Search This Blog

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Saturday, October 29, 2011

What Diah Has Mini-Researched: Partisipasi Penyandang Disabilitas dalam Pemilu Masih Dipandang Sebelah Mata

www.iddaily.net


Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat. Ini berarti bahwa rakyat memegang kekuasaan tertinggi dalam menjalankan pemerintahan. Rakyat menentukan cara dan corak pemerintahan serta menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan dicapai. Di Indonesia, kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui perwakilan karena jumlah penduduknya sangat banyak dan wilayahnya sangat luas.  Dalam negara demokrasi, pemilihan umum (pemilu) merupakan lembaga penyalur aspirasi rakyat dalam memilih orang-orang yang duduk di kursi legislatif dan eksekutif. Orang-orang yang duduk di dewan pemerintahan inilah perumus dan penyusun kebijakan strategis pemerintah pusat dan daerah atas nama rakyat.

Partisipasi setiap warga negara dalam pemilu merupakan hak asasi yang harus dijunjung tinggi. Setiap warga negara berhak terlibat dalam mengambil kebijakan politik dan negara wajib melindungi hak-hak tersebut. Ketentuan tentang partisipasi secara aktif dalam kehidupan berpolitik terkandung dalam pasal 21 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, pasal 25 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, pasal 28D ayat (3), pasal 28H ayat 2 dan pasal 28I ayat (2) UUD 1945 setelah amandemen dan pasal 43 ayat (1) dan (2) UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia. Inti pasal-pasal tersebut antara lain setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pemerintahan, baik kesempatan untuk berpartisipasi dalam pemerintahan berupa dipilih dan memilih dalam pemilu maupun aksesibilitas untuk mendapatkan kesempatan tersebut tanpa diskriminasi. Landasan hukum tersebut berlaku pula bagi penyandang disabilitas dan diperkuat dengan UU No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang cacat.

Dalam pemilu, agar ketersediaan sarana dan prasarana yang mudah diakses bagi pemilih penyandang disabilitas dan prinsip luber dan jurdil tercapai, pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) merumuskan beberapa peraturan terkait. Peraturan-peraturan yang diatur dalam Undang-undang meliputi:
1.    Selain Perlengkapan pemungutan suara, KPU juga mendistribusikan alat bantu tuna netra demi menjaga keamanan, kerahasiaan, dan kelancaran pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara (pasal 142 ayat (2) jo penjelasan 142 ayat (2) UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan pasal 105 ayat (2) jo penjelasan pasal 105 ayat (2) UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wapres).
2.    Saat memberikan suaranya, pemilih penyandang disabilitas dapat dibantu oleh orang lain yang dipilihnya dan orang tersebut wajib merahasiakan pilihannya. (pasal 156 UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan pasal 119 UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wapres).
3.    Dalam pemilu legislatif, asas kerahasiaan tersebut juga berlaku bagi pemilih penyandang disabilitas yang bermukim di luar negeri (pasal 164 UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD).
4.    Dalam pemilu presiden dan wapres, bagi pemilih penyandang disabilitas yang bermukim di luar negeri dan tidak dapat memberikan suaranya di TPSLN, dapat memberikan suaranya melalui pos yang disampaikan kepada PPLN di perwakilan RI setempat (pasal 120 ayat (2) UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wapres).
5.    Sanksi diberikan kepada orang yang membantu pemilih penyandang disabilitas yang dengan sengaja memberitahukan pilihannya kepada orang lain, yaitu pidana penjara minimal tiga bulan dan maksimal satu tahun dan denda minimal tiga juta rupiah dan maksimal dua belas juta rupiah (pasal 295 UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan pasal 241 UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wapres).

Untuk menjamin pasal-pasal dilaksanakan secara konsekuen, KPU merumuskan peraturan-peraturan yang mengatur lebih khusus partisipasi berpolitik penyandang disabilitas dalam pemilu. Pasal 8 ayat (3) Peraturan KPU No. 3 tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara di Tempat Pemungutan Suara dalam Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPR Provinsi dan Kabupaten/Kota dan pasal 9 ayat (2) Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden menegaskan kembali demi  menjaga keamanan, kerahasiaan, dan kelancaran pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara KPU Kabupaten/Kota menyerahkan alat bantu tuna netra kepada KPPS. Selain itu, secara garis besar, Peraturan-peraturan yang disusun oleh Komisi Pemilihan Umum terkait disabilitas meliputi:
1.      Surat pemberitahuan untuk memberikan suara di TPS harus menyebutkan adanya kemudahan bagi pemilih penyandang disabilitas dalam memberikan suara (pasal 15 ayat (2) Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009).
2.      Untuk melaksanakan pemungutan suara, KPPS menyiapkan dan mengatur antara lain:
a.    meja untuk meletakkan kotak suara diberi jarak kurang lebih 3 meter dari tempat duduk Ketua KPPS, ditempatkan di dekat pintu keluar TPS dan berhadapan dengan tempat duduk pemilih;
b.    jarak antara bilik pemberian suara dengan batas lebar TPS minimal 1 meter;
c.    meja/papan untuk menempatkan bilik suara dan untuk pemberian tanda pada surat suara, dan meja khusus bagi pemilih penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda (pasal 19 Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009 dan pasal 30 Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009).
3.       TPS berlokasi di tempat yang mudah dijangkau, termasuk oleh pemilih penyandang disabilitas (pasal 4 ayat (3) Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009)
4.      TPS berukuran panjang 10 meter dan lebar 8 meter atau sesuai kondisi setempat (pasal 21 ayat 1 Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009 dan pasal 22 ayat (1) Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009).
5.      Pintu masuk dan keluar TPS harus dapat menjamin akses gerak bagi pemilih penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda (pasal 21 ayat (2) Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009 dan pasal 22 ayat (1) Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009).
6.      Pemilih penyandang disabilitas dipersilahkan terlebih dahulu memberikan suaranya atas seizin yang bersangkutan (pasal 28 Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009 dan pasal 29 ayat (2) Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009).
7.      Mekanisme dan teknis pemberian suara bagi pemilih penyandang disabilitas sama dengan pemilih lain, kecuali jika diperlukan dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaannya sendiri (pasal 30 Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009 dan pasal 31 Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009).
8.      Pemilih tuna netra menggunakan alat bantu tuna netra yang disediakan untuk memberikan suaranya dalam pemilu Anggota DPD (pasal 30 ayat (3) Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009).
9.      Atas permintaan pemilih penyandang disabilitas, Anggota KPPS kelima dan keenam atau orang yang ditunjuk oleh yang bersangkutan dapat bertugas memberikan bantuan dengan ketentuan:
a.  bagi pemilih yang tidak dapat berjalan, Anggota KPPS kelima dan keenam membantu pemilih menuju bilik pemberian suara, dan pemberian tanda dilakukan oleh pemilih sendiri;
b.   bagi pemilih yang tidak mempunyai keduabelah tangan dan tuna netra, Anggota KPPS kelima membantu melakukan pemberian tanda sesuai kehendak pemilih dengan disaksikan oleh anggota KPPS keenam;
c.   Bantuan orang lain, selain Anggota KPPS kelima dan keenam, atas permintaan pemilih yang bersangkutan, pemberian tanda dilakukan pemilih sendiri;
d.   Anggota KPPS dan orang lain yang membantu pemilih penyandang disabilitas wajib merahasiakan pilihan pemilih yang bersangkutan dan menandatangani Surat Pernyataan Pendamping Pemilih (pasal 31 Peraturan KPU No. 3 Tahun 2009 dan pasal 32 Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009).
10. Pemilih penyandang disabilitas merupakan salah satu sasaran pelaksanaan sosialisasi dan   penyampaian informasi pemilu (bagian V Peraturan KPU No. 23 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Sosialisasi dan Penyampaian Informasi Pemilu Anggota DPR, DPD Dan DPR Provinsi dan Kabupaten/Kota).

