Search This Blog

Loading...

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Sunday, December 19, 2010

What Diah Has Authored: Segurat Senyum

Aku menyusuri peron dari satu bangku ke bangku lain. Tiada yang tersisa. Aku bergabung dengan kerumunan dan mengedarkan pandang ke segenap penjuru.
Mataku menemukan seorang ibu memangku anaknya, dua laki-laki ditilik gerak tangan dan mimiknya kayak bersitegang, segerombolan mahasiswa membahas soal ujian, seorang tukang buah-buahan menyusun jualannya, seorang perempuan membaca buku setebal buku kuning dan seorang laki-laki memandang lekat bola mataku.
Aku langsung melengos. Bermacam kecurigaan campur aduk meyelinap ke benak. Bersyukur kereta yang ditunggu berhenti di jalur. Aku berlari kecil menghindarinya. Kereta tidak begitu padat. Para penumpang berpindah leluasa. Aku berdiri menghadap ke jendela di bawah kipas angin. Aku teringat laki-laki tadi. Mungkinkah dia di sini? Ternyata iya. Dia persis bertolak belakang denganku.
Kengerian merajai diri. Pertama kali naik kereta berkesan tidak aman. Ketiakku mengepit tas erat-erat, perlahan dan pasti. Aku mencemaskan situasi tidak diinginkan, namun nihil sampai di stasiun yang dituju. Plong aku turun.
*
Aku tidak malas beranjak dari ranjang semenjak berjumpa dengan bidadari elok itu. Kerutinan subuh dibereskan sesingkatnya, ingin buru-buru mencapai stasiun. Aku melakabkannya bidadari selayak berkah tidak terhingga yang dititipkan dari kayangan. Aku menemuinya di stasiun.
Begini ceritanya, aku sedang duduk-duduk di peron menunggu kereta datang tatkala berjalan santai seorang perempuan ayu dan anggun sewajarnya. Mataku tidak sanggup lepas darinya. Dia berdiri sebagaimana lainnya yang tidak kebagian bangku sambil melihat sekeliling. Matanya berujung di mataku, mata kami bersinggungan. Dia agak mengernyit sinis lalu menyilih tatapannya.
Pengeras suara berbicara, kereta tiba sesuai jadwal. Dia secepat kilat menghilang. Aku memburunya antar gerbong. Dia berpijak secara mengagumkan di deretan para penumpang. Bergoyang ke kiri dan ke kanan sekali-sekali hasil kecepatan kereta yang kadang bertambah kadang berkurang. Kami beradu punggung. Sering aku menoleh ke belakang untuk memahaminya. Dia turun di dua stasiun sebelumku, satu-satunya hal yang kupahami tentang dirinya.
*
Kejadian ini berlangsung setiap pagi selaku laki-laki itu penasaran akanku. Aku tidak lagi khawatir. Dia tidak mungkin berniat buruk. Jika berniat buruk, dahulu sudah melakukannya. Sorot mata bulatnya menyejukan jiwa menyebabkanku tersipu. Aku mengajun membalasnya, namun tidak kuasa. Aku hanya merunduk atau memandang jurusan lain.
Pernah kami duduk bersehadap. Dia tidak mengerti ke mana matanya mengarah. Dia memanggil tukang koran yang kebetulan melintas dan membeli surat kabar termurah. Berselubung koran yang dibabarkan, dia mencuri-curi pandang kepadaku. Aku nikmati itu. Dadaku berdebar kencang. Aku memohon ini berakhir sekaligus berlarut.
*
Perjumpaan pertama dan seterusnya selalu membekas di memori. Menatapnya merupakan momen paling mengesankan. Aku tidak pandai membuka percakapan bahkan dengan yang dikenal dan juga bukan pribadi agresif. Aku cuma sanggup menatapnya lembut penuh kasih dan sang bidadari menanggapinya:
Sementara kami duduk berdepan-depan, dihalangi lembaran koran sembunyi-sembunyi aku mengawasinya. Dia serba salah. Menunduk dan mengangkat muka sama-sama tidak enak. Untuk mengalahkan gelagapannya dia mengambil berkas-berkas dari tas. Dikebet-kebet doang, yakin tidak dibaca. Sikap antapnya terusik oleh kebesaran rasanya sendiri.
*
