Search This Blog

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.
Showing posts with label Kompas. Show all posts
Showing posts with label Kompas. Show all posts

Saturday, September 22, 2012

What Diah Has Copied: Peluang Kerja Difabel Sedikit

Gambar:  http://www.sragenpos.com/2012/job-market-fair-330102 


SOLO, KOMPAS  –  Masih sedikit perusahaan yang memberikan kesempatan kerja kepada difabel atau penyandang cacat. Akibatnya, banyak difabel yang terpaksa turun ke jalanan untuk mencari nafkah atau mereka harus berjuang sendiri di jalur sektor informal. Padahal, ada Undang-Undang Nomor  14 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat yang mengamanatkan perusahaan negara ataupun swasta harus memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada difabel dengan mempekerjakannya sesuai derajat kecacatan, pendidikan dan kemampuannya.
Ketentuan tersebut juga diperkuat dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13/2003 tentang kewajiban perusahaan menempatkan satu tenaga kerja difabel untuk setiap 100 pekerjanya.
“Saya pernah tiga kali melamar tenaga administrasi dan produksi, tiga-tiganya ditolak dengan berbagai alasan karena khawatir dengan kecacatan saya. Padahal saya yakin, saya mampu menjalani pekerjaan itu,” ungkap Budianto (41), yang menderita polio di kaki kiri dan kanan, di sela-sela Job Fair for Disabilitas di Grha Wisata Niaga, Solo, Jawa Tengah, Selasa (18/9). Kegiatan ini digelar Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Solo.
Kepala Disnakertrans Kota Solo Singgih Yudoko mengakui belum semua perusahaan memberi kuota pekerjaan kepada difabel. Pihaknya berupaya mempertemukan kedua pihak melalui melalui bursa kerja atau job fair.
Ria Fatmawati dari bagian personalia PT Pan Brothers, Tbk di Sragen yang bergerak di bidang garmen mengatakan, pelamar dari kelompok difabel selama ini tidak terlalu banyak.
Sementara itu, gabungan serikat pekerja di Kabupaten Semarang,  Jawa Tengah, mendesak DPRD setempat segera membentuk panitia khusus untuk menyusun peraturan daerah tentang ketenagakerjaan.  Perda itu dibutuhkan sebagai jaminan bagi buruh dalam mendapat hak-hak mereka. (EKI/UTI)

Sumber: Kompas, Rabu, 19 September 2012, hal. 23

Saturday, November 12, 2011

What Diah Has Asked: Pertanyaan untuk Rachmat Gobel

Pertanyaan:

Selamat pagi Pak Rachmat, apakah Bapak seorang filantropis? Sumbangan terbesar apa yang telah Bapak berikan kepada orang lain dan dalam pelestarian alam?

Jawaban:

Melalui Yayasan Matsushita Gobel, saya membuat berbagai program untuk mendorong pengembangan industri lokal berwawasan lingkungan. Tak hanya itu, di pabrik-pabrik saya, juga diajarkan dan diterapkan perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Diharapkan apa yang diperoleh karyawan, staf dan manajemen perusahaan ini, dapat disosialisasikan kepada masyarakat di sekitar pabrik/ tempat mereka bekerja dan rumah masing-masing. Pada akhirnya hal ini bisa dijadikan budaya.

Thursday, July 7, 2011

What Diah Has Asked: Pertanyaan untuk Dian Sastrowardoyo

Pertanyaan:


Dear Mbak Dian, apa, sih, kekurangan Anda? Saya melihat Anda sempurna 100 persen.

Jawaban:


Kekurangan saya itu banyak, Diah. Jadi, jangan melihat saya sebagai sosok yang sempurna, ya, karena saya jauh dari situ. Saya suka terlalu memikirkan sesuatu sampai sekecil-kecilnya dan susah take it easy. Jatuhnya, kadang-kadang kalau pikiran lagi penuh, saya kurang konsentrasi kalau diajak ngobrol sehingga orang-orang terdekat sering kesal. Saya juga pelupa.

Saturday, May 22, 2010

What Diah Has Asked: Pertanyaan untuk Nadine Chandrawinata

Pertanyaan:

Sekarang banyak artis cantik ditawari menjadi anggota DPR atau wakil bupati. Jika ada partai yang menawari, Anda tertarik menduduki jabatan itu?

Jawaban:

Untuk saat ini saya tidak berkompetensi di bidang itu. Saya merasa akan lebih bermanfaat jika memperjuangkan lingkungan di luar sistem pemerintahan. Namun, tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Selama itu positif dan kita mampu, tak ada salahnya memperjuangkan dunia yang lebih baik dengan kapasitas masing-masing.

Sunday, March 21, 2010

What Diah Has Asked: Pertanyaan untuk Choky Sitohang


Pertanyaan

Selama Anda menjadi presenter "Take Me/Him Out", sempat terpikir tidak untuk menjadi peserta?


Jawaban

Ha-ha-ha, sempat terpikir juga sih seandainya saya tidak jadi pembawa acaranya dan masih single, mungkin saya akan mencoba bergabung dengan "Take Me/Him Out", melihat kans untuk promosi diri cukup besar di acara ini.

What Diah Has Asked: Pertanyaan untuk Zivanna Letisha Siregar


Pertanyaan

Setiap orang yang melihat Zizi pasti tidak menyangkal bahwa Anda seorang gadis seksi. Bagian apa sajakah dari tubuh Anda yang menurut Anda paling seksi?


