Search This Blog

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Sunday, August 1, 2010

What Diah Has Mini Researched: Dari 'Handicap' sampai Narahandaya: Menyelisik Serba-Serbi Terminologi “cacat”

Membatasi pengertian “cacat” tidak lepas dari manusia dan kemanusiaan. Terminologi “cacat” diperhalus dari masa ke masa untuk menghargai dan memajukan martabat dan hak asasi penyandang cacat yang pada dasarnya setara dengan orang-orang lain. Di bawah ini dijabarkan berbagai terminologi “cacat” untuk memahami lebih lanjut bahwa menyandang cacat bukan suatu aib atau tercela melainkan layak menjadi manusia sepenuhnya:

1. Handicap

Beberapa sumber menyatakan bahwa terminologi handicap muncul pada tahun 1504, ketika Raja Henry VII dari Inggris melihat kenyataan bahwa setelah perang banyak veteran cacat tidak memiliki pekerjaan dan berkontribusi kepada masyarakat. Dia mengizinkan para veteran cacat mengemis di jalan raya Inggris. Dengan topi di tangan (cap in hand) sebagai penadah, jadilah para veteran cacat itu peminta-minta uang.

Asal-usul kata tersebut tidak tepat sama sekali. Terminologi handicap berasal dari sebuah permainan taruhan dari tahun 1600-an yang dimainkan oleh dua pemain dan wasit. Permainan dimulai ketika salah satu pemain menawarkan benda miliknya kepada pemain lain. Setiap pemain memasukkan uang ke dalam sebuah topi, dimana kepemilikan uang tersebut ditentukan oleh hasil permainan. Wasit menentukan dan menaksir perbedaan nilai harga benda-benda tersebut untuk menyetarakan transaksi. Pemain yang menawarkan benda dengan harga yang lebih rendah juga harus membayar sejumlah uang yang ditetapkan wasit.

Di akhir permainan, para pemain memutuskan apakah ingin melanjutkan permainan atau tidak. Jika mereka menyetujui permainan dilanjutkan, wasit mengambil uang tersebut dan pertukaran barang terjadi. Jika mereka tidak menyetujui permainan dilanjutkan, wasit juga mengambil uang tersebut dan pertukaran barang tidak terjadi. Jika salah satu pemain menyetujui permainan dilanjutkan, dia mengambil uang tersebut meskipun pertukaran barang tidak terjadi

Penggunaan terminologi handicap yang berkaitan dengan “cacat” muncul pada tahun 1915, di mana kata tersebut digunakan untuk mengambarkan anak-anak yang memiliki cacat fisik, kemudian pada tahun 1950-an meluas meliputi juga orang dewasa dan cacat mental.

Kebanyakan penyandang cacat tidak menyukai terminologi handicap digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena cenderung mengambarkan citra pengemis, meskipun itu sesungguhnya bukan asal usul terminologi yang tepat.

2. Disability (Disabilitas)

Akhir-akhir ini terminologi disability menggantikan terminologi handicap yang dianggap lebih kasar dan tidak menyenangkan untuk didengar. Disability adalah setiap kondisi yang menghambat individu menyelesaian tugas sehari-hari atau mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan metode tradisional. Terminologi ini sering mengacu kepada fungsi individu, termasuk kelainan fisik, kelainan indera, kelainan kognitif, dan kelainan mental.

Pada tahun 1980, Organisasi Kesehatan Dunia menerbitkan dokumen International Classification of Impairments, Disabilities and Handicaps. Dokumen tersebut menyatakan bahwa kecacatan memiliki 3 aspek yaitu impairment, disability dan handicap. Impairment adalah kondisi hilangnya atau ketakabnormalan struktur atau fungsi psikologis, fisiologis, atau anatomis. Impairment lebih berkaitan dengan masalah struktur dan fungsi tubuh. Disability adalah suatu kondisi keterbatasan atau kurangnya kemampuan sebagai akibat dari suatu impairment untuk melakukan suatu kegiatan dengan cara yang dianggap normal bagi manusia. Sedangkan handicap merupakan kondisi yang merugikan sebagai akibat dari impairment dan disability yang membatasi individu tertentu menjalankan peran normalnya, tergantung pada faktor usia, jenis kelamin, sosial dan budaya. Handicap berkaitan dengan masalah partisipasi yang dihadapi oleh individu dalam kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan terminologi tersebut, impairment memiliki aspek permanen, disability tergantung pada kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu sedangkan handicap merupakan kerugian yang dihadapi individu dalam menjalin hubungan dengan individu lain. Satu jenis impairment bisa menyebabkan lebih dari dua disability dan mencakup banyak handicap. Begitu pula, handicap tertentu bisa berhubungan dengan beberapa disability yang berasal dari satu atau lebih impairment. Dengan demikian, kecacatan merupakan fenomena kompleks yang mengambarkan kondisi tubuh seseorang dengan masyarakat di mana mereka tinggal.