Lain kala dia belum tampak padahal arloji hampir menunjukkan pukul tujuh. Pertanyaan demi pertanyaan bergantian terselip di benak. Aku hanya menyimpannya di lubuk hati. Mendadak gemuruh menyesakkan merasuk dada, timbul hasrat bersua. Kangen sangat besar meneguhkan kereta yang datang meninggalkanku begitu saja. Sepuluh menit terlampaui bayangannya belum muncul, mau tidak mau aku menumpang kereta berikutnya. Sungguh hingga siang aku berkenan melalukan ulang kereta, namun sebagai staf baru aku mesti menunjukkan performa baik kepada atasan. Enggan-enggan aku menjejakkan kaki di bordes.
*
Tiga hari ke depan aku sakit dan disarankan beristirahat total selama tiga hari. Terbersit pikiran tentang sang bidadari. Tak berjumpa tiga hari? Niscaya seolah setahun. Sabtu-minggu saja bergulir lambat. Berat hati aku mengambil cuti kendati sehari, mempertimbangkan pekerjaan menumpuk. Kerinduan memuncak dan azam sembuh dari flu berbaur menjadi satu tekad untuk kembali hadir di sisinya esok.
Tiada putus aku mengangankannya lantaran berdiam di kamar seharian. Bisa-bisanya aku terpincut seorang perempuan yang belum kukenal. Aku berharap waktu berpacu kian cepat untuk sekadar menampilkan sosokku di mukanya. Aku tidak bernafsu mengerjakan apa-apa kecuali menatap jarum jam berbaling dari detik ke menit, menit ke jam.
*
Itu dia. Arteriku bersorak gembira. Dia tenang luar biasa. Aku berpura-pura tidak menyadari keberadaannya dan duduk di bangku tidak jauh darinya. Dia sudah tidak mengacuhkanku. Dia sudah tidak menganggap kehadiranku. Dugaanku keliru. Dia masih memandangku sekejap-sekejap.
Aku melewatinya sembari seakan mencari benda jatuh ke tanah. Kereta setop telat lima menit. Aku menerobos kepungan penumpang. Apak pikulan bambu pedagang merampai dengan anyir keringatnya yang menyengat penciumanku tidak kupusingkan. Melodi jes-jes dan tut-tut yang meresap di telinga menokok keriangan hatiku.
*
Aku sengaja datang awal dan berdiri meski tersedia bangku kosong untuk mengamati jelas-jelas langkahnya, kalem dan berirama. Ibarat penari mengayunkan tubuhnya yang lincah dan gemulai. Yang menghiraukannya tentu aku sendirian. Buktinya, tidak ada yang menghiraukan lenggak-lenggoknya sungguh-sungguh kecuali aku. Tentu semata-mata aku juga yang mau tahu banyak tentang dirinya. Tidak sebentar aku menantinya, sudah dua kereta berlalu. Yang dinanti akhirnya menongol. Wajah sederhananya senantiasa memukauku. Riasan wajahnya tidak mencolok, cuma pulasan bedak tipis.
Jantungku berdegup bahagia selagi mengerlingnya. Tatapanku beralih darinya, mengurangi deg-degan, tetapi sia-sia dan malah berganda. Lebih-lebih ketika dia melewati barisanku, seolah jantungku terlonjak ke ubun-ubun.
*
Aku tiba-tiba berpaling ke kanan. Intuisi mengabarkan seseorang memperhatikanku. Benar. Dia kembali memandangku. Kami diselingi dua perempuan. Mata kami bertaut sesaat. Bibirnya mengumbar senyum kincup, namun kentara. Aku ragu menimpalinya. Siapa tahu bukan untukku. Alhasil, terceplos senyum maluku diruntun anggukan lemah. Aku bermaksud mendekatinya untuk bertegur sapa. Sayang, stasiun yang dituju hampir sampai. Aku justru menjauhinya.
*
Kami lagi-lagi satu gerbong. Lama aku menatapnya dan tidak pernah jemu. Dia belum ngeh, kemudian seperti tersihir dia menoleh kepadaku. Mata kami bersatu diiringi deru menaklukkan debu. Aku berinisiatif memulai tindakan mumpung dia menengok. Aku refleks tersenyum. Seketika aku menyandang predikat laki-laki terkonyol sedunia, tetapi melayang segera setelah dia menyusulnya. Senyumnya tulus. Ini asal segalanya. Diantar sebuah senyum, sang bidadari menyambutku. Kami bakal beromong-omong kelak. Dia sudah turun di stasiun yang dituju.
Di balik jendela aku mengamatinya. Senyum masih mengulas di bibir mungilnya sambil matanya melirik kereta melaju.

No comments:

Post a Comment