Search This Blog

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

What Diah Has Authored: Tidak Semua Kera Berevolusi Menjadi Manusia


Pada zaman dahulu kala, bumi hanya ditempati hewan-hewan. Dari seluruh hewan yang hidup di bumi, kera yang paling banyak melakukan kejahatan. Mereka sering mencuri makanan dan menyakiti hewan lain. Kabar ini sampai ke telinga dewa pencipta dan dia memutuskan untuk mengumpulkan seluruh kera di  suatu tanah luas terbentang seperti padang mahsyar.  Setelah mendengarkan petunjuk para dewa lainnya, dewa pencipta memutuskan untuk mengembalikan kera ke tempat asalnya, yaitu kegelapan.  Sebagian kera yang merasa tidak pernah melakukan kejahatan tidak menerima keputusan tersebut dan mengancam akan menghancurkan tempat tinggal para dewa. Begitu pula dengan kera yang sering melakukan kejahatan, mereka membayangkan terjebak dalam kegelapan seumur hidup. Akhirnya dewa mengalah dan mengembalikan para kera ke bumi, dengan catatan kera jahat akan menjadi kera selama-lamanya dan kera baik akan berevolusi menjadi manusia.

Sunday, December 19, 2010

What Diah Has Authored: Segurat Senyum

Aku menyusuri peron dari satu bangku ke bangku lain. Tiada yang tersisa. Aku bergabung dengan kerumunan dan mengedarkan pandang ke segenap penjuru.
Mataku menemukan seorang ibu memangku anaknya, dua laki-laki ditilik gerak tangan dan mimiknya kayak bersitegang, segerombolan mahasiswa membahas soal ujian, seorang tukang buah-buahan menyusun jualannya, seorang perempuan membaca buku setebal buku kuning dan seorang laki-laki memandang lekat bola mataku.
Aku langsung melengos. Bermacam kecurigaan campur aduk meyelinap ke benak. Bersyukur kereta yang ditunggu berhenti di jalur. Aku berlari kecil menghindarinya. Kereta tidak begitu padat. Para penumpang berpindah leluasa. Aku berdiri menghadap ke jendela di bawah kipas angin. Aku teringat laki-laki tadi. Mungkinkah dia di sini? Ternyata iya. Dia persis bertolak belakang denganku.
Kengerian merajai diri. Pertama kali naik kereta berkesan tidak aman. Ketiakku mengepit tas erat-erat, perlahan dan pasti. Aku mencemaskan situasi tidak diinginkan, namun nihil sampai di stasiun yang dituju. Plong aku turun.
*
Aku tidak malas beranjak dari ranjang semenjak berjumpa dengan bidadari elok itu. Kerutinan subuh dibereskan sesingkatnya, ingin buru-buru mencapai stasiun. Aku melakabkannya bidadari selayak berkah tidak terhingga yang dititipkan dari kayangan. Aku menemuinya di stasiun.
Begini ceritanya, aku sedang duduk-duduk di peron menunggu kereta datang tatkala berjalan santai seorang perempuan ayu dan anggun sewajarnya. Mataku tidak sanggup lepas darinya. Dia berdiri sebagaimana lainnya yang tidak kebagian bangku sambil melihat sekeliling. Matanya berujung di mataku, mata kami bersinggungan. Dia agak mengernyit sinis lalu menyilih tatapannya.
Pengeras suara berbicara, kereta tiba sesuai jadwal. Dia secepat kilat menghilang. Aku memburunya antar gerbong. Dia berpijak secara mengagumkan di deretan para penumpang. Bergoyang ke kiri dan ke kanan sekali-sekali hasil kecepatan kereta yang kadang bertambah kadang berkurang. Kami beradu punggung. Sering aku menoleh ke belakang untuk memahaminya. Dia turun di dua stasiun sebelumku, satu-satunya hal yang kupahami tentang dirinya.
*
Kejadian ini berlangsung setiap pagi selaku laki-laki itu penasaran akanku. Aku tidak lagi khawatir. Dia tidak mungkin berniat buruk. Jika berniat buruk, dahulu sudah melakukannya. Sorot mata bulatnya menyejukan jiwa menyebabkanku tersipu. Aku mengajun membalasnya, namun tidak kuasa. Aku hanya merunduk atau memandang jurusan lain.
Pernah kami duduk bersehadap. Dia tidak mengerti ke mana matanya mengarah. Dia memanggil tukang koran yang kebetulan melintas dan membeli surat kabar termurah. Berselubung koran yang dibabarkan, dia mencuri-curi pandang kepadaku. Aku nikmati itu. Dadaku berdebar kencang. Aku memohon ini berakhir sekaligus berlarut.
*
Perjumpaan pertama dan seterusnya selalu membekas di memori. Menatapnya merupakan momen paling mengesankan. Aku tidak pandai membuka percakapan bahkan dengan yang dikenal dan juga bukan pribadi agresif. Aku cuma sanggup menatapnya lembut penuh kasih dan sang bidadari menanggapinya:
