Search This Blog

Loading...

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Thursday, March 28, 2013

What Diah Has Mini-Researched: Tentang Kejang Demam

Shutterstock.com

Kejang demam atau dalam bahasa Inggris disebut febrile seizures (febrile convulsions) terjadi pada anak-anak berusia 6 bulan sampai 6 tahun. Patofisiologi kejang demam masih terus dipelajari. Beberapa peneliti menduga bahwa proses biologis terkait suhu tubuh tinggi mungkin menjadi penyebabnya. Suhu tubuh tinggi diduga disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus yang menstimulasi pelepasan sitokin. Sitokin adalah protein yang mempengaruhi bagian-bagian sistem otak dan saraf yang bertanggung jawab mengatur suhu tubuh. Pada orang-orang tertentu, tingginya tingkat sitokin mungkin ‘mengacaukan’ kerja otak dan sistem saraf sementara waktu dan memicu kejang.

Penyebab kejang demam belum diketahui, meskipun kondisi ini menurun dalam beberapa keluarga. Sekitar 1 dari 4 anak yang mengalami kejang demam memiliki riwayat keluarga akan kondisi tersebut. Jika salah satu orang tua mengalami kejang demam semasa kecil, maka resiko bagi anak meningkat 10-20 persen. Jika kedua orang tua dan anaknya  mengalami kejang demam, resiko bagi anak lainnya meningkat 20-30 persen. Fakta bahwa kejang demam menurun dalam keluarga kemungkinan disebabkan satu atau lebih mutasi genetika yang diwarisi dari orang tuanya, yang membuat mereka lebih rentan terhadap kejang. Mutasi genetika terjadi ketika instruksi normal yang dibawa gen tertentu menjadi ‘kacau’. Artinya bahwa beberapa proses tubuh tidak bekerja secara normal.

Selain faktor riwayat keluarga, resiko kejang demam meningkat jika, antara lain,  si ibu merokok dan meminum alkohol selama masa kehamilan, vaksinasi anak dan si anak terjangkit infeksi seperti infeksi virus, infeksi telinga tengah dan tonsil.

Kejang deman dibagi menjadi 2 tipe, yaitu:
a.    Kejang demam sederhana
Kejang demam sederhana merupakan tipe yang paling umum, berlangsung tidak lebih dari 15 menit dan tidak kambuh dalam 24 jam atau dalam jangka waktu si anak sakit.  Biasanya, si anak kehilangan kesadaran, tubuhnya kaku, kejang atau kedutan berirama pada lengan atau kaki. Setelah kejang, si anak mungkin akan mengantuk namun tidak memiliki kelemahan pada lengan dan kaki.
b.    Kejang demam kompleks
Berlangsung lebih dari 15 menit dan lebih dari sekali dalam 24 jam. Si anak tidak benar-benar pulih dari kejang dalam waktu 1 jam. Setelah kejang, si anak mungkin mengalami kelemahan sementara pada lengan dan kaki. Kejang demam ini berdampak pada sebagian tubuh saja. Misalnya, hanya satu lengan atau satu kaki yang bergetar.

Obat resep jarang digunakan untuk mencegah kejang demam. Namun, dokter kadang-kadang memberikan obat antikonvulsan untuk mencegah si anak mengalami kejang demam lagi seperti fenobarbital, asam valproik dan sodium divalproex.  Beberapa antikonvulsan mungkin bisa mengatasinya, tetapi biasanya tidak dianjurkan karena mengakibatkan efek samping  seperti hiperaktif, kelelahan, mudah terkejut (iritabilitas), serta gangguan bicara, gerak dan tidur.