Meskipun peraturan-peraturan tersebut diberlakukan dan KPU menjamin semua warga negara termasuk penyandang disabilitas berhak memberikan suaranya dalam pemilu, kenyataannya hak berpolitik penyandang disabilitas masih dientengkan. Rendahnya kesadaran dan pengetahuan tentang sistem, tahapan dan mekanisme pemilu mengakibatkan hak suara penyandang disabilitas rentan dimanipulasi.
Adapun permasalahan-permasalahan terkait kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh pemilih penyandang disabilitas dalam pemilu 2009 antara lain:
1.    Meskipun KPU bekerja sama dengan 26 LSM, sosialisasi dan simulasi pemilu masih sangat kurang. Pemilih penyandang disabilitas tidak memahami mekanisme dan teknis pengambilan suara. Perubahan dari cara mencoblos ke mencontreng serta jumlah partai, nomor urut dan anggota calon legislatif yang banyak membingungkan para pemilih penyandang disabilitas terutama tuna netra. Sosialisasi terhadap petugas di lapangan juga terbatas. Petugas banyak yang tidak memahami cara menangani pemilih penyandang disabilitas seperti penggunaan alat bantu tuna netra, petunjuk bagi tuna rungu dan tempat bagi pengguna kursi roda.
2.    Jumlah dan posisi pemilih penyandang disabilitas tidak terpetakan sehingga banyak pemilih penyandang disabilitas yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap. Hal ini disebabkan oleh keengganan petugas pendata untuk menanyakan jenis disabilitas kelompok yang didata dan kecurangan petugas pendata untuk tidak mendaftarkan pemilih penyandang disabilitas.
3.    Banyak TPS yang berlokasi di areal yang berumput tebal, becek, berbatu-batu, berlubang-lubang, berundak-undak, menanjak dan di tempat yang tinggi sehingga sulit dijangkau oleh pemilih pengguna kursi roda.
4.    Alat bantu tuna netra hanya tersedia untuk lembar surat suara DPD sehingga untuk pemilihan anggota legislatif pemilih penyandang tuna netra mesti didampingi petugas atau anggota keluarganya.
5.    Asas luber tidak terjamin karena dalam memberikan suaranya pemilih tuna netra didampingi oleh petugas, bukan orang yang dipilihnya sendiri. Begitu pula dengan pemilih pengguna kursi roda, suaranya diwakilkan karena aksesibilitas ke TPS kurang memadai.
6.    Surat suara berukuran 84 cm x 54 cm sangat menyulitkan pemilih penyandang disabilitas. Meskipun menggunakan alat bantu tuna netra, seorang pemilih tuna netra membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk memberikan suaranya.
7.    Tidak tersedianya petunjuk dan informasi tentang pemilu yang dikemas khusus dengan menggunakan bahasa isyarat untuk pemilih tuna rungu sehingga sering menimbulkan kesalahan persepsi pada saat pendaftaran peserta pemilu dan mendengar penjelasan petugas tentang pemungutan suara.
8.  Sistem contreng dikhawatirkan akan menghapus hak berpolitik pemilih penyandang tuna netra karena tanda contreng digambar beragam oleh para tunanetra yang tidak bisa melihat sejak lahir.


Belajar dari ketidakteraturan pemilu 2009, Diharapkan pada pemilu mendatang pemerintah lebih memfokuskan upaya-upaya pemenuhan hak berpolitik penyandang disabilitas sehingga hak asasi penyandang disabilitas tidak dilanggar dan asas pemilu luber dan jurdil bisa terwujud.  Upaya-upaya tersebut antara lain:
1.    Sosialisasi dan simulasi pemilu harus diselenggarakan tidak hanya di kota-kota besar, namun juga di daerah-daerah terpencil dengan menggunakan metode dan cara yang sesuai dengan kebutuhan pemilih tuna netra dan tuna rungu.
2.    Partisipasi dan kerjasama secara efektif dan penuh antara individu, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah harus lebih ditingkatkan agar sarana, prasarana, informasi, mekanisme dan materi pemilu mudah diakses dan dimanfaatkan oleh pemilih penyandang disabilitas
3.    Pemerintah harus meningkatkan anggaran penyediaan alat bantu tuna netra agar alat bantu tuna netra juga tersedia untuk lembar surat suara pemilihan anggota legislatif.
4.    Bawaslu yang bertugas mengawasi penyelenggaraan pemilu harus menaruh perhatian khusus pada pelanggaran-pelanggaran terkait disabilitas sehingga hak berpolitik penyandang disabilitas tidak dirugikan.
5.    Yang terutama, merevisi peraturan perundang-undangan terkait yang tidak berpihak pada kaum penyandang disabilitas agar pemenuhan hak-haknya lebih terjamin.


Also Available at: Kompasiana

Saturday, October 22, 2011

What Diah Has Copied: Pengesahan Ratifikasi CRPD: Sejarah Baru Jaminan Perlindungan Hak PD di Indonesia

Jakarta, 2011. Setelah berjuang sekian lama untuk memperoleh payung hukum terhadap perlindungan hak Penyandang Disabilitas (PD), akhirnya pada hari Selasa, 18 Oktober 2011, pukul 11.40 WIB, Sidang Paripurna DPR yang dihadiri seluruh fraksi dan Komisi VIII sepakat mengesahkan Convention on the Right of Persons with Disabilities (CRPD/ Konvensi mengenai Hak Penyandang Disabilitas) menjadi undang-undang. Sesaat setelah Pramono Anung selaku pimpinan sidang mengetok palu tanda pengesahan konvensi, ruang Nusantara II DPR RI sejenak bergema riuh dengan tepuk tangan dari para anggota dewan maupun segenap peninjau dari elemen PD yang memenuhi balkon. 