Sementara kami duduk berdepan-depan, dihalangi lembaran koran sembunyi-sembunyi aku mengawasinya. Dia serba salah. Menunduk dan mengangkat muka sama-sama tidak enak. Untuk mengalahkan gelagapannya dia mengambil berkas-berkas dari tas. Dikebet-kebet doang, yakin tidak dibaca. Sikap antapnya terusik oleh kebesaran rasanya sendiri.
*
Lain kala dia belum tampak padahal arloji hampir menunjukkan pukul tujuh. Pertanyaan demi pertanyaan bergantian terselip di benak. Aku hanya menyimpannya di lubuk hati. Mendadak gemuruh menyesakkan merasuk dada, timbul hasrat bersua. Kangen sangat besar meneguhkan kereta yang datang meninggalkanku begitu saja. Sepuluh menit terlampaui bayangannya belum muncul, mau tidak mau aku menumpang kereta berikutnya. Sungguh hingga siang aku berkenan melalukan ulang kereta, namun sebagai staf baru aku mesti menunjukkan performa baik kepada atasan. Enggan-enggan aku menjejakkan kaki di bordes.
*
Tiga hari ke depan aku sakit dan disarankan beristirahat total selama tiga hari. Terbersit pikiran tentang sang bidadari. Tak berjumpa tiga hari? Niscaya seolah setahun. Sabtu-minggu saja bergulir lambat. Berat hati aku mengambil cuti kendati sehari, mempertimbangkan pekerjaan menumpuk. Kerinduan memuncak dan azam sembuh dari flu berbaur menjadi satu tekad untuk kembali hadir di sisinya esok.
Tiada putus aku mengangankannya lantaran berdiam di kamar seharian. Bisa-bisanya aku terpincut seorang perempuan yang belum kukenal. Aku berharap waktu berpacu kian cepat untuk sekadar menampilkan sosokku di mukanya. Aku tidak bernafsu mengerjakan apa-apa kecuali menatap jarum jam berbaling dari detik ke menit, menit ke jam.
*
Itu dia. Arteriku bersorak gembira. Dia tenang luar biasa. Aku berpura-pura tidak menyadari keberadaannya dan duduk di bangku tidak jauh darinya. Dia sudah tidak mengacuhkanku. Dia sudah tidak menganggap kehadiranku. Dugaanku keliru. Dia masih memandangku sekejap-sekejap.
Aku melewatinya sembari seakan mencari benda jatuh ke tanah. Kereta setop telat lima menit. Aku menerobos kepungan penumpang. Apak pikulan bambu pedagang merampai dengan anyir keringatnya yang menyengat penciumanku tidak kupusingkan. Melodi jes-jes dan tut-tut yang meresap di telinga menokok keriangan hatiku.
*
Aku sengaja datang awal dan berdiri meski tersedia bangku kosong untuk mengamati jelas-jelas langkahnya, kalem dan berirama. Ibarat penari mengayunkan tubuhnya yang lincah dan gemulai. Yang menghiraukannya tentu aku sendirian. Buktinya, tidak ada yang menghiraukan lenggak-lenggoknya sungguh-sungguh kecuali aku. Tentu semata-mata aku juga yang mau tahu banyak tentang dirinya. Tidak sebentar aku menantinya, sudah dua kereta berlalu. Yang dinanti akhirnya menongol. Wajah sederhananya senantiasa memukauku. Riasan wajahnya tidak mencolok, cuma pulasan bedak tipis.
Jantungku berdegup bahagia selagi mengerlingnya. Tatapanku beralih darinya, mengurangi deg-degan, tetapi sia-sia dan malah berganda. Lebih-lebih ketika dia melewati barisanku, seolah jantungku terlonjak ke ubun-ubun.
*
Aku tiba-tiba berpaling ke kanan. Intuisi mengabarkan seseorang memperhatikanku. Benar. Dia kembali memandangku. Kami diselingi dua perempuan. Mata kami bertaut sesaat. Bibirnya mengumbar senyum kincup, namun kentara. Aku ragu menimpalinya. Siapa tahu bukan untukku. Alhasil, terceplos senyum maluku diruntun anggukan lemah. Aku bermaksud mendekatinya untuk bertegur sapa. Sayang, stasiun yang dituju hampir sampai. Aku justru menjauhinya.
*
Kami lagi-lagi satu gerbong. Lama aku menatapnya dan tidak pernah jemu. Dia belum ngeh, kemudian seperti tersihir dia menoleh kepadaku. Mata kami bersatu diiringi deru menaklukkan debu. Aku berinisiatif memulai tindakan mumpung dia menengok. Aku refleks tersenyum. Seketika aku menyandang predikat laki-laki terkonyol sedunia, tetapi melayang segera setelah dia menyusulnya. Senyumnya tulus. Ini asal segalanya. Diantar sebuah senyum, sang bidadari menyambutku. Kami bakal beromong-omong kelak. Dia sudah turun di stasiun yang dituju.
Di balik jendela aku mengamatinya. Senyum masih mengulas di bibir mungilnya sambil matanya melirik kereta melaju.