3. Differently abled

Differently abled berarti manusia yang memiliki kemampuan yang berbeda. Differently abled yang diakronimkan mejadi diffabled dan dialihbahasakan menjadi difabel merupakan bentuk eufemisme dari “cacat”. Terminologi difabel diciptakan oleh Komite Nasional Partai Demokrat AS pada awal tahun 1980-an sebagai terminologi yang lebih diterima daripada handicapped (atau disabled di Inggris). Difabel menekankan pada kenyataan pada sesungguhnya penyandang cacat mampu menyelesaikan tugas tertentu atau menjalankan fungsi tertentu tetapi dengan cara yang berbeda atau membutuhkan waktu dan usaha yang lebih dibandingkan dengan orang-orang lain.

Motivasi penggunaan terminologi difabel adalah agar masyarakat umum mengarisbawahi lebih banyak aspek positif dari tantangan yang dihadapi para penyandang cacat dibandingkan aspek negatif dari ketidakmampuan dalam menjalankan kegiatannya. Berdasarkan terminologi tersebut, pada hakikinya setiap orang adalah difabel karena setiap orang mampu menjalankan kegiatannya, hanya sebagian orang menjalankannya dengan cara dan waktu yang berbeda.

4. Ketunaan

Kata “tuna” berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti rusak atau rugi. Penyandang ketunaan diciptakan pertama kali oleh Didi Tarsidi, dosen Universitas Pendidikan Indonesia. Dia menyampaikan bahwa penyandang ketunaan adalah frase yang tepat untuk menerjemahkan persons with disabilities karena frase tersebut menggambarkan keadaan yang sesungguhnya yaitu kerusakan, kekurangan atau kerugian tetapi tidak merendahkan martabat. Di samping itu, kata “tuna” merupakan bahasa Indonesia sudah dikenal oleh masyarakat luas.

5. Cacat Menurut UU No. 4 Tahun 1997

Indonesia mengatur hal-hal berkaitan dengan cacat/kecacatan dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Menurut pasal 1 ayat (1) undang-undang tersebut, penyandang cacat adalah adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental serta penyandang cacat fisik dan mental.

Definisi tersebut mendapat kecaman dan kritik keras dari berbagai pihak karena memiliki arti sempit yang bernuansa negatif dan mengarah kepada diskriminasi. Penggunaan frase penyandang cacat menjadikan seseorang yang tidak mampu karena kondisi kecacatannya sebagai kaum termarjinalisasi karena kebijakan yang diambil pemerintah selalu menempatkan penyandang cacat sebagai obyek dan tidak terprioritaskan. Oleh karena itu, frase penyandang cacat perlu diganti dengan frase lain yang mengandung nilai filosofis dan lebih konstruktif serta sejalan dengan prinsip-prinsip utama hak asasi manusia.

Semiloka Terminologi Penyandang Cacat Dalam Rangka Mendorong Ratifikasi Konvensi Internasional Hak-Hak Penyandang Cacat yang diselenggarakan di Cibinong pada tanggal 8-9 Januari 2009 telah berhasil mengumpulkan terminologi pengganti penyandang cacat. Terminologi baru tersebut antara lain orang berkemampuan khusus, difabel, insan spesial, penyandang ketunaan, orang dengan kemampuan beda, diferensia, orang dengan tantangan istimewa, orang berkebutuhan khusus, penyandang identitas, dan narahandaya.

Sebagai kelanjutan semiloka tersebut, pada tanggal 19-20 Maret 2010 diadakan focus group discussion terbatas yang hanya dihadiri para pakar dari berbagai bidang ilmu. Focus group discussion tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa penyandang disabilitas merupakan terjemahan yang tepat untuk persons with disability.