Terjadi pemandangan yang sangat mengharukan di antara tokoh PD yang ikut hadir menyaksikan momen yang sangat penting artinya bagi eksistensi mereka. Permas Alamsyah, Cucu Sadiyah, Ridwan Sumantri, Gufron Syakaril, Bayu Yulianto, Fukron Hidayat dan sejumlah tokoh PD lainnya, saling berangkulan dan mengucurkan air mata. “Kawan-kawan saya tidak tahu mau bilang apa untuk merayakan hari bersejarah ini,” ujar Permas Alamsyah dengan suara terisak yang dikerumuni tokoh PD lainnya.
“Pengesahan Konvensi Tentang Hak-hak PD memiliki nilai strategis dan sejarah baru dalam pembaruan sistem hukum nasional, khususnya dalam hal pemenuhan hak-hak bagi PD,” ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Chairun Nisa saat membacakan laporannya.
Chairun Nisa mengatakan, meskipun bangsa Indonesia terlambat namun dengan ratifikasi konvensi ini diharapkan ada kesamaan pandangan dan pemahaman dari seluruh pemangku kepentingan untuk melaksanakan konvensi ini yang pada dasarnya sebagai upaya meningkatkan pelayanan bagi PD.
“Sesungguhnya telah ada beberapa peraturan perundang-undangan yang memberikan jaminan dan perlindungan kepada PD. Tapi dalam kenyataannya masih jauh dari harapan. Masih banyak yang belum diimplementasikan secara optimal seperti akses mendapatkan pekerjaan yang layak, pelayanan publik dan kesetaraan derajat, harkat, dan martabat,” kata Chairun Nisa kepada Sidang Paripurna DPR.
Lebih lanjut Chairun Nisa juga menyampaikan hal pokok yang mendasar untuk menjadi perhatian bersama dengan disahkannya RUU ini yaitu memastikan adanya jaminan kepastian hukum bagi PD yang harus dipenuhi hak-haknya sesuai yang terkandung dalam Konvensi Tentang Hak-hak PD berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Selanjutnya, perlu dilakukan perencanaan dan pertimbangan yang sungguh-sungguh bahwa semua aspek baik sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang tersedia dalam rangka mendukung implementasi rancangan UU Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-hak PD.
“Hal paling penting adalah kesiapan bagi semua pemangku kepentingan agar sungguh-sungguh melaksanakan Konvensi Mengenai Hak-hak PD setelah disahkan menjadi UU,” ucap Chairun Nisa dengan penuh semangat.
Setelah pengesahan konvensi tersebut, pimpinan sidang mengundang Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa selaku wakil pemerintah untuk memberikan pandangan akhir. Dalam sambutannya Marty mengemukakan UU ini merupakan ratifikasi dari penandatanganan Convention on the Right of Persons with Disabilities (CRPD/ Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) oleh Pemerintah RI pada tanggal 30 Maret 2007 di New York setelah Majelis Umum mengadopsi Konvensi pada tanggal 13 Desember 2006 No.61/106. Indonesia merupakan negara ke-9 dari 82 negara sebagai penandatangan periode awal konvensi. “Sampai saat ini, konvensi tersebut telah ditandatangani 153 negara,” ucap Marty kepada Sidang Paripurna DPR.
Dengan didampingi Menteri Sosial Salim Assegaf Al-Jufri, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengutarakan bahwa pengesahan Konvensi Mengenai Hak-hak PD mencerminkan komitmen dan kepedulian seluruh elemen bangsa bagi kemajuan hak asasi manusia khususnya terhadap kemajuan PD yang wajib mendapatkan perhatian dari kita semua. “Tindakan meratifikasi konvensi ini merupkan tanggung jawab Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia dalam melindungi dan memajukan hak asasi manusia termasuk PD,” ujar Marty.
Menurut Marty Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas merupakan capaian tertinggi dan penting dalam upaya memberikan perlindungan bagi PD. "Konvensi ini telah diratifikasi oleh 106 negara dan kita adalah negara yang ke-107. Konvensi ini dapat digunakan dalam mengembangkan masyarakat agar bisa menerima harkat dan martabat PD," ujar Marty.
Menurut Marty, berdasarkan data PBB saat ini tercatat PD di seluruh dunia sekitar 1 miliar jiwa atau sekitar 15% dari penduduk dunia. Sebagian besar berada di negara berkembang. Langkah selanjutnya setelah pengesahan konvensi menjadi undang-undang adalah melakukan perubahan peraturan perundangan yang telah ada untuk disesuaikan dengan konvensi. Misalnya, akses terhadap lingkungan fisik, transportasi, informasi dan komunikasi serta terhadap fasilitas dan jasa pelayanan lain yang terbuka. Termasuk di gedung-gedung, jalanan, sarana transportasi, sekolahan, perumahan dan fasilitas medis, serta sarana lainnya yang berhubungan erat dengan kebutuhan PD.
Sebelum menutup sidang Paripurna, Wakil Ketua DPR Pramono Anung mengusulkan agar gedung DPR, DPD dan MPR RI sendiri harus segera dilengkapi dengan aksesibilitas fisik dan non fisik yang berguna bagi PD.
“Dengan telah disahkannya UU tersebut, dengan itu pula kami menginginkan agar fasilitas gedung rakyat ini harus segera dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas bagi PD. Kita bukan membangun gedung baru, tapi memaksimalkan gedung yang ada, cukup ditambah dengan sarana untuk PD," ujar Pramono yang disambut dengan tepuk tangan dari balkon maupun dari ruang Gedung Nusantara II.
Seusai penutupan sidang, Menteri Sosial Salim Assegaf Al-Jufri melakukan konferensi pers. Menurut Salim pemerintah akan melakukan sosialisasi substansi konvensi itu. Langkah utama yang akan dilakukan yakni menyiapkan fasilitas untuk PD di gedung pemerintahan dan wasta, serta wilayah publik. "Program ini akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan anggaran dan kebutuhan. Tapi tentunya, semua yang berkaitan dengan kepentingan publik harus mampu memenuhi kebutuhan dan hak-hak PD," ucap Salim tegas.
Saharuddin Daming satu-satunya Komisioner Komnas HAM yang menyaksikan secara langsung pengesahan ratifikasi konvensi tersebut, tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan dan keharuannya. “Hari ini merupakan lembaran yang sangat bersejarah bagi gerakan reformasi perlindungan hak PD di Indonesia, karena sejumlah peraturan hukum yang ada selama ini sangat tumpul dalam mendobrak dinding diskriminasi yang membelit PD di segala aspek kehidupan dan penghidupan,” ucapnya.
Saharuddin menjelaskan sejarah perjuangan ratifikasi konvensi dimulai dengan pembentukan tim penyusun naskah akademis RUU oleh Komnas HAM pada tahun 2007. Setelah disahkan oleh Sidang Paripurna Komnas HAM pada tahun 2008, Saharuddin menyerahkan rancangan naskah akademis kepada Menteri Sosial. Namun dalam suatu rapat di kantor Kementrian Sosial pada akhir tahun 2008, Saharuddin melontarkan masalah mendasar yang perlu di cari penyelesaiannya sebelum konvensi di ratifikasi. “Konvensi ini adalah legal umbrella dan merupakan momentum yang sangat strategis bagi revolusi perlindungan hak PD di Indonesia. Salah satu hal yang sangat mengganjal adalah soal terminologi Penyandang Cacat yang saya nilai perlu menjadi bagian dari perubahan. Karena itu saya mengusulkan agar kita perlu menggelar semiloka khusus untuk itu dalam rangka menggali terminologi baru pengganti istilah Penyandang Cacat,” pintanya kepada para peserta rapat.
Gagasan Saharuddin tersebut mendapat respon positif dari sejumlah pejabat Kementerian Sosial (Kemensos), khususnya Dirjen Rebsos: Makmur Sunusi. Melalui kerja sama yang baik antara Komnas HAM dan Kemensos, maka semiloka tersebut berhasil digelar pada tanggal 8 dan 9 Januari 2009 di Pusat Rehabilitasi Vokasional Daksa di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Hadir dalam semiloka tersebut, perutusan organisasi PD nasional, regional maupun lokal yang di supervisi berbagai pakar kebahasaan. Semiloka merekomendasikan 9 istilah pengganti terminologi Penyandang Cacat.
Untuk memantapkan eksplorasi terminologi pengganti istilah Penyandang Cacat sebagaimana yang digagas dalam semiloka Cibinong, Bogor 2009, maka pada 19 dan 20 Maret 2010 di Jakarta, Komnas HAM kembali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD/Diskusi Kelompok Terfokus) terbatas bagi para pakar untuk memilih satu atau menemukan istilah lain di antara beberapa istilah yang telah direkomendasikan semiloka Cibinong, Bogor. Istilah yang terpilih itu akan menjadi terminologi baru pengganti istilah Penyandang Cacat. FGD tersebut diikuti oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu maupun pihak terkait lainnya meliputi pakar linguistik, komunikasi, filsafat, sosiologi, unsur pemerintah, komunitas Penyandang Cacat dan Komnas HAM sendiri.
Setelah terlibat dalam perdebatan panjang terjadi kejutan besar dengan munculnya istilah baru yaitu “Orang Dengan Disabilitas” sebagai terjemahan dari “Persons With Disability” dari CRPD. Berdasarkan saran dari pusat bahasa yang menetapkan kriteria peristilahan yang baik adalah frase yang terdiri dari dua kata, maka istilah Orang Dengan Disabilitas dipadatkan menjadi “Penyandang Disabilitas”.
Selain memenuhi kriteria yang dipersyaratkan, istilah PD juga lebih mengakomodasi unsur-unsur utama dari kondisi riil yang dialami penyandangnya. Hal ini dapat dirujuk pada bagian preambule huruf (e) CRPD : “Recognizing that disability is an evolving concept and that disability results from the interaction between persons with impairments and attitudinal and environmental barriers, that hinders their full and effective participation in society on an equal basis with others”.
Jadi CRPD dalam preambulenya menegaskan bahwa disabilitas adalah suatu konsep yang berkembang secara dinamis. Disabilitas adalah hasil dari interaksi antara orang-orang yang tidak sempurna secara fisik dan mental dengan hambatan-hambatan lingkungan yang menghalangi partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lain. Hal ini lebih dipertegas lagi pada kalimat terakhir dari artikel 1 CRPD: Persons with disabilities include those who have long-term physical, mental, intellectual or sensory impairments which in interaction with various barriers may hinder their full and effective participation in society on an equal basis with others.
Berdasarkan ketentuan dalam artikel 1 CRPD, dirumuskan secara gamblang bahwa PD adalah mereka yang memiliki kelainan fisik, mental, intelektual, atau sensorik secara permanen yang dalam interaksinya dengan berbagai hambatan dapat merintangi partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif berdasarkan pada asas kesetaraan. Dengan demikian maka pemilihan istilah PD, sungguh telah merepresentasikan kebutuhan minimal terminologi pengganti istilah Penyandang Cacat.
Menurut informasi dari pusat bahasa bahwa istilah disabiltas, sebenarnya telah dibakukan dalam glosarium pusat bahasa dan dalam waktu dekat akan masuk dalam thesaurus dan kamus besar bahasa Indonesia. Dalam perspektif internasional, istilah PD sesuai betul dengan judul CRPD, sehingga penerjemahan naskah CRPD ke dalam Bahasa Indonesia, sangat fleksibel dan jauh dari kerancuan bahasa. Pelembagaan istilah PD sebagai pengganti istilah Penyandang Cacat dapat menjadi modal dasar dalam mempermudah penyusunan naskah akademik draf RUU tentang pengesahan CRPD. Hasil FGD ini kemudian disahkan oleh rapat organisasi disabilitas secara komprehensif pada 30 April - 2 Mei 2010 di Bandung. Sejak itulah istilah PD resmi dipromosikan sebagai pengganti istilah Penyandang Cacat.
Saharuddin menegaskan bahwa agenda berikutnya pasca ratifikasi konvensi adalah meninjau ulang UU No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Saat ini Komnas HAM telah melakukan pengkajian tentang upaya pembaharuan undang-undang tersebut yang semula berciri social base, kini lebih diperkaya dengan muatan yang lebih komprehensif dengan fokus human rights base. “Kalau pengkajiannya sudah rampung, saya akan serahkan hasilnya kepada Kementrian Sosial sebagai fokal poin RUU tentang Jaminan Perlindungan dan Pemenuhan Hak PD. Hal terpenting dari RUU ini, bukan semata-mata pada aspek aksesibilitas, tetapi substansi pengaturannya mencakup semua bidang kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Menghapus segala bentuk diskriminasi, terutama klausul sehat jasmani dan rohani serta mekanisme law enforcement yang lebih pasti dengan melembagakan prinsip perlakuan khusus dan perlindungan lebih sebagai asas umum pengaturan hak PD yang bersifat Universal,” tutur Saharuddin.
Pada saat yang sama, Maulani salah seorang tokoh PD, juga berbagi kebahagiaan dengan sekira 20 rekan senasib yang ikut hadir dalam Sidang Paripurna DPR tersebut. Mereka saling berpelukan. "Kita sudah menunggu ini lima tahun semenjak masih draf di PBB," kata Maulani.
Dengan konvensi yang disahkan PBB tahun 2006 itu, kata Maulani, para PD dapat berkontribusi dalam pembangunan. Konvensi ini, lanjut dia, mengatur jauh lebih luas ketimbang UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.
Dengan ratifikasi itu, pemerintah harus menjamin hak-hak PD yang diatur di dalam konvensi yakni hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan martabat, bebas dari eksploitasi, kekerasan dan perlakuan semena-mena. Hak PD lainnya yakni mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisik berdasarkan kesamaan dengan orang lain. Termasuk di dalamnya hak untuk mendapat perlindungan dan pelayanan sosial dalam rangka kemandirian.
Sebelum meninggalkan gedung DPR, Saharuddin Daming didampingi para tokoh PD yang hadir, memberikan ucapan selamat kepada Mensos Salim Assegaf Aljufri ketika Mensos berjalan keluar dari gedung Nusantara II diiringi para pejabat teras Kemensos dan sejumlah anggota Komisi VIII DPR RI. Mereka kemudian berfoto bersama diselingi berbagai ungkapan bernada optimisme dan kegembiraan dari Mensos yang disambut dengan antusias tokoh PD yang ada disekitarnya.