Wednesday, September 1, 2010

What Diah Has Authored: Menunda Kematian

Orang baik cepat mati, aku menyimpulkannya setelah menyaksikan orang yang kukenal mati tanpa alamat. Kesamber keretalah, jatuh dari ataplah gara-gara ngebetulin genteng bocor, Kebawa arus sungailah, kesereduk kerbaulah. Mereka kebanyakan muda, bermoral, tunduk pada adat dan agama, tidak membawa aib, berguna bagi orang lain, bahkan ada yang menjadi teladan. Pokoknya menjadi bahan pujian setiap orang yang mendengarnya.

Mereka mengerti hakikat hidup. Abai terhadap sesama dan memerosotkan kepribadian yang patut berarti menyia-nyiakan hidup. Menikmati hidup bukan berarti bersuka-suka dalam menjalaninya. Ada hijab yang tidak bisa dihindari jika ingin mencapai tujuan sentosa. Selalu memelihara hubungan baik dengan sesama dengan ketentuan menahan diri dari perbuatan tercemar, selalu mengabdi kepada-Nya dengan aturan menunaikan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya secara tertib sehingga terkendali untuk tidak melakukan kejahatan baginya dirinya sendiri, masyarakat luas dan lingkungan. Mereka sadar, hidup itu bukan untuk bersenang-senang, tetapi bersakit-sakit. Begitu kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Mereka percaya, kehidupan setelah kematian adalah kehidupan abadi yang penuh tentram. Itu sebabnya, Sang Penentu Takdir memutuskan menariknya dari peredaran karena mereka telah mengamalkan segala tuntutan hukum, baik yang berasal dari-Nya maupun yang lahir dalam ikatan masyarakat. Untuk apa hidup berlama-lama, toh akhirnya jurusan yang ditempuh sama, kehidupan abadi yang penuh tentram.

Omong-omong aku belum mau mati. Aku mau hidup seribu tahun lagi. Darimana kita tahu cukup tidaknya kebajikan yang kira perbuat untuk mendapatkan balasan yang setimpal di alam sesudah kematian sehingga merasakan kehidupan yang lebih baik di antara yang terbaik? Semua orang akan mati adalah suatu aksioma, cuma waktunya yang berbeda. Kita hanya bisa menunda kematian. Mungkinkan begitu?