Terminologi penyandang disabilitas dikukuhkan kembali dalam pertemuan Penyusunan Bahan Ratifikasi Konvensi Internasional Tentang Hak-Hak Penyandang Cacat yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 29 Maret-1 April 2010. Kesimpulan pertemuan tersebut antara lain bahwa para peserta sepakat mengganti istilah penyandang cacat dengan penyandang disabilitas karena istilah penyandang disabilitas mempunyai arti yang lebih luas dan mengandung nilai-nilai inklusif yang sesuai dengan jiwa dan semangat reformasi hukum di Indonesia, dan sejalan dengan substansi Convention on the Rights of Persons with Disabilities.

Dalam pertemuan tersebut para pihak juga menyepakati agar semua pihak, termasuk pemerintah, lembaga, media massa dan masyarakat luas mensosialisasikan terminologi penyandang disabilitas sebagai pengganti terminologi penyandang cacat. Dan yang terpokok, pertemuan tersebut merekomendasikan pemerintah dan DPR segera meratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities dengan menggunakan istilah penyandang disabilitas untuk menerjemahkan frase persons with disabilities.



Sumber: Dari Berbagai Sumber

Also Available at: Kompasiana

Saturday, July 31, 2010

What Diah Has Mini-Researched: Histamin, Penyebab Gatal-Gatal Karena Alergi

Belakangan ini aktivitas sehari-hari saya terganggu karena menderita gatal-gatal. Tubuh saya dipenuhi bentol-bentol kemerahan karena alergi.


Alergi merupakan suatu reaksi abnormal yang terjadi di tubuh akibat masuknya suatu zat asing. Zat asing yang dinamakan alergen tersebut masuk ke dalam tubuh melalui saluran nafas (inhalan) seperti debu, tungau, serbuk bunga, dan debu. Alergen juga dapat masuk melalui saluran percernaan (ingestan) seperti susu, telur, kacang-kacangan dan seafood. Di samping itu juga dikenal alergen kontaktan yang menempel pada kulit seperti komestik dan perhiasan.

Saat alergen masuk ke dalam tubuh, sistem imunitas atau kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan dengan membuat antibodi yang disebut Imunoglobulin E. Imunoglobulin E tersebut kemudian menempel pada sel mast. Pada tahap berikutnya, alergen akan mengikat Imunoglobulin E yang sudah menempel pada sel mast. Ikatan tersebut memicu pelepasan senyawa Histamin dalam darah. Peningkatan Histamin menstimulasi rasa gatal melalui mediasi ujung saraf sensorik. Senyawa Histamin yang teramat banyak juga bisa disebabkan oleh stress dan depresi.

Pengobatan gatal-gatal karena alergi dilakukan dengan jalan pemberian obat antihistamin yang banyak dijual secara bebas. Efek samping dari pemakaian obat itu yang saya rasakan adalah mengantuk dan mulut kering. Selain itu, obat antihistamin juga memiliki efek samping linglung, pusing, sembelit, sulit berkemih dan penglihatan kabur, namun jarang ada penderita yang mengalami hal tersebut. Dewasa ini terdapat obat antihistamin generasi terbaru yang tidak berefek sedatif (mengantuk) dan beraksi lebih lama, namun harganya lebih mahal dan harus ditebus dengan resep dokter.

Sesungguhnya pemakaian obat antihistamin hanya menghilangkan gejala alergi dan menghindari serangan yang lebih besar di masa mendatang, tidak menyembuhkan alergi. Jika penderita kontak lagi dengan alergen, maka alergi akan muncul kembali. Oleh karena itu, yang terbaik untuk mengatasi alergi adalah dengan menghindari kontak dengan alergen, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta menjauhi stress.


Also Available at: Kompasiana

What Diah Has Shared: Facilitator for TOT on Disability and Gender - Handicap International

Handicap International is a non-profit making association, governed by the French law of 1st July 1901, founded on 19 July 1982 and recognized as being of public utility, based at "ERAC, 14 Avenue Berthelot, 69361 Lyon cedex 07 France. Handicap International has been present in Indonesia since January 2005, when it coordinated an emergency response to the needs of Aceh tsunami victims.
Currently, Handicap International is developing advocacy program on the rights of Persons with disabilities (PwDs) in Java and Eastern Indonesia .