Sumber:  Komnas HAM

What Diah Has Mini-Researched: 40 Spesies Alien dan Dugaan Keberadaannya di Bumi


Spesies alien yang mungkin pernah mengunjungi bumi dan berperan di sistem tata surya kita telah diringkaskan di bawah ini. Terserah kepada pembaca untuk menyimpulkan apakah keberadaannya masuk akal atau tidak.

Adamic/Evadamic Hybrid

Ometecuhtli
Beberapa orang menyebutnya sebagai manusia pertama, kemungkinan keturunan persilangan pertama Anunnaki. Diyakini sebagai adam dan hawa yang muncul di berbagai kebudayaan di dalam teks-teks kuno. Diyakini juga sebagai dua spesies makhluk yang ada wilayah universal kita, yaitu Draconian (reptil) dan Evadamic (manusia) yang berjuang untuk mendominasi Bumi. Mereka terlihat agak mirip orang timur tengah atau penduduk asli Amerika, berkulit hitam, memiliki rambut cokelat gelap, mata hitam berbentuk zaitun dan sebagian biru.

Agharian atau Aghartian

Sekelompok manusia ras Asia dan Nordik menemukan sistem gua yang sangat luas di bawah wilayah gurun Gobi dan sekitarnya ribuan tahun lalu. Di dalamnya berdiri sebuah kerajaan maju yang telah berinteraksi dengan sistem planet lainnya. Salah satu sumber mencatat ribuan tahun lalu seorang pangeran dari asia diduga memimpin para pengikut militan ke dalam gua dan bertarung dengan Saurian-Reptoid, entitas Reptilian, yang menghuni kota atau jaringan bawah tanah kuno Agharta atau Agharti. Pertarungan tersebut mengakibatkan pasukan Reptilian diusir. Namun, akhirnya Reptilian berhasil mengambil alih sebagian wilayah Agharta.

Alpha Centaurian

Humanoid yang memiliki ciri-ciri seperti hewan air seperti memiliki insang serta jari kaki dan tangan berselaput yang memungkinkan mereka berenang di bawah laut. Mereka berasal dari Arima yang 95 % permukaannya diliputi air, planet ketiga yang mengorbit Alpha Centauri A.

Peradaban Alpha Centaurian memiliki pengetahuan ilmiah dan teknis yang bermutu tertinggi di alam semesta. Sebagian misinya di bumi adalah membantu meningkatkan pengetahuan ilmiah, teknis dan teori. Selain itu juga menemukan cara agar pengetahuan tersebut dipahami masyarakat bumi. Berhubung Alpha Centaurian hanya menguasai teori dan sangat sulit menerapkan idenya, Sirian menjembatani kesenjangan ini. Sirian sangat cerdas dalam menerapkan ide dan membuat teori ini bermanfaat bagi masyarakat dimensi ketiga.

Altairian

Diduga spesies Reptilian yang menghuni konstelasi Aquila, di tata surya Altair. Alien yang menyenangkan, berteman dengan Nordic dan Grey, membantu mempertahankan kekuasaan Draconian dan bersekutu dengan The Ashtar Command.

Andromedan

Berasal dari galaksi Andromeda yang berjarak sekitar 150 sampai 4.000 tahun cahaya dari bumi. Mitologi Yunani menduga alien ini berhubungan dengan para dewa dari sistem bintang Cassiopeia.

Antarctican

Antarctican diduga daerah operasi rahasia manusia dan Reptilian. Sebuah sumber mengatakan ilmuwan Arya-Nazi mengembangkan pesawat ruang angkasa berbentuk cakram yang canggih, dan lambang swastika terlihat di beberapa cakram udaranya. Kemungkinan dikemudikan oleh ras Arya keturunan pirang bermata biru.

Kemungkinan sebagian besar Antarctican terdiri dari kelompok konsinyasi ras Arya keturunan pirang bermata biru yang menjadi korban obsesi Hitler untuk menciptakan ras super. Diduga mereka dikendalikan melalui manipulasi pikiran dan implan agar menjadi “manusia pemalas” yang dimanfaatkan untuk menjaga masyarakat rahasia ini berjalan dengan baik.

Sistem bawah tanah masif bersama humanoid-reptiloid bernama New Berlin terletak di bawah pegunungan Neu Schwabenland, Antarctica. Beberapa sumber mengatakan kekuatan bersama manusia-alien ini telah menyebar teror ke galaksi melalui sektor ini, menaklukkan dan melakukan kekejaman terhadap penghuni damai dunia lain.

Anunnaki

Peradaban pertama yang dikenal manusia, Sumeria, berbicara tentang dewa berkepala besar dengan tinggi tujuh kaki bernama Anunnaki. Anunnaki dikenal dengan berbagai nama seperti Annodoti di Yunani, Tuatha de Danaan di tradisi Celtic, dan Nefilim, Anak-Anak Allah atau The Watchers dalam kitab suci semetik (taurat, Talmud dan Perjanjian Lama). Para dewa tersebut memiliki monarki sendiri, dengan hukum suksesi yang mirip dengan kita. Mereka membangun sebuah imperium global di bumi dengan kota, kuil dan monumen besar serta mendirikan bangsa-bangsa kuat di beberapa benua. Pemerintahan mereka tercatat dalam sejarah peradaban Mesir, Mesopotamia dan Lembah Indus.

Lempengan Sumeria yang diterjemahkan dan dipelajari oleh Zecharia Sitchin, seorang Assyriologist amatir, menceritakan tentang alien bernama Anunnaki yang menciptakan manusia untuk bekerja sebagai budak di pertambangan mereka di Afrika. Alien tersebut berasal dari planet lain di sistem tata surya kita yang oleh ilmuwan dikenal sebagai Planet X. Oleh bangsa Sumeria planet ini dinamakan Nibiru dan dinyatakan memiliki panjang orbit elips 3600 tahun. Tidak seperti planet lain di tata surya kita, planet ini bergerak searah jarum jam. DNA kita tampaknya telah dimanipulasi di masa lalu oleh makhluk yang berlagak sebagai dewa ini. Secara khusus orang-orang Sumeria berkepala hitam diciptakan oleh Anunnaki dengan membaur esensi kehidupan manusia dan binatang buas. Binatang buas tersebut kadang-kadang digambarkan sebagai makhluk menyerupai kera. Orang-orang berkepala hitam tersebut dianggap budak dalam hirarki kasta sumeria.