Makanya mendingan selama kita hidup, kita rasakan saja semua yang ada di dunia, daripada nanti menyesal. Mumpung masih hidup. Saya bukan penganut paham Hedonisme, saya yakin manusia dengan menggantungkan akal dan kepandaiannya dalam melakukan suatu perbuatan pasti memperhitungkan untung-ruginya dan akan melakukan yang menguntungkan bagi dirinya dan orang lain baik sekarang maupun di masa mendatang. Saya juga bukan penganut paham Sekularisme, saya yakin dengan agama ikut berperan di dalam kehidupan bermasyarakat, moral dan akhlak setiap manusia pasti akan lebih luhur.

Manusia mengerti bagaimana memperoleh kebutuhannya dan akibatnya jika kebutuhan tersebut terpenuhi. Untuk itu mereka mengadakan pemilihan berdasarkan asas free will. Atas pilihannya itu, setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, resiko ditanggung sendiri. Dengan mempertimbangkan tanggung jawab dan resiko, lebih baik jangan melakukan perbuatan yang menyimpang dari ukuran umum keseringan. Segala sesuatu yang keseringan pasti membawa efek tidak menyenangkan. Orang kebanyakan makan rujak saja bisa sakit perut! Cukup sekali saja, lantaran sudah merasakan kenikmatannya, ya sudah. Memang segala yang enak-enak bisa ketagihan. Nah, di sini akal dan perasaan berperan mengendalikan keinginan menurut kata hati. Dengan akal, manusia mempertimbangkan baik dan buruknya suatu perbuatan. Dengan perasaan, manusia lebih dominan melakukan perbuatan baik, bukan berarti menyingkirkan semua perbuatan tercela dalam kehidupan. No body’s perfect. Tiada seorang pun yang maksum.

Jika orang baik cepat mati, apa sebaliknya? Dosa adalah hukuman yang memperpanjang umur seseorang. Dengan menumpuknya dosa, manusia yang menghamburkan waktu hanya untuk memuaskan hawa nafsu tanpa mengenal-Nya diberi kesempatan mengubah haluan dari jalan gelap menuju pencerahan. Manusia macam ini pada dasarnya memahami segala bentuk aturan yang mengikat di muka bumi ini ditujukan untuk mendatangkan kemaslahatan dan kebahagian umat, namun mereka ogah berdisiplin, bahkan menyalahi aturan dengan alasan hidup tidak dibuat susah, kok. Hak kita mengecap hidup yang cuma sesaat ini dengan penuh kebebasan. Kebebasan adalah hak asasi manusia yang paling fundamental. Menentang kebebasan sama dengan menentang hak asasi manusia. Mereka tidak paham, hidup bukan hanya mengejar hak. Manusia dibebani kewajiban dalam mempertahankan kedudukannya di masyarakat. Nanti saat mereka merasakan haknya tidak terlindungi dan dilanggar, baru mereka sadar akan pentingnya kewajiban dalam tatanan bermasyarakat. Sampai kapankah manusia sadar? Tiada yang mampu menjawabnya. Suatu saat pasti akan sadar. Itu sebabnya malaikat pencabut nyawa belum ditugasi karena manusia hakikinya merupakan makhluk yang memiliki potensi untuk tunduk dan patuh kepada segala bentuk aturan yang mengikat di bumi ini, hanya pengaruh lingkungan sosial yang membentuk watak anti tata kaedah.

Aku ingin orang-orang terdekatku tidak cepat mati. Aku ajak mereka berbuat maksiat, aku ajari mereka berbuat dosa, kami timbulkan kemurkaan dunia, kami munculkan keangkaraan terhadap manusia lain, kami lalaikan semua kewajiban yang dilimpahkan kepada kami. Sudah lama kami mempertahankan ini semua sampai kami lelah tidak karuan.

Dihubungkan dengan pernyataan tadi, apa yang saya sebut belakangan termasuk menunda kematian?


                                                                                                                          Jakarta, Juni – Juli 2002

 
Also Available at Komunitas Spiritual Indonesia

Sunday, August 22, 2010

What Diah Has Authored: Angin Malam

Malam terengah-engah beranjak dari peraduannya. Bintang-bintang berlomba membiaskan cahaya senyuman dari kejauhan. Tak luput bulan malu-malu menyembul dari balik awan. Angin berputar-putar mengitari padang rumput, menggoyang-goyangkan bunga hingga bijinya mencium tanah dan mengirimkan semerbak wewangian ke penjuru dunia. Angin terus berlari melintasi kamar berpenghuni seorang gadis yang sedang resah menunggu balasan SMS dari sang kekasih, sekumpulan anak beriringan bermain ular-ularan dengan riang gembira, seorang ibu yang sedang mengajari anaknya membaca di ruang tamu sebuah rumah yang dikelilingi taman asri, seorang bapak tua yang memohon dengan sangat mengiba jalan kemudahan supaya hutang-hutangnya terbayar di sebuah rumah tuhan. Angin terus berlari sampai ke bibir pantai lantas luluh ditelan deburan ombak.