An Overview of Disability Rights Project
This project seeks to empower grassroots Disabled Peoples’ Organizations (DPOs) with the knowledge, attitudes and practices to advocate for their rights at a local and national level, which targeted a wide audience from government officials, international agencies and semi-governmental entities, to civil society organizations that are not disability focused.
This project will also involve a national component on awareness raising and promotion of the UN CRPD and working with national level DPO Federations.
In accordance with this objective of the project and result from project mid term evaluation, Handicap International will provide capacity building activities which aim to develop DPO’s and the members’ capacity. The capacity building process will be based from assessment we had with DPOs, in line with general objectives of DR project.
One of emerging topic during our assessment with SAPDA foundation (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak-one of DPO in Yogyakarta ) is to develop capacity and skill of facilitators and counselors on specific issues (gender, domestic violence and health reproduction)
Currently SAPDA is working with and to survivor women from Yogyakarta earthquake and having some facilitators and local counselors in community level, nevertheless their capacity in providing and supporting counseling still needs to be improved as their confidence and self esteem in delivering facilitation to survivors.

Training objective
Increase 20 DPO’s members and fieldworker facilitation and counceling skills in specific topics: gender, domestic violence and health repoduction of persons with disability
Training of trainer for their staffs and facilitators and local counselors will answer the above needs.

Training Output
• Train participants on Gender Awareness issues particularly for PwDs Communities.
• Train participants on Domestic Violance Awareness issues especially for PwDs Communities.
• Train participants on Health Reproduction Awareness issues especially for PwDs Communities.
• Develop participants’ capacity as Facilitators and Counsellor with PwDs Communities.
• Identifying and defining advocacy actions for the respect of PwDs rights, especially with Gender, Violence and Health Reproduction

Training tools & sessions
1. Handicap International material
    The following training material will be put at disposition of the facilitator( s) and participants:
    • UN Convention on Discrimination against Women and the national legislation regarding Women’s rights (CEDAW)
    • Advo Kit – Handicap International (including the UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities)
   • Disabilty Ettiquette
2. Topics of the Training
    The facilitator(s) will deliver these topics:
    • Rights of Person with Disability
    • Rights of Women
    • Gender and Disability
    • Domestic Violence
    • Health Reproduction
    • Facilitation and Counseling skills
    • Building relation and Communicating to Survivor
    • Specific needs of Women with Disability

Training methods and Approaches
Facilitators will use participative and andragogy education approaches to participants.

Time and location
Duration of the training maximum 5 days and will be in Yogyakarta (or near Yogyakarta), and planned conducted in 23-26 of August 2010.

Participants
The participants will be staffs, facilitators and councelors of SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak). Total number of participants: 20 participants.

Facilitator( s)
Expected facilitator( s) with following capacity:
• Persons or institution that can provide professional training on specific topics as mentioned above to   persons with disabilities
• Persons or institution capable in providing professional training on Participatory Training of Trainers methods.
• Ability to adapt techniques, trainings and tools to the needs of PwDs

Regarding the specific issues concerning disability, Handicap International Project staff could give its support and accompany the trainer to design the training.

Person with Disabilities candidates are encouraged to apply.

Contact persons
Proposal /Quotation should be submitted before 6 August 2010 to Anton: hiindo_logast@ yahoo.fr

Saturday, July 24, 2010

What Diah Has Translated: Disabilitas & Masa Victorian: Mengemukakan Warisan

Leeds Centre for Victorian Studies
Disabilitas & Masa Victorian: Mengemukakan Warisan
30 Juli - 1 Agustus 2012
Leeds Trinity University College
Pengumuman dan Seruan untuk Menulis Makalah Pertama

 
Abad kesembilan belas adalah masa di mana disabiltas dikonsepkan, dikategorikan dan didefinisikan. Revolusi industri, kemajuan di bidang kedokteran, kemunculan filantropi dan perkembangan panti memainkan peranannya dalam menciptakan apa yang kini masyarakat gambarkan sebagai model medis disabiltas.
 