Pada titik tertentu, beberapa dewa menemukan manusia perempuan paling menarik, menikahinya dan melahirkan spesies persilangan manusia dan dewa. Hal ini, tentu saja, melanggar tabu utama dalam budayanya sendiri. Beberapa keturunannya digambarkan berbentuk raksasa, naga dan monster laut sedangkan yang lainnya dilahirkan dengan wajah manusia normal, namun tanpa kulit putih berkilauan dan rentang hidup yang sangat panjang. Silsilah ini mewariskan keturunan Nuh, Ibrahim, Ishak, Yakub, Raja Daud Yesus Kristus dan lainnya, dengan kata lain Silsilah Grail (Grail Bloodline).

Setelah penambangan emas selama 150.000 tahun (450.000-300.00 SM), pekerja tambang Anunnaki Afrika Selatan memberontak. Pemberontakan ini diselesaikan melalui campur tangan saudara Anunnaki bernama Enki dan Ninharsag dengan merekayasa secara genetika kera perempuan Afrika untuk menciptakan buruh pengganti. Menurut kisah Bangsa Sumeria, setelah melewati berbagai uji coba, pekerja hasil persilangan yang layak dikembangkan. Dengan kemampuan teknologi manipulasi gen, Anunnaki menanam telur kera perempuan ke dalam gadis Anunnaki pengganti. Hasil persilangan pertama ini tidak bisa berproduksi secara seksual, tetapi di kemudian hari beberapa hasil persilangan ini pindah dari Afrika ke suatu tempat yang disebut E.DIN di Mesopotamia dan selanjutnya direkayasa untuk bisa berproduksi secara seksual. Beberapa waktu kemudian, Anunnaki (termasuk keluarga kerajaan) mulai kawin dengan manusia perempuan.

Melalui penelitian agung cendekiawan Zecharia Sitchin, kita telah mempelajari Anunnaki telah menciptakan manusia modern dengan menggabungkan gen manusia primitif yang telah ada pada waktu itu dengan manusia Neanderthal primitif.

Arcturian
Arcturian berasal dari bintang Arcturus yang berada di konstelasi Bootes, yang berjarak kira-kira 36 tahun cahaya dari bumi. Mereka memiliki peradaban paling maju di galaksi kita dengan kemampuan untuk melakukan perjalanan dimensi. Pada kenyataannya, peradaban yang dinamakan peradaban dimensi kelima (fifth dimensional civilization) tersebut seperti sebuah prototipe masa depan bumi. Energinya bekerja secara manusiawi sebagai penyembuh emosi, mental dan spiritual. Serta menjadi gerbang energi manusia ketika melewati masa kematian dan kelahiran kembali. Arcturian mengajarkan unsur kehidupan yang paling mendasar dalam dimensi kelima adalah rasa cinta. Rasa negatif, takut dan bersalah harus diatasi dan ditukar dengan cinta dan cahaya. Masyarakat mereka memiliki struktur yang sama dengan bumi dan diperintah oleh penatua yang dihormati karena pengetahuannya yang maju, kebijaksanaannya dan frekuensi getarannya yang sangat tinggi. Mereka bekerja sama secara erat dengan Ascended Masters dan Galactic Command.

Arcturian menjelajah alam semesta dengan pesawat bintang yang paling canggih dan terbaik di seluruh alam semesta. Pesawat tersebut merupakan bentuk teknologi seni terdepan dan digerakkan olek kristal yang bukan berasal dari Bumi namun galaksi Bima Sakti yang belum ditemukan oleh para ilmuwan Bumi. Salah satu pesawat bintangnya yang bernama Starship Athena mengitari Bumi.

Arcturian digambarkan, antara lain, berkulit kehijauan; bermata besar berbentuk almond dan berwarna cokelat gelap atau hitam; hanya berjari tiga; memiliki kemampuan telepati seperti sanggup memindahkan objek dengan pikiran mereka, melihat dan mendengar secara telepati; sumber makanan berasal dari cairan yang meningkatkan vitalitas tubuh; memiliki kemampuan merasakan dengan belakang kepalanya; rentang hidup rata-rata adalah 350 sampai 400 tahun bumi; bakat spiritual yang berkembang sangat tinggi memungkinkan mereka menghindari penuaan, karena mereka memiliki kemampuan melampaui ruang dan waktu; mereka mengakhiri hidup ketika kontrak yang mengatur keberadaannya selesai; dan tidak merasakan sakit.

Mereka berbasis di setiap negara di planet ini dan, kenyataannya, di seluruh alam semesta. Arcturians berada di sini untuk membantu manusia memasuki dimensi realitas keempat dan kelima serta meningkatkan frekuensi getaran. Mereka bertindak sebagai penjaga dan pelindung kesadaran yang lebih tinggi di alam semesta.

Ashtar
Ashtar diyakini komandan tinggi armada piring terbang besar bernama Ashtar Galactic Command yang beroperasi di dekat bumi dan sebagian besar diawaki oleh Venusian Nordic.

Komandan Ashtar adalah pria yang menawan dan lembut namun tegas dalam menjalankan misinya, yaitu melayani, mendidik dan melindungi umat manusia di seluruh tata surya. Dua misi utamanya adalah mendidik umat manusia secara spiritual dalam menjalani misi sejatinya di bumi serta mempertahankan dan melindungi bumi dan sistem tata surya dari kelompok makhluk angkasa luar yang jahat dan egois.  Dia bertanggung jawab atas armada luar angkasa di sistem tata surya kita. Namun, pelayanannya tidak terbatas pada sektor tersebut. Dia mewakili sistem tata surya kita dalam pertemuan dewan di galaksi dan alam semesta.

Atlan

Mato Grosso
Mereka manusia yang biasanya digambarkan sebagai makhluk baik hati dibandingkan dengan kelompok lain yang menghuni kota-kota gua di bawah tanah Brasil bagian selatan dan wilayah sekitarnya. Istilah “Atlantean” atau “Atlan” merujuk pada alien ini karena faktanya jaringan gua sepanjang pantai timur Brasil ini pernah menjadi bagian imperium kuno Atlantis.

Seperti di Amerika Utara dan benua lainnya, baik manusia biasa maupun manusia seperti kurcaci telah ditemukan di sini, beberapa di antaranya memiliki teknologi udara atau cakram canggih. Telosian diduga memiliki hubungan dengan Amerika Selatan, khususnya wilayah Matto Grosso  di mana terdapat kota bernama POSID di sistem gua bawah tanah yang luas.

Bernarian

Tidak banyak yang diketahui tentang Bernarian, penghuni sistem bintang Bernard. Bersama Orange, manusia setidaknya berperan dalam mengendalikan sistem bintang ini. Belum diketahui apakah Saurian mempunyai pengaruh di sini, namun beberapa sumber menyatakan kemungkinan kerja sama serupa terjadi dalam sistem tata surya kita.

Blue
Blue diduga makhluk angkasa luar humanoid yang berciri-ciri kulit tembus pandang, mata berbentuk almond, sangat sensitif terhadap cahaya dan bertubuh kecil. Kemungkinan mereka lemah lembut dan bersekutu dengan Nordic dan/atau “si pirang”.

Diduga keturunan nabi Nuh yang melakukan perjalanan ke belahan bumi barat setelah banjir besar dan menemukan sistem gua kuno dan teknologi kuno yang ditinggalkan di ceruk bawah tanah kuno. Sebagian besar ditemukan di sistem gua pedalaman di bawah wilayah umum Ozarks-Arkansas dan sekitarnya.

Bootean
Reptilian yang berasal dari konstelasi bintang Bootes. Mereka dan entitas Reptilian dari sistem Draconis terlibat dalam skenario Dulce dan infiltrasi-implantasi-kontrol manusia di bumi untuk mengantisipasi rencana mereka mengambil alih beberapa tempat di masa depan.

Cassiopaean

Diduga humanoid sangat cerdas dari sistem bintang Cassiopeia. Beberapa kelompok Zaman Baru telah melakukan kontak dengan alien ini melalui telekomunikasi telepati. Mereka menggambarkannya sebagai makhluk cahaya, makhluk dengan lingkaran cahaya atau makhluk yang muncul dalam bentuk energi berdimensi yang dikelilingi cahaya. Cassiopaean mengidentifikasikan dirinya sebagai “kau di masa depan” dan sebagai “makhluk cahaya berdensitas keenam”. Alien ini lebih didasarkan pada mitos daripada fakta.

Cetian atau Tau Cetian

Seperti ras Mediterania atau Amerika Selatan yang berkulit coklat. Sangat mirip dengan Kaukasia dengan sedikit perbedaan seperti telinga agak lancip, ukuran densitas fisik lebih tinggi, hidung agak lebar, tinggi rata-rata 5 '5" dan rambut pendek bergaya “Roman” atau “Crew”. Mereka berasal dari konstelasi bintang Tau Ceti yang berjarak sekitar 11,8 tahun cahaya.