Also Available at Media Sastra

Sunday, August 15, 2010

What Diah Has Authored: Segulung Penyesalan dari Masa Lalu

Tangisku tak berkesudahan, semenjak tempat menaruh hati melabuhkan cintanya pada dara lain. Dia yang menjadi tambatan hati dalam suka dan duka tak kunjung hadir di tempat bisa kami mempercepat waktu. Hari pertama kunanti, kedua, ketiga, keempat tak juga hadir.

Ketika sudah jemu memandang awan beriringan seraya mengharapkannya, hendak kembali ke peraduan, aku melihatnya tidak jauh dari tempat biasa kami sedang berbuat seperti sediakala kami lakukan dengan dara dari negeri seberang. Bercumbu-cumbuan, bercinta-cintaan, merayu-rayuan, bersuka-sukaan, tiada henti.

Aku baru menyadari, hidup ini berisi kemunafikan dan kebohongan belaka. Aku merasa hidupku tidak lagi layak. Aku menyesal. Mengapa aku yang dijadikan tujuan dalam melampiaskan dorongan hatinya. Aku terbuai dengan segala apa yang ada dalam dirinya. Aku terlalu mempercayakan diriku kepadanya sepenuh hati.

Kini pupus sudah harapan dan impian yang memacu semangat hidup. Mati dalam kehidupan. Terpuruk dalam kemasygulan. Tenggelam dalam kekecewaan. Penyesalan menghantui diri. Jiwa mengalir duka bersama waktu. Lambat-lambat, kutarik ragaku dari dunia luar. Kututup pintu hatiku rapat-rapat. Sendiri dalam kesepian.

Masa dibiarkan lepas lalu seperti sungai mengalir tanpa batas. Musim tanam berganti musim panen. Musim hujan kembali datang. Aku masih tetap pada pendirianku. Keyakinanku untuk tidak menyibak lembaran baru. Terlalu hati sakit untuk disembuhkan. Kepercayaanku, kesetiaanku, kasih sayangku kepada lainnya punah.

Sampai pada seorang perempuan tua melangkah perlahan dan tertatih-tatih melewati peraduanku. Dia berdiri di hadapanku. Menatapku. Membuat kepalaku yang menunduk terangkat pelan-pelan. Hujan sangat lebat namun tak setitik air membasahi tubuhnya. Dia menyenandungkan alunan suara merdu ke seluruh pelosok:

Oo, ratna dewi muda
Padamkan muram wajahmu
Bangkitkan kembali kekuatan jiwa bahagiamu
Sia-sia sudah perjalanan susah hatimu

Oo, mawar belia cantik
Keringkan hatimu dari derita kecewa berkepanjangan
Bebaskan belenggu senyap yang mengurung dirimu
Percuma habis kemurungan batinmu
Lihatlah sekitar semesta
Cinta agungmu tidaklah sepadan
Banyak kasih berbalas kasih
Cinta putih sucimu berakhir menjadi riwayat
Tamat sudah cinta abadimu
Hikmah dipetik sebagai petuah bagi anak cucu
Mari rengkuh kembali dunia alam raya
Temukan ketentraman sejati dalam setiap insan

Aku terenyuh mendengarnya lantas terdiam sesaat. Untaian kata-kata yang ke luar dari mulutnya yang berkerut jelas-jelas menyentuhku. Aku masih diam terperangah ketika perempuan tua itu menjauhi peraduanku. Sadar-sadar, perempuan tua telah menghilang di kelokan.

Aku telusuri kata demi kata yang terus membekas dalam benak. Aku menyelami kehidupan penuh sia-sia selama ini. Janji-janji yang tidak mendatangkan budi baik pada masa lalu akan kuhapus dalam kenangan. Cinta suci ini akan kupupus demi hati yang rindu kebahagiaan.