Disabilitas bisa ditelusuri melalui berbagai bentuk: dalam budaya materi dan gaya sastra; penelitian ilmiah, medis dan resmi; seni; arsitektur; sejarah badan amal disabilitas; pengalaman-pengalaman penyandang disabilitas, warisan yang diwariskan oleh penyandang disabilitas yang kini berupa phrenology dan physiognomy; peristiwa-peristiwa seperti Konferensi Milan 1880, dan taksonomi dan kategori-kategori disabilitas – cacat; tuna rungu dan bodoh; lemah pikiran; tuna netra; imbisil dan kretin. Warisan hubungan antara teks inti, ilmiah dan sastra; titik temu disabilitas; teori-teori evolusi dan Antroplogi; gender dan degenerasi. Bagaimana kami menyetarakan suara dan kesaksian penyandang disabilitas bersama untuk membangun “pandangan lama”? Apa keuntungan-keuntungan dan tantangan-tantangan mengajar tentang disabilitas dan penyandang disabilitas pada masa Victorian?
 
Proposal untuk makalah-makalah, panel-panel, poster-poster dan berbagai bentuk presentasi (misalnya tulisan kreatif) yang membuka jalur baru penelitian dan penyelidikan yang berkaitan dengan berbagai aspek disabilitas pada masa Victorian dujikan. Tema mungkin meliputi:
• Resistansi, konformitas, subversi, transgresi.
• Pertunjukan orang aneh dan sirkus.
• Hal-hal yang terlihat dan tidak terlihat dari disabilitas: pengemis, pedagang kaki lima, pedagang asongan; institusi, badan amal, panti, sekolah dan perkumpulan Victorian.
• Praktek Taksonomi.
• Pahlawan dan penjahat penyandang disabilitas; invalidisme laki-laki vs. perempuan; “the school of pain.”
• Teknologi Victorian, prostesis, kemunculan audiologi, perkembangan dan penyebaran huruf Braille.
• Kebangkitan cerita rakyat changeling.
• Gambaran anak-anak dan masa anak-anak.
• Disabilitas sebagai kekuatan moral untuk perbaikan, teologi dan pencerahan/peningkatan spiritual.
• Pembentukan identitas nasional Victorian dan efisiensi nasional, kerajaan, ‘ras’ dan kolonialisme.
• Disabilitas dan rasa takut kehilangan, eugenika dan degenerasi.
• Teks medis dan ilmiah.
• Kebijakan sosial Victorian dan kerangka hukum

Mereka yang terlibat di bidang disabilitas, baik melalui kerja, mengajar atau pengalaman langsung, dan makalah-makalah yang memakai kerangka perbandingan, pergeseran lintasan batas-batas normal sejarah, studi sastra, sejarah medis, sejarah dan ilmu filsafat, sejarah seni, dll diutamakan, tetapi studi penelitian dengan fokus sempit untuk menguji warisan Victorian di bidang ini juga diterima.
 
Batas waktu pengajuan proposal untuk sesi panel (tidak lebih dari 500 kata) dan proposal untuk individu 20 catatan makalah dan presentasi (200-250 kata) adalah 4 Oktober 2010. Di tahap ini proposal/penelitian anda diuji. Seruan untuk menulis makalah kedua dan terakhir akan diterbitkan di bulan Juni 2011.
 
Mohon kirimkan catatan biografi singkat bersama dengan proposal anda. Calon penyelenggara panel juga mengirimkan nama-nama panelis, judul makalah dan catatan biografi singkat untuk masing-masing panelis dan rincian informasi yang bisa dihubungi.
 
Asisten dan wali dibebaskan dari biaya registrasi konferensi. Makalah akan diedarkan sebelum konferensi. Mohon beritahukan sebelum Juli 2011 jika anda ingin LCVS menyediakan penerjemah bahasa isyarat. Mohon beritahukan sebelum April 2012 jika anda ingin LCVS menyediakan pedamping atau asisten. Semua asisten diterima. Jika Anda memiliki pertanyaan yang berhubungan dengan fasilitas-fasilitas dan pelayanan-pelayanan bagi penyandang disabilitas, atau menginginkan seruan untuk menulis makalah ini dicetak dalam ukuran besar, mohon hubungi Joy Hamblin.
 
Makalah dan pertanyaan yang berkaitan dengan ini, dikirim ke Karen Sayer k.sayer@leedstrinity.ac.ukmailto:k.sayer@leedstrinity.ac.uk
 
Pertanyaan umum ke: Karen Sayer, Senior Lecturer in History, Leeds Centre for Victorian Studies, Leeds Trinity University College, Brownberrie Lane, Leeds, LS18 5HD; e-mail k.sayer@leedstrinity.ac.uk; tel. 01132837212 Or, Joy Hamblin, Leeds Centre for Victorian Studies, Leeds Trinity University College, Brownberrie Lane, Leeds, LS18 5HD j.hamblin@leedstrinity.ac.uk; tel. 0113 2837305.