Sumber menyebutkan Tau Ceti dan Epsilon Eridani bersekutu dengan Pleiadian, yang pada gilirannya bersekutu dengan Vegan, Ummite dan lain-lain. Cetian bersekutu dengan Pleiadian dan alien lainnya yang telah dikorbankan oleh predator Grey yang berhasrat membangun pertahanan umum dalam melawan musuhnya, Reptilian.

Green

Manusia berukuran normal, namun memiliki kulit berwarna hijau zaitun. Diduga berasal dari bawah tanah atau gua di bawah benua Eropa yang mereka sebut sebagai St. Martin’s Land.

Grey

Grey merupakan alien yang paling sering teridentifikasi dalam UFOlogi karena tidak hanya mengunjungi bumi dan tata surya kita, namun juga menculik orang-orang agar mereka memberikan kesaksian tentang rupa muka dan agenda mereka di bumi. Digambarkan, antara lain, sebagai makhluk humanoid kecil yang tidak berbulu dengan tinggi 1-1,25 m;  kulit berwarna mulai dari abu-abu keputihan ke abu-abu kecokelatan sampai abu-abu kebiruan; memiliki kepala lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya; memiliki sepasang mata berbentuk air mata oval yang besar, cekung dan hitam dengan belahan pupil vertikal;  tidak memiliki cuping telinga, hidung dan mulut yang terlihat; tidak ada organ seksual yang jelas; memiliki tubuh memanjang, dada kecil dan tidak memiliki otot dan struktur tulang yang terlihat; memiliki lengan kurus dan panjang sampai ke lutut, masing-masing lengan terdapat empat jari, tanpa ibu jari, di mana tiga jari lebih panjang daripada yang lainnya; dan memiliki kaki yang lebih pendek daripada manusia.

Grey berasal dari sistem bintang Zeta Reticuli 1 dan 2, sebuah sistem bintang biner yang terlihat dari belahan bumi selatan, berjarak  sekitar 38 tahun cahaya dari Bumi. Oleh karena itu, Grey kadang-kadang dikenal sebagai Zeta Reticulan.

Grey berpikir berdasarkan logika dan bertindak berdasarkan insting, di beberapa kasus secara emosional  mereka tidak sensitif terhadap manusia. Mereka memahami dan mengamati nafsu dan kasih sayang manusia tetapi tidak perasaannya. Dilaporkan Grey menggunakan cara-cara curang untuk mencapai tujuannya dan berkomunikasi secara telepati. Seperti Reptilian, mereka memandang manusia sebagai makhluk inferior.

Hav-Musuv atau Suvian

Tidak banyak diketahui tentang Hav-Musuv, yang dikenal juga dengan nama Suvian, kecuali dari legenda Indian Paihute. Hav-Musuv diduga ras laut faring kuno seperti bangsa Mesir atau Yunani yang menemukan gua-gua besar di jauh kedalaman pengunungan Panamint di California sekitar 3 sampai 5 ribu tahun lalu. Di dalamnya mereka mendirikan kota-kota besar bawah tanah.

Ketika laut pedalaman (sekarang Death Valley) yang menghubungkan samudera mengering, mereka tidak memiliki cara melakukan perdagangan dengan bagian dunia lain. Akibatnya, mereka menciptakan dan menerbangkan Elang Keperakan yang canggih seiring waktu. Kemudian mereka melakukan penjelajahan, eksplorasi dan penjajahan antar-planet dan selanjutnya antar-bintang. Kini fasilitas luar biasa ini beroperasi sebagai Major Federation (Federasi Mayor) yang berbasis di Bumi dan memiliki ruang besar dengan kondisi lingkungan, atmosfir dan gravitasi berbeda untuk mengakomodasi berbagai kunjungan Pejabat Federasi.

Hyadean

Seperti Pleiades dan Vega, Hyades berada di konstelasi Taurus yang berjarak 130 tahun cahaya dari bumi. Hyadean merupakan kelompok pengungsi perang Lyra kuno dan berciri-ciri seperti Nordic. Sedikit pengetahuan tentangnya diceritakan dari satu spesies ke spesies lain oleh orang yang telah kontak dengannya. Diyakini Hyadean menjadi spesies minoritas di galaksi ini dan berasal dari keturunan yang sama dengan umat manusia. Mereka kadang-kadang digolongkan berada di pihak kita sebagai lawan Draconian Reptil.

Hybrid (Persilangan)

Berhubung genetika manusia dan reptilian berbeda, sangat tidak mungkin menyilangkan struktur fisik di antara keduanya. Namun diduga perubahan genetika tidak wajar dengan mengawinkan  gen manusia dan reptilian telah dilakukan. Jika percobaan ini berhasil, keturunannya tidak benar-benar hybrid (setengah manusia, setengah reptilian), namun tetap menyerupai manusia atau reptilian.

Berhubung reptilian memiliki matriks tanpa jiwa namun sebaliknya mereka bekerja di tingkat kesadaran kolektif, persilangan akan menghasilkan manusia atau reptilian tergantung dari apakah mereka dilahirkan dengan atau tanpa matriks energi jiwa. Jika persilangan dilahirkan tanpa jiwa, maka mereka diumpani energi jiwa manusia sebagai upaya menanamkan matriks jiwa manusia ke dalam persilangan.

Persilangan yang memiliki matriks jiwa manusia dinamakan Hu-brid sedangkan persilangan yang tidak memiliki matriks jiwa manusia dinamakan Re-brid.

Ikel atau Satyr

Humanoid kecil berbulu dengan dengan kaki berkuku dua yang menghuni gua-gua pedalaman di bawah Amerika Selatan dan sekitarnya. Kemungkinan mereka keturunan pra-adam yang memiliki karakteristik malaikat, hewan dan humanoid. Sekarang mereka bersekutu dengan Reptilian.

Janosian

Janos merupakan planet di mana manusia pernah hidup. Diduga mereka tiba di planet tersebut ribuan tahun lalu. Di sana mereka menyimpan kenangan dan legenda yang berhubungan dengan Bumi, di mana nenek moyang mereka hidup sebelum pindah ke planet Janos. Mereka meninggalkannya berabad-abad lalu dengan pesawat pengangkut besar karena hujan asteroid atau meteor menghancurkan permukaan planet tersebut. Rupanya mereka mengingat rute bintang untuk kembali ke bumi dan laporan terkini menyatakan mereka berada di suatu orbit tinggi dekat bumi dan mencari kontak dengan pemerintah bumi untuk bertukar teknologi tempat tinggal di atas atau bawah bumi.

Korendian

Diduga hidup di suatu planet jajahan bernama Korender dan memiliki proporsi manusia yang sempurna dengan tinggi rata-rata 4-5 kaki. Robert Renaud, orang yang pernah kontak dengan Korendian, menyebutkan mereka memiliki fasilitas bawah tanah yang besar di suatu tempat di Massachusetts. Mereka mengakui bersekutu dengan Arcturian dan menjadi bagian sekutu kolektif masif dunia yang lebih bersandar pada Non-Interventionism daripada Direct Interventionism.

Lyran

Diduga menjadi nenek moyang umat manusia. Ribuan tahun lalu Lyran meninggalkan sistem bintang Lyra-Vega karena diserang oleh entitas Reptiloid dari Alpha Draconis dan melarikan diri ke Pleiades, Hyades, dan Vega yang juga termasuk sistem bintang Lyra. Kemudian mereka dikenal sebagai Pleiadian. Peradaban mereka mencapai teknologi yang amat tinggi namun runtuh karena perselisihan dan faksi dalam budayanya. Beberapa nenek moyang Lyrian dari spesies Pleiadian datang ke bumi selama periode Lemuria dan Atlantis, sekitar 75.000 SM– 11.000 SM.

Martian

H.G. Wells menggambarkan penghuni planet Mars sebagai makhluk seperti gurita; tubuhnya hanya terdiri dari satu kepala dengan matanya, mulut berbentuk v tanpa bibir, telinga yang terletak di belakang kepala dan enam belas tentakel. Martian juga memiliki otak, paru-paru, jantung dan pembuluh darah, tetapi tidak memiliki organ pencernaan. Tidak berjenis kelamin. Martian lahir dari tunas orang tuanya.

Kehidupan di mars sering dihipotesiskan, meskipun sampai saat ini belum ada bukti kuat kehidupan di sana. Beberapa ilmuwan berteori terdapat bukti berupa fosil mikroba dalam ALH84001 meteorit.

Beberapa sumber menyatakan Mars pernah dihuni oleh manusia, dan mereka melarikan diri ke bumi ketika sumber daya mengering. Menurut sumber lain, dikarenakan pergeseran kutub akibat bencana perang atau perubahan susunan planet. Dugaan ini diperoleh dari penemuan mengejutkan baru-baru ini tentang keberadaan air di bawah kutub mars serta bukti jelas adanya saluran sungai dan air dipermukan mars.