Lama kelamaan aku mencoba menapaki jalan hidup baru. Aku kembali menjadi bagian dari alam semesta segera setelah persuaanku dengan perempuan tua bijaksana.

Tujuh musim berlalu, akhirnya aku menemukan pencurah hati yang datang dari balik bukit.


Jakarta, January 2001

Also Available at Kompasiana

What Diah Has Authored: Kisah Perjalanan Cinta

Telah kutemukan cinta di sudut ruang hatinya tanpa sengaja. Cinta yang tak pernah kucari datang dengan sendirinya dengan membawa berkah dan harapan. Cinta mengalir dari ujung ke pangkal jiwa tanpa syarat, apa adanya. Tak ada keraguan untuk saling berjanji mengikat. Tak satu pun yang menghalangi gelora cinta yang menggebu-gebu. Cinta menjadi alasan menepis prahara. Asmaraloka dijelajahi demi merajut kasih dan mewujudkan selimut kebahagiaan. Musim demi musim selalu diisi dengan kebersamaan tanpa kehadiran yang lain.

Kata hati, perasaan, hasrat jiwa, dorongan batin, saling ditelisik untuk melenyapkan keresahan hati dan menemukan ketengan jiwa. Selama cinta ada dalam sanubari, percaya adalah kunci utama menumpas kecemburuan. Dengan cinta, luka yang tergores mampu terobati. Denga cinta, hati gelisah sirna setelah berada di sisinya. Meski saling berjauhan, cinta selalu hadir karena telah menyatukan jiwa, darah, rasa, batin dan isi pikiran. Cinta membuat buta dan gila, apa saja dilanggar, sampai dosa pun direnggut.

Setelah buih-buih kehidupan diarungi bersama sepanjang milyaran menit, cinta mencapai titik jenuh. Dewi cinta sudah tidak lagi menaungi jiwa. Tak ada lagi panggilan sayang. Satu sama lain mengabaikan kekalutan perasaan. Kepercayaan direnggut karena kebohongan-kebohongan mulai meradang. Jiwa, darah, rasa, batin, dan isi pikiran bercerai, yang satu mengikuti arah mata angin utara, yang satu lagi selatan. Perjumpaan merupakan derita yang menyesakkan hati. Sucinya cinta berubah menjadi luka yang menyakitkan. Telah habis kekuatan lahir dan batin menopang cinta untuk tetap bertahan. Tidak ada usaha lagi untuk merekatkan kembali tali cinta yang telah terputus.

Akhirnya, dengan segenap perasaan yang paling dalam, cinta memisahkan diri setelah keegoisan-keegoisan muncul ke permukaan. Telah disadari, keegoisan hanya bisa hidup dari cintanya sendiri.

Jakarta, Agustus - September 2000

Also available at: Media Sastra

What Diah Has Authored: Semua Suka VCD Porno

Belakangan ini, Padmo dan petugas tramtib lainnya sedang gencar-gencarnya mengadakan operasi penyitaan VCD porno. Dari terminal sampai perumahan dibabat habis. Operasinya yang berhasil membuatnya menjadi sorotan masyarakat. Sebuah saluran televisi menyiarkan secara langsung pembakaran ratusan VCD yang digelar di lapangan terbuka untuk umum.

“Ini merupakan salah satu upaya mengatasi keresahan masyarakat,” kata Padmo memberikan keterangan kepada pers. “Pemerkosaan akhir-akhir ini meningkat akibat kurangnya penekanan kesadaran untuk melakukan tindakan sesuai nilai-nilai kesusilaan dan cenderung melakukan tindakan amoral. Mengikuti perkembangan zaman, bukan berarti ikut-ikutan melakukan hal-hal negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan dalam mensukseskan eksploitasi terhadap perempuan jika masyarakat sendiri hanya mengandalkan aparat penegak hukum untuk memberantasnya.”

Padmo menarik napas panjang dan meraba dadanya kemudian melanjutkan, “Kita sebagai masyarakat yang sebagian besar beragama Islam seharusnya sadar perluasan VCD porno akan merusak akhlakul karimah setiap insan yang pada akhirnya merosotkan mentalitas bangsa. Diharapkan di masa mendatang, pemerintah dan masyarakat bekerja sama bahu membahu menghapus segala macam bentuk pornografi sehingga diharapkan masyarakat dapat hidup tenang tanpa kekhawatiran akan adanya pelanggaran nilai dan norma lagi.”