Jawaban

Masak sih? Ha-ha-ha.... Saya paling suka bagian mata karena bisa berbicara lebih banyak daripada sekadar kata-kata. Dari mata kita bisa tahu apakah seseorang itu pandai/tidak, tulus/tidak, jujur/tidak, dan lain-lain.

Sunday, February 14, 2010

What Diah Has Authored: Ayam Mengancam Ketenteraman Rakyat

Keluargaku tak pernah lepas dari daging ayam. Hari raya atau bukan, kami selalu menjadikan daging ayam sebagai lauk sehari-hari mungkin karena sudah terbiasa.

Sebelum bekerja di toko roti, ayah bekerja di tempat pemotongan dan penjualan daging ayam. Setiap kembali dari bekerja dia selalu membawa sisa daging ayam yang tidak habis terjual. Oleh ibu, digoreng, digule, disate, tetapi yang sering digoreng karena mudah penyajiannya dan tidak membutuhkan berbagai macam bumbu tambahan. Aku tidak mau kalah dengan kakak dan adik berebut mengambil potongan daging ayam paling.besar. Tidak heran, kami segera menyerbu setelah ibu selesai menggoreng. “Kakak adik sama saja,” celetuk ayah melihat kelakuan kami.
Ketika harga daging ayam naik dua sampai tiga kali lipat, ayah masih melengkapi lauk-pauk kami dengan daging ayam, tetapi tidak berlangsung lama karena daging ayam tiba-tiba menghilang di pasaran. Ibu tidak lagi menghidangkan daging ayam dan kami menerima lauk-pauk apa saja yang tersedia di meja makan.

Dengar punya dengar, ternyata peternakan ayam telah dihaki kerajaan. Dengan alasan, pendistribusian yang lebih diutamakan ke kerajaan seberang akan meningkatkan pundi-pundi kerajaan. Pundi-pundi yang melimpah akan dialokasikan untuk kemakmuran rakyat dan pembangunan wilayah. Daya beli rakyat kerajaan seberang yang tak memproduksi ternak unggas, khususnya ayam, lebih tinggi dan sekaligus memperkenalkan legit dan gurihnya daging ayam kerajaan ini.
Untuk menjamin daging ayam didistribusikan secara tepat, kerajaan menerbitkan peraturan tentang pembatasan pihak-pihak yang diizinkan membiakkan ayam dan memakan daging ayam. Peraturan tersebut memuat bahwa setiap orang dilarang beternak ayam dan memakan daging ayam kecuali telah memiliki surat yang telah disegel oleh kerajaan. Peraturan tersebut juga menyebutkan sanksi yang harus dijalani bagi yang melanggar peraturan.
Pertama, sanksi bagi peternak ayam tidak sah. Mereka yang melanggar peraturan tersebut dikenai sanksi patukan ayam. Dalam keadaan tangan dan kaki terikat di lantai, terhukum dipatuk-patuki tubuhnya oleh puluhan ekor ayam sampai terluka. Tidak heran, banyak terhukum yang kehabisan darah sampai akhirnya mati. Kedua, sanksi bagi pemakan ayam tidak sah. Mereka yang melanggar peraturan tersebut dikenai sanksi makan daging ayam sepuasnya. Mulut terhukum dijejali potongan-potongan daging ayam sampai kerongkongannya tersedak dan perutnya membuncit kadang pecah karena tidak sanggup lagi menampung potongan-potongan ayam itu.
Kami lambat laun berusaha melupakan daging ayam yang menggiurkan lidah dan beralih ke lauk-pauk lain, begitu pula dengan sanak saudara dan tetangga. Tiada lagi ayam berkeliaran di jalanan mengais-ngais tanah. Seekor ayam sama harganya dengan seperangkat televisi, itu pun transaksi dilakukan secara diam-diam.
Dalam waktu singkat, para peternak ayam menjadi jutawan. Yang biasanya mereka meminjam koin ayah malah sekarang ayah yang meminjam koin mereka. Mereka adalah orang-orang yang didelegasikan sebagian wewenang kerajaan, yaitu menjaga dan memelihara properti kerajaan atas nama rakyat supaya jangan sampai diambil alih oleh yang tidak berhak. Mereka bangga terpilih menjadi aparatur tanpa seleksi dan tanpa keahlian. Tidak sedikit juga dari mereka yang berempati dan menyesal, tetapi tidak sanggup melawan karena masih ingin hidup.
Bagaimanapun pula rakyat tetap mengecap mereka musuh yang mengancam kententeraman. Mereka dianggap lebih mementingkan pribadi daripada orang banyak, yang berarti melanggar kesepakatan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, kebersamaaan dan kemanusiaan. Label itu membuat mereka berada di posisi yang serba salah.
Setiap dua atau tiga hari kerajaan yang diwakili pemelihara keamanan menjelajahi setiap tempat tinggal, mencari oknum-oknum yang memelihara atau hendak mengolah ayam untuk disantap secara tidak sah. Seperti waktu itu, sepulang belajar aku melihat ibu termenung sedih di sofa. Ibu mengatakan, ayah ditahan tadi siang karena menyimpan hak milik kerajaan. Ayah sembunyi-sembunyi membeli daging ayam dari temannya untuk makan besar merayakan ulang tahunku.


Jakarta, October 2000



Also available at: Oase Kompas