Nordic

Dikenal pula sebagai Blond, Swede, Wingmaker, Blue-Eyed, Aryan, Venusian, dan Space Brother. Nordic sering dikaitkan dengan sistem bintang Pleiades. Diberi nama Nordic karena faktanya mereka mirip ras Skandinavia.  Beberapa orang menduga mereka adalah kerabat jauh manusia yang pindah ke planet lain karena penampilan fisiknya mirip dengan manusia.

Ciri-cirinya mirip dengan manusia rata-rata kecuali agak lebih tinggi dan berat, berkulit putih (merah muda), bermata biru, berambut pirang, dan bertubuh atletis berotot. Nordic memiliki kemampuan telepati dan telekinesis. Dilaporkan Nordic mengawasi dan membantu membimbing manusia menuju taraf kehidupan yang lebih baik. Laporan lainnya menyatakan Nordic berselisih dengan Grey di masa lalu.

Orange

Mirip manusia, kecuali tingginya dan rambut tipisnya yang kuning, merah atau jingga. Sebagian besar Orange berkelompok di Nevada Selatan, New Mexico utara dan mungkin Utah.  Mereka memiliki organ reproduksi seperti manusia. Beberapa Orange memiliki koneksi ke bintang Bernard. Diduga keturunan atau hasil persilangan humanoid-reptiloid yang diubah secara genetika. Orange kadang-kadang digambarkan sebagai bentuk humanoid yang masih memiliki fitur genetika reptilian tertentu.

Orion

Digambarkan bertubuh tinggi, berambut hitam dan bermata berbentuk almond. Oleh berbagai sumber Orion digambarkan sebagai, antara lain, pribadi kejam suka berperang, penjaga langit yang mencegah Draconian kejam menyerang bumi dan penghubung alien kejam suka berperang lainnya. 

Beberapa sumber menyatakan entitas negatif berkaitan dengan beberapa bintang di konstelasi Orion. Sedangkan sumber lain menyatakan Nebula Orion adalah gerbang menuju maha luas atau alam sang pencipta, yang melampaui waktu, ruang dan materi.

Beberapa astronom menyatakan cahaya warna-warni yang terpancar dengan indah telah muncul dari nebula tersebut, meskipun dalam kecepatan lamban, cahaya atau bintang ini akan mencapai bumi sekitar tahun 3000 masehi.  Apakah ini ada hubungannya dengan nubuat dalam Wahyu: 12? Secara garis besar, nubuat Wahyu: 12 memuat perang di surga antara Mikhael dan malaikat-malaikatnya dengan naga dan malaikat-malaikatnya. Namun, naga dan malaikat-malaikatnya tidak dapat bertahan dan dilempar ke bumi. Naga tersebut dikaitkan dengan Draconian.

Peradaban Orion berkembang menjadi peradaban dengan teknologi maju meskipun masih mengalami konflik spiritual. Konflik Orion terbagi dalam dua kelompok, sisi negatif yang meyakini konsep melayani diri. Mereka yakin jika mereka melayani dirinya sendiri, keseluruhan akan terlayani. Hal ini berarti menguasai satu sama lain. Sedangkan sisi positif meyakini idealnya melayani satu sama lain.

Kelompok positif Orion yang mengunjungi bumi memberikan kekuatan mentalnya yang canggih agar pengembangan sistem organisasi di bumi berjalan lancar. Kelompok Orion ini bergetar dan bergema dengan warna kuning serta memancarkan frekuensi ini ke bumi dengan tujuan menstabilkan kekuatan intuitif dalam kesadaran manusia.

Phoenician



Menurut sumber tertentu, Imperium Phoenix diduga masyarakat bawah tanah yang mungkin sebagiannya terkait dengan sub jaringan Dulce. Belum dipastikan apakah ini imperium manusia atau reptilian, namun indikasinya menunjukkan kolaborasi. Mungkin ada hubungannya juga dengan imperium Gizeh di bawah Mesir yang didirikan oleh kolaborator Mesir kuno, yang disebut Imperium KOMOGAL-II yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok Ashtar atau Draconian.

Pleiadian

Berambut pirang dan dalam beberapa kasus berambut cokelat seperti Nordic. Pleiadian berbasis di sistem bintang Pleiades bernama Taygeta dan tinggal di planet Erra yang besarnya hampir sama dengan Bumi. Pleiadian mencatat sejarah lengkap evolusi manusia Bumi sejak menemukannya sekitar tahun 225.000 sebelum masehi.  Federasi galaksi mengizinkan Pleiadian memasuki siklus inkarnasi manusia di Bumi. Pleiadian tinggal bersama manusia di Bumi sampai tahun 10 masehi untuk membantu membangun berbagai peradaban seperti Lemuria, Maya dan Inca serta membantu membimbing manusia menuju jalan yang lebih spiritual.  Pada tahun 10 masehi, pemimpin terakhir Pleiadian meninggalkan bumi selama-lamanya karena merasa sudah waktunya manusia berkembang sendiri. Sebelum meninggalkan Bumi, Pleiadian meninggalkan pemimpin spiritual bernama Jmmanuel, yang kemudian dikenal sebagai Yesus. Jmmanuel berarti jiwa yang berkembang, ayahnya Gabriel dari sistem Pleiades dan ibunya Mary keturunan Lyran.

Deskripsi kebudayaan Pleiadian di planet Erra, antara lain, berkomunikasi secara telepati; melakukan perjalanan dengan sistem tabung; kebanyakan vegetarian, tapi kadang-kadang makan daging; rata-rata berusia 700 tahun; tidak memiliki masalah kesehatan karena mereka mengendalikan kesehatannya dengan kekuatan pikiran mereka; tidak memiliki mata uang karena seluruh barang diberikan secara gratis sesuai kontribusi mereka di masyarakat; dan pada sepuluh tahun pertama anak-anak diajari untuk memahami tujuan hidup sedangkan enam puluh sampai tujuh puluh tahun ke depan dididik untuk melakukan berbagai pekerjaan.

Pleiadian adalah alien yang berevolusi secara baik, berspiritual, rendah hati, memiliki kekerabatan dengan manusia dan satu-satunya alien yang benar-benar dipercaya oleh manusia bumi saat ini. Alien ini kemungkinan nenek moyang manusia.

Procyonian

Procyon adalah bintang biner kekuningan/putih yang bersinar di hadapan Sirius di konstelasi bintang Canis Minoris, yang berjarak sekitar 11,4 tahun cahaya dari bumi. Procyonian merupakan humanoid yang dijuluki Swedes (Swedia) memiliki ciri-ciri berambut pirang. Mereka memiliki perilaku spiritual positif yang tinggi terhadap manusia di Bumi.

Di berbagai tahap perkembangan evolusi kita, diduga Procyonian melakukan persilangan dengan manusia. Procyonian memiliki filosofi melayani satu sama lain, bukan diri sendiri. Mereka mencoba melindungi manusia dari perbuatan jahat Grey dan Reptilian. Mereka bisa menjelajah dalam waktu dan di antara dimensi realitas.  Mereka hadir di Bumi untuk membantu diri kita sendiri, untuk benar-benar menghormati pilihan bebas kita.

Raelian

Manusia yang menyamar sebagai alien ini dibentuk dalam benak guru pujaan Rael (orang-orang Clonaid, yang mengakui kebenaran kloning manusia pertama). Diduga kelompok ini menyemai dunia dengan berbagai spesies pribumi yang kini menjadi manusia seperti kita. Pada tahun 1974 Claude Vorilhon, kini dikenal sebagai Raël, mendirikan agama UFO bernama Raëlism (atau Raëlian Church). Gerakan tersebut mengajarkan secara ilmiah kehidupan di bumi diciptakan oleh makhluk luar angkasa yang dinamakan Elohim. Mereka mempercayai sepanjang zaman, para anggota peradaban elohim mengutus berbagai nabi, termasuk Musa, Yesus dan Buddha untuk membimbing manusia dan mempersiapkan manusia untuk masa depan, semuanya diciptakan sebagai hasil hubungan seksual antara seorang manusia perempuan dan salah satu Elohim.