Padmo selesai memberikan pernyataan kepada pers disambut tepuk tangan meriah para wartawan. Dia bangga operasi kali ini sukses dengan gemilang. Dia bergegas menuju kendaraannya. Terasa sesuatu merosot dari balik jaketnya. Dia buru-buru menahannya tetapi terlambat. Satu keping VCD porno yang paling panas meluncur ke tanah. Suaranya yang bergemerincing menarik perhatian sekitarnya. Semua mata tertuju pada Padmo, begitu pula kamera yang belum dimatikan. Diurungkan tangannya yang setengah menjulur meraih. Dia bingung tidak tahu harus bagaimana lagi.

Jakarta, February - Maret 2002

Also Available at Media Sastra

Sunday, February 14, 2010

What Diah Has Authored: Ayam Mengancam Ketenteraman Rakyat

Keluargaku tak pernah lepas dari daging ayam. Hari raya atau bukan, kami selalu menjadikan daging ayam sebagai lauk sehari-hari mungkin karena sudah terbiasa.

Sebelum bekerja di toko roti, ayah bekerja di tempat pemotongan dan penjualan daging ayam. Setiap kembali dari bekerja dia selalu membawa sisa daging ayam yang tidak habis terjual. Oleh ibu, digoreng, digule, disate, tetapi yang sering digoreng karena mudah penyajiannya dan tidak membutuhkan berbagai macam bumbu tambahan. Aku tidak mau kalah dengan kakak dan adik berebut mengambil potongan daging ayam paling.besar. Tidak heran, kami segera menyerbu setelah ibu selesai menggoreng. “Kakak adik sama saja,” celetuk ayah melihat kelakuan kami.
Ketika harga daging ayam naik dua sampai tiga kali lipat, ayah masih melengkapi lauk-pauk kami dengan daging ayam, tetapi tidak berlangsung lama karena daging ayam tiba-tiba menghilang di pasaran. Ibu tidak lagi menghidangkan daging ayam dan kami menerima lauk-pauk apa saja yang tersedia di meja makan.

Dengar punya dengar, ternyata peternakan ayam telah dihaki kerajaan. Dengan alasan, pendistribusian yang lebih diutamakan ke kerajaan seberang akan meningkatkan pundi-pundi kerajaan. Pundi-pundi yang melimpah akan dialokasikan untuk kemakmuran rakyat dan pembangunan wilayah. Daya beli rakyat kerajaan seberang yang tak memproduksi ternak unggas, khususnya ayam, lebih tinggi dan sekaligus memperkenalkan legit dan gurihnya daging ayam kerajaan ini.
Untuk menjamin daging ayam didistribusikan secara tepat, kerajaan menerbitkan peraturan tentang pembatasan pihak-pihak yang diizinkan membiakkan ayam dan memakan daging ayam. Peraturan tersebut memuat bahwa setiap orang dilarang beternak ayam dan memakan daging ayam kecuali telah memiliki surat yang telah disegel oleh kerajaan. Peraturan tersebut juga menyebutkan sanksi yang harus dijalani bagi yang melanggar peraturan.
Pertama, sanksi bagi peternak ayam tidak sah. Mereka yang melanggar peraturan tersebut dikenai sanksi patukan ayam. Dalam keadaan tangan dan kaki terikat di lantai, terhukum dipatuk-patuki tubuhnya oleh puluhan ekor ayam sampai terluka. Tidak heran, banyak terhukum yang kehabisan darah sampai akhirnya mati. Kedua, sanksi bagi pemakan ayam tidak sah. Mereka yang melanggar peraturan tersebut dikenai sanksi makan daging ayam sepuasnya. Mulut terhukum dijejali potongan-potongan daging ayam sampai kerongkongannya tersedak dan perutnya membuncit kadang pecah karena tidak sanggup lagi menampung potongan-potongan ayam itu.
Kami lambat laun berusaha melupakan daging ayam yang menggiurkan lidah dan beralih ke lauk-pauk lain, begitu pