Search This Blog

Loading...

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Thursday, December 31, 2015

What Diah Has Mini-Researched: Hikmah Spiritualitas di Balik Disabilitas



Dari segi spiritualitas, beberapa penyandang disabilitas, bahkan non-penyandang disabilitas, mengajukan berbagai pertanyaan seputar esensi disabilitas.  Mereka bertanya-tanya dalam hati: Kenapa Tuhan harus mengadakan disabilitas? Kenapa Tuhan yang baik membiarkan umat-Nya menderita? Apa salahku? Kenapa Aku pantas menyandang disabilitas? Apa makna disabilitas di balik pernyataan bahwa manusia ciptaan yang paling sempurna? Pertanyaan-pertanyaan gugatan tersebut terbenam dalam benak mereka sehingga menimbulkan pergumulan batin berupa konflik dan ketegangan dengan diri sendiri, sesama atau ilahi. Mengalami pergumulan batin bukan berarti kurangnya iman atau ketidakdewasaan spiritual, tetapi merupakan proses perkembangan spiritual yang alami dan wajar.

Tidak hanya faktor lingkungan, ajaran, dan kepercayaan yang menghasilkan keanekaragaman hikmah disabilitas, melainkan juga pengalaman disabilitas yang unik dari masing-masing individu. Beberapa orang memandang karma sebagai akar penyebab disabilitas. Penyandang disabilitas mendapatkan karma atas kesalahan yang pernah dilakukannya di kehidupan lampau, oleh karena itu perhatian khusus tidak diperlukan. Manusia harus menderita bersama disabilitas untuk mencapai karma yang lebih baik di kehidupan mendatang.

Banyak yang menentang pandangan ini. Bagi yang menentangnya, disabilitas bukan merupakan akibat dari karma buruk.  Setiap kehidupan yang dijalani terpisah dari keseluruhan kehidupan itu tersendiri. Manusia lahir tidak membawa karma dari kehidupan sebelumnya. Dilahirkan dengan disabilitas bukanlah hukuman dan manusia dilahirkan tidak untuk menderita. Sebelum inkarnasi, manusia merencanakan kehidupan yang akan dijalani, termasuk tantangan dan rintangan yang dihadapi. Sebagian besar manusia memilih dilahirkan sebagai penyandang disabilitas.

Lainnya mengaitkan disabilitas dengan dosa. Penyandang disabilitas dianggap sebagai penanggung dosa bapak dan ibunya atau yang bersangkutan. Akibatnya stigma negatif melekat tidak hanya pada penyandang disabilitas, melainkan juga seluruh anggota keluarganya. Keluarga mengucilkan penyandang disabilitas dengan cara tidak menyekolahkannya dan tidak memberinya kesempatan memiliki peran berarti dalam masyarakat.

Selain itu, pandangan bahwa disabilitas merupakan cobaan dari ilahi yang harus diterima dengan pasrah masih melekat si masyarakat. Terbentuk pola pikir dalam diri penyandang disabilitas bahwa disabilitas termasuk stigma dan keterbatasannya merupakan takdir ilahi yang harus diterima dengan lapang dada. Hal ini mengakibatkan penyandang disabilitas tidak berupaya merehabilitasi dirinya dan meningkatkan potensi diri sendiri karena cenderung menerima nasib.

Terakhir, ada yang memandang disabilitas disebabkan oleh kerasukan setan. Satu-satunya cara untuk “menyembuhkan” adalah dengan melakukan pengusiran setan. Proses pengusiran setan kadang-kadang sangat kejam dan menyebabkan cedera lebih lanjut, bahkan kematian.

Pandangan-pandangan negatif tentang disabilitas tersebut di atas mengakibatkan penyandang disabilitas tidak termotivasi untuk berkarya dan akhirnya hanya menjadi beban keluarga. Masyarakat pun tidak memberikan kesempatan setara kepada penyandang disabilitas untuk berpartisipasi di berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, buang jauh-jauh pandangan-pandangan negatif tersebut. Mempertanyakan keberadaan disabilitas boleh-boleh saja, tetapi tidak seharusnya manusia berpendapat bahwa Tuhan atau setan bertanggung jawab atas disabilitas seseorang.

Memandang disabilitas sebagai aspek keanekaragaman umat manusia, sama halnya dengan ras, suku, adat istiadat, jenis kelamin, umur, status sosial, keyakinan politik dan ideologi, merupakan bentuk penerimaan dan rasa hormat kepada penyandang disabilitas. Pandangan ini merupakan pandangan yang membangun, positif dan sehat baik untuk penyandang disabilitas maupun non-penyandang disabilitas.

Aspek keanekaragaman umat manusia memungkinkan manusia merekonstruksi spiritualitas tentang disabilitas tidak berdasarkan teori kekurangan. Selama disabilitas dianggap sebagai sesuatu yang kurang, keterlibatan penyandang disabilitas akan selalu diabaikan dan dikecualikan di dunia ini. Padahal, keberadaan penyandang disabilitas membuat manusia bertoleransi satu sama lain serta menambah warna-warni kehidupan.

Lebih lanjut, pandangan spiritualitas tentang disabilitas tersebut pada dasarnya memperluas pemahaman kemanusiaan itu sendiri dengan meruntuhkan kekuasaan dunia yang mutlak dan menolak kemanusiaan eksklusif yang hanya dimiliki oleh kaum mayoritas. Setiap manusia tetap mempertahankan sifat-sifat individu yang sejati di dunia disabilitas. Melalui cara ini, kemanusiaan diperkaya melalui keanekaragaman.

Tidak hanya itu. Disabilitas mengajarkan manusia untuk menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan, berupa pengorbanan cinta, welas asih, perawatan penuh kesabaran dan ketekunan yang diberikan oleh keluarga, teman dan pelaku rawat kepada penyandang disabilitas. Melakukan perbuatan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan secara ikhlas merupakan amal kebajikan yang mencerminkan ibadah kepada Ilahi.

Dengan demikian, alih-alih mencari jawaban atau menyalahkan disabilitas, melanjutkan hidup dengan mengembangkan anugerah dan bakat yang dimiliki merupakan cara terbaik penyandang disabilitas berdamai dengan disabilitasnya. Dalam hal ini, spiritualitas apapun yang dijunjung berperan penting mengegolkan ikhtiar tersebut. Spiritualitas membantu manusia menemukan makna hidup dengan menghargai dan mencintai sesama. Bagi penyandang disabilitas sendiri, spiritualitas memberikan ketentraman batin pada saat putus asa dan terkucilkan.