Reptilian

Dikenal pula sebagai Reptoid, Reptiloid, Homo-Saurus, Draco, Naga, Dinosauroid, Lizardfolk, Lizardmen Saurian Draconian Alpha, dan Sauroid. Meskipun Reptilian terbagi dalam beberapa tipe, terdapat ciri-ciri fisik yang dimiliki hampir semua Reptilian. Reptilian digambarkan sebagai makhluk berukuran tinggi lima setengah sampai sembilan kaki dan bobot sampai 200 kilogram; lengan, perut, punggung dan wajah bersisik hijau seperti buaya; beberapa spesies memiliki ekor atau sayap; memiliki tubuh ramping dan berotot; memiliki dua tulang menonjol yang terletak dari arah dahinya, melintasi tengkoraknya yang miring, ke arah belakang kepalanya; memiliki lengan panjang dengan tiga jari yang lumayan panjang dan sebuah jempol yang saling berlawanan; memiliki tiga jari kaki dan satu jari keempat tersembunyi di sisi belakang pergelangan kakinya; memiliki cakar yang pendek dan tumpul; serta memiliki lubang telinga dan mata besar namun tidak memiliki puting dan pusar.

Reptilian merupakan alien yang cerdas dan canggih karena dapat berkomunikasi secara verbal dan telekinesis namun memiliki watak negatif, sikap bermusuhan dan berbahaya karena menganggap manusia inferior. Kemungkinan mereka menganggap bumi sebagai daerah jajahan kunonya dan ingin menguasainya secara penuh karena planet mereka tidak layak dihuni lagi. Konon, Grey tunduk kepadanya dan diajak untuk bekerja sama karena kemungkinan mereka memiliki agenda yang sama.

Terdapat beberapa teori berbeda tentang asal-usul Reptilian. Salah satu teori menerangkan Reptilian ada di bumi sebelum manusia dan hidup di bawah tanah, di berbagai gua di seluruh dunia, secara tersembunyi. Sedangkan, teori lainnya menerangkan Reptilian berasal dari sistem bintang Alpha Draconi pada konstelasi Orion. Diyakini Reptilian merupakan penghuni asli bumi yang diusir dari planet tersebut sebelum datangnya spesies Adamic/Evadamic yang menjadi bagian Anunnaki dan memimpin sistem bintang Draco pada ribuan tahun lalu yang akan kembali untuk mengambil alih bumi.

Reptilian dianggap telah memberikan teknologi awal yang banyak pada umat manusia, membantu membangun piramid, bekerja dengan suku Maya dan membantu memulai agama awal dengan berpura-pura menjadi tuhan dan memanipulasi kisah adam dan hawa dalam kitab suci. 

Sirian

Bintang Sirius yang dikenal sebagai Dog Star merupakan anggota konstelasi Canis Major, berjarak sekitar 8,7 tahun cahaya dari bumi. Sirius adalah pusat kelompok Ashtar, di mana berbagai tipe humanoid, Saquatch, Reptiloid, Grey, Insectoid, spesies persilangan Reptilian-Insectoid dan entitas MIB cybernetic berkolaborasi di masa lampau. Sirian mengobarkan perang dengan Imperium Orion atau sistem bintang orion, Unholy six, di konstelasi terbuka Orion. Perselisihan kuno tersebut melibatkan mereka yang akan mengabdi sebagai tuan tanah atas sektor ruang yang berisi 21 sistem bintang termasuk sistem bintang paling strategis, sistem tata surya dan khususnya planet Bumi. Beberapa kali keretakan atau perpecahan terjadi di kelompok Ashtar yang disusul dengan ditemukannya penyusupan besar-besaran ke dalam kelompok oleh agen-agen Unholy Six dan Imperium Draconian. Sebagian besar Humanoid memihak federasi sedangkan sebagian besar Reptiloid memihak Imperium Orion-Draconian.

Sirian dimensi ketiga pernah mengunjungi peradaban Mesir dan Maya di masa lampau. Mereka memberikan informasi tentang astronomi dan medis kepada bangsa Mesir serta membantu membangun piramida dan kuil di Mesir. Mereka juga membantu membangun terowongan dan jalur di pusat bumi. Bangsa Maya dan Inca juga memiliki hubungan yang sangat pribadi dengan Sirian. Ketika Atlantis mengalami bencana, mereka membantu manusia. Pada saat itu mereka juga menggabungkan manusia secara genetika.

Telosian

Penghuni jaringan jajahan kuno yang dibangun ulang di bawah permukaan bumi, berperawakan pirang dan tinggi.  Mereka berada di seluruh Amerika Barat dan berpusat di sekitar gunung Shasta di California bagian Utara. Mereka kadang-kadang disebut secara keliru sebagai Lemurian karena diyakini kota-kota gua yang ditemukan kembali dan pernah dibangun di atasnya merupakan bagian peradaban yang disebut Lemuria.

Berhubung Telosian penghuni asli bumi yang diduga memiliki kendaraan antar-bintang dan cabang bagian barat jaringan sub Agharti Internasional dan Armada Peraknya, kemungkinan mereka memiliki kontak yang tidak erat dengan Pleiadian dan kelompok-kelompok lainnya melalui ikatan leluhur kuno.

Beberapa teks veda kuno membahas tentang kerja sama antara Yunani dan India Timur dalam mengembangkan konstruksi pesawat luar angkasa bernama Vimana.
Telosian merupakan bagian tata spiritual Melchizedek yang memiliki koneksi dengan Ashtar collective-mind dan berurusan dengan makhluk angkasa luar di Arcturus, Sirius, Saturnus serta makhluk dimensi lainnya.

Tero dan Dero

Laamsa
Merupakan istilah yang menggambarkan berbagai kelompok manusia yang menghuni sistem gua dan membangun ulang kota kuno di bawah benua Amerika Utara. Tero dan Dero tinggal di bawah tanah di terowongan kota dan kadang-kadang di bawah laut. Tero lebih ramah dan menyenangkan sedangkan Dero dikendalikan unsur Reptilian dan Draconian yang ingin menguasai kekuatan ekses sehingga tidak dapat dipercaya dan dianggap maniak. Pimpinan mereka bernama Laamsa.

Tero adalah suku asli Lunarian yang datang ke planet ini untuk tinggal di bawah permukaan bumi. Mereka disebut sebagai Sunaynan yang artinya muncul setiap tahun. Tero datang dari planet Jomon yang berada konstelasi bintang Arcturus yang berada di konstelasi bintang Bootes.

Ulterran atau Ultraterrestrial

Ultraterrestrial berbeda dengan Extraterrestrials, mereka bukan berasal dari luar angkasa, melainkan dari bumi dan masih hidup berdampingan dengan manusia tiga dimensi meskipun tidak terlihat. Peradaban teknologi dan ilmiah mereka sangat maju. Teori tentang Ultraterrestrial tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Berhubung manusia menggunakan alat tiga dimensi dalam mempelajari fenomena tiga dimensi, apapun atau siapapun di luar paradigma tersebut tidak bisa diamati dan dipelajari. Oleh karena itu, Ultraterrestrial hanya teori.

Ummite

Kelompok pengungsi perang kuno Lyran yang berasal dari area umum Wolf 424 (planet Ummo), berjarak 15 tahun cahaya dari Bumi. Digambarkan memiliki ciri-ciri yang mirip dengan Nordic. Mereka dilaporkan bekerja sama dengan humanoid Vegan dan memiliki kemampuan telepati.

Mereka sangat percaya pada eksistensi jiwa dan Tuhan Pencipta. Pada usia 13,7 tahun anak-anak Ummite meninggalkan keluarganya menuju pusat pengajaran di mana mereka disiapkan untuk menghadapi kehidupan dewasa. Mereka membuat penggunaan praktis 10 dimensi realitas dan kesadaran. Salah satu alasan mereka bisa melakukan perjalanan jarak jauh dalam waktu singkat di pesawat luar angkasanya adalah mereka menggunakan lipatan dan lengkungan dalam kontinum ruangnya. Mereka memiliki basis di Bumi.

Vegan

Pengungsi perang Lyra kuno yang relatif damai dan lemah lembut. Mereka bekerja sama dengan pengungsi jajahan lainnya dan kini tinggal di Pleiades, Wolf 424 dan tempat lainnya. Sering digambarkan mirip dengan penduduk asli bangsa India.

Venusian

Venusian atau penghuni asli planet Venus dipopulerkan oleh almarhum George Adamski. Mereka sering digambarkan sebagai humanoid seperti Nordic berambut pirang.

Berhubung secara ilmiah Venus tidak kondusif untuk kehidupan, diduga entitas fisik, baik manusia maupun Reptilian, menghuni bawah permukaan Venus agar terlindung dari iklim panas ekstrim. Ada dugaan pula di atas permukaan Venus dihuni manusia penjajah dari Bumi yang mampu berfase atau mengubah struktur molekul tubuh fisiknya menjadi kehidupan 4 dimensi sehingga mereka bertahan hidup dan tidak terpengaruh oleh kondisi fisik Venus yang keras.


Also Available at: Kompasiana