekerja yang membudidayakan tanaman berjuntai di atas kepala penonton.


Seruling Pan
Pada abad 16 seorang pelukis Belanda, Martin Heemskerck, mereka-reka Taman Gantung Babilonia dalam lukisannya. Dia melukis taman gantung dengan latar belakang Menara Babel. Tiap-tiap teras bersusun ke atas seperti Syrinx―Seruling Pan—yang terbuat dari beberapa tabung dengan dengan ukuran panjang yang tidak sama. Bentuknya yang menyerupai gedung teater diapit dinding setebal 26 kaki. Atap teras terbuat dari bebatuan yang di atasnya terdapat setumpuk alang-alang dengan bitumen dalam jumlah besar, kemudian dirangkap batu bata yang berisi gips, dan atasnya disalut timbal agar kelembapan tanah tidak merembes. Tanah digali cukup dalam agar berbagai macam pohon besar tumbuh. Terdapat pula lintasan saluran air menuju teras teratas dan mesin untuk mengangkat air dalam jumlah besar dari sungai, yang prosesnya tidak dapat dilihat dari luar.

Mengenai dimensi Taman Gantung Babilonia, tidak ada kesepakatan dari ahli sejarah Yunani. Menurut Diodorus Siculus, taman berukuran lebar sekitar 400 kaki, panjang 400 kaki dan tinggi hampir 80 kaki. Strabo menyebutkan panjang dan lebar taman gantung adalah 4 plethra atau kira-kira 400 kaki. Sedangkan versi lain menyatakan bahwa tinggi taman gantung sama dengan tembok kota Babilon yang menurut Herodotus berukuran 320 kaki.


Sistem Pengairan

Kota Babilon merupakan daerah kering dan bercurah hujan sedikit. Dibutuhkan teknologi sistem pengairan yang maju agar tanaman tumbuh subur. Dari penggalian ditemukan terowongan dan sistem katrol kompleks yang mengangkat air ke teras atas.



Kincir Air Tipe Rantai
Air dipindahkan dengan menggunakan kincir air tipe rantai. Seperti lift, kincir air terdiri dari katrol atas dan bawah. Ember digantung di rantai yang menghubungkan katrol atas dan bawah. Tenaga para budak didayagunakan untuk menaikturunkan ember. Dua katrol besar berputar agar ember menciduk air dari kolam bawah dan menuangnya ke kolam atas. Kemudian ember kosong berputar kembali ke kolam bawah untuk diisi ulang. Air kolam atas dikeluarkan melalui saluran air yang didesain khusus seperti anak sungai buatan.

Penyiraman dilakukan secara cermat karena taman beresiko runtuh jika air terlalu banyak diserap pilar dan fondasi yang menopang taman. Sungguh merupakan teknologi canggih pada masanya.


Taman Gantung Hanya Legenda?

Terdapat beberapa kontroversi apakah taman gantung benar-benar ada atau hanya syair karena kurangnya dokumentasi dalam sejarah Babilonia. Dalam tulisan-tulisan kuno Taman Gantung Babilonia pertama kali diceritakan oleh Berossus, seorang imam Babilonia yang hidup di akhir abad 4 SM. Kemudian cerita ini dikembangkan oleh ahli sejarah Yunani.

Lempengan batu dari pemerintahan Nebukadnezar mendeskripsikan secara detil tentang tembok dan istana Kota Babilon, namun tidak ada yang mendeskripsikan tentang taman gantung. Justru Bangsa Yunani yang banyak mendeskripsikan tentang taman gantung. Sebagian ahli sejarah yakin bahwa Taman Gantung Babilonia hanya legenda yang diceritakan pasukan Alexander Agung saat mereka kembali ke Yunani. Mereka mengagumi tanaman yang tumbuh subur di Mesopotamia, istana Nebukadnezar, Menara Babel dan Ziggurat. Kekaguman mereka disajikan dalam bentuk syair puitis.


Taman Gantung di Indonesia

Taman Wisata Mekarsari merupakan lokasi pelestarian keanekaragaman hayati buah-buahan tropika di Bogor. Salah satu wahananya adalah Bangunan Air Terjun atau dikenal pula dengan nama Puri Tirto Sari. Bangunan Air Terjun menjadi ikon Mekarsari dan merupakan gedung air terjun terbesar di Indonesia.

Bangunan Air Terjun
Arsitekturnya menyerupai Taman Gantung Babilonia. Bangunan tersebut seperti bukit dengan air terjun yang mengalir deras dari lantai 7. Tiap-tiap lantai juga terdapat pepohonan hias.

Nah, kini kehausanku akan sejarah Taman Gantung Babilonia sudah terpuaskan. Arsitektur taman gantung memberikan pesona tersendiri bagi yang melihatnya, bahkan yang menjelajahinya melalui kepustakaan seperti saya, meskipun keberadaannya masih misteri.



Sumber: Dari Berbagai Sumber



Also Available at Kompasiana

No comments:

Post a Comment