What Diah Has Shared: Disability & the Victorians: Confronting Legacies

Leeds Centre for Victorian Studies
Disability & the Victorians: Confronting Legacies
30 July - 1 August 2012
Leeds Trinity University College
Announcement and First Call for Paper

 
The nineteenth century was the period during which disability was conceptualised, categorised, and defined. The industrial revolution, advances in medicine, the emergence of philanthropy and the growth of asylums all played their part in creating what today's society describes as the medical model of disability.
 
Disability can be traced through many forms: in material culture and literary genres; scientific, medical and official inquiries; art; architecture; the history of disabled charities; disabled people's experiences; the legacy inherited by disabled people today of phrenology and physiognomy; events such as the 1880 Milan Conference, and the taxonomies and categories of disability - the handicapped; the deaf and dumb; the feeble minded; the blind; the imbecile and the cretin. The legacy of the relationship between the body, the scientific and the literary text; the intersection of disability, theories of evolution and anthropology, gender and degeneration. How can we draw disabled voices and testimonies together to construct 'the long view'? What are the advantages and the challenges of teaching about disability and the disabled in the Victorian period?
 
Proposals for papers, panels, posters and other forms of presentation (e.g. creative writing) are invited that open up new lines of research and inquiry relating to any aspect of Disability in the Victorian period. Possible themes might include:
• Resistance, conformity, subversion, transgression.
• Freak shows and circuses.
• The visibility and invisibility of disability: beggars, street sellers, hawkers; Victorian institutions, charities, asylums, schools and clubs.
• Taxonomic practices.
• Disabled heroes and villains; male vs. female invalidism; the school of pain.
• Victorian technologies, prostheses, the emergence of audiology, the development and spread of Braille.
• The revival of folkloric changelings.
• Portrayals of children and childhood.
• Disability as a moral force for improvement, theology and spiritual enlightenment/development.
• The formation of Victorian national identity and national efficiency, empire, 'race' and colonialism.
• Disability and the fear of loss, eugenics and degeneration.
• The medical and scientific text.
• Victorian social policy and legal frameworks

Those with an involvement in disability, either through work, teaching or direct experience, and papers that adopt a comparative frame, shifting across the normal boundaries of history, literary studies, the history of medicine, the history and philosophy of science, art history, etc. are especially sought, but studies with a narrower focus seeking to challenge Victorian legacies in this field are also welcome.

The deadline for the submission of proposals for panel sessions (no longer than 500 words) and proposals for individual 20-minute papers and presentations (200-250 words) is October 4, 2010. At this stage your proposal/enquiry may be exploratory. A second and final call for papers will be issued in June 2011.

Please send a short biographical note together with your proposal. Prospective panel organisers should also send the panelists' names, paper titles, and a short biographical note for each panelist and their contact details.

Support workers and carers are exempted from the conference registration fees. Papers will be circulated in advance of the conference. Please indicate by July 2011 if you would like LCVS to supply a sign language interpreter. Please indicate by April 2012 if you would like LCVS to supply an escort or support worker. All assistance dogs are welcome. If you have any enquiries regarding facilities and services for disabled people, or would like this Call for Papers in large print, please contact Joy Hamblin.

Proposals, or enquiries relating to these, should be sent to Karen Sayer k.sayer@leedstrinity.ac.ukmailto:k.sayer@leedstrinity.ac.uk

General enquiries to: Karen Sayer, Senior Lecturer in History, Leeds Centre for Victorian Studies, Leeds Trinity University College, Brownberrie Lane, Leeds, LS18 5HD; e-mail k.sayer@leedstrinity.ac.uk; tel. 0113 2837212 Or, Joy Hamblin, Leeds Centre for Victorian Studies, Leeds Trinity University College, Brownberrie Lane, Leeds, LS18 5HD j.hamblin@leedstrinity.ac.uk; tel. 0113 2837305

Sunday, July 4, 2010

What Diah Has Copied: Motor Bagi Penyandang Cacat

Oleh: Syubhan Akib - detikOto

Jakarta - Penyandang cacat sering kali sulit mengendarai sepeda motor, apalagi bila cacat yang terjadi ada di bagian pinggang ke bawah. Nampaknya hal itu disadari Conquest.

Sebab Conquest baru-baru ini merancang sebuah sepeda motor roda tiga yang mampu memudahkan para penyandang cacat bepergian dengan motor tanpa kesulitan.

Terlebih desain dan tampilan motor yang didedikasikan untuk para korban perang ini juga tampil dengan wajah yang sangat stylist.

 Seperti dikutip auto Motto, Minggu (4/7/2010) bdagi para penyandang cacat yang menggunakan kursi roda, Conquest mendesain motor ini untuk memudahkan mereka. Karena dibagian belakang motor terdapat sebuah pintu yang menjadi tempat keluar masuk pengendara.

Pengemudi pun tidak perlu turun dari kursi roda mereka untuk menaiki motor ini. Hebatnya lagi motor rancangan Conquest ini suda diuji dan memunuhi standar keamanan di Amerika.

Sementara untuk dapur pacunya, motor yang memiliki moto 'freedom without compromise' ini diperkuat oleh mesin BMW berkapasitas 1.170 cc yang sudah mengaplikasi transmisi enam perpercepatan dan ada gigi mundurnya.

Motor ini juga dipastikan sudah cukup bertenaga karena bisa berakselerasi dari diam sampai 100 km/jam hanya dalam waktu 7,6 detik saja dengan kecepatan puncak mencapai 168,9 km/jam.

( syu / ddn )



Sumber: Detik.com

What Diah Has Translated: Disabilitas dalam Lensa Persimpangan: Suatu Konferensi Mahasiswa Berprestasi tentang Studi Disabiltas (Seruan untuk Menulis Proposal)

The Beyond Compliance Coordinating Committee, SU Center bagian Kebijakan Manusia, Hukum dan studi disabilitas dan SU Disability Cultural Center Initiative bersama-sama mencari proposal-proposal untuk Konferensi Studi Disabilitas kedua kami yang akan diselenggarakan di Syracuse University pada tanggal 9 Oktober 2010.

Konferensi ini bertujuan untuk meneliti semua aspek studi disabilitas yang dihasilkan oleh mahasiswa berprestasi. Kami secara khusus tertarik kepada makalah-makalah yang memajukan pemahaman tentang model-model sosial disabilitas yang menekankan kepada budaya sejarah, diskursivitas, filsafat, seni, politik, geografi, identitas keanekaragaman manusia dan komunitas. Kami mendorong pengajuan makalah dari berbagai disiplin ilmu dan metodologi.

Tema oleh Nirmala Erevelles, Ph.D.,”Warna Kekerasan: Menuju Suatu Perspektif Studi Disabilitas Feminis Transnasional.”
Konferensi ini didekasikan untuk kenangan dan karya Chris Bell.

Topik-topik makalah mungkin meliputi, tetapi tidak terbatas pada:
• Sejarah & dokumentasi
• Penindasan & kaitannya
• Budaya & komunitas
• Dampak kapitalisme global
• Sastra, film & seni
• Inklusi & pendidikan
• Homoseksualitas & penyimpangan identitas
• Ruang & tempat
• Aksi & politik pembebasan
• Isu-isu transnasional, kolonial
• Perubahan gagasan tentang identitas & politik identitas
• Ras & penyimpangan identitas

Konferensi ini gratis dan terbuka untuk umum; setiap orang – Mahasiswa, fakultas. Staf dan anggota masyarakat didorong untuk hadir.

Pengajuan konferensi: semua proposal tidak lebih dari 500 kata. Selain itu, mohon sertakan judul makalah atau panel, nama pengarang, afiliasi, dan informasi yang bisa dihubungi. Pengajuan dikirim secara elektronik (e-mail) kepada Ashley Taylor di astaylor@syr.edu sebelum tanggal 1 Agustus 2010. Mohon beritahukan panitia segala kebutuhan akomodasi di alamat di atas.

Tanggal konferensi: Sabtu, 9 Oktober 2010
(Pesta Penyambutan: Jum’at, 8 Oktober 2010)
Batas waktu pengajuan: Minggu, 1 Agustus 2010
Pengumuman: Minggu, 21 Agustus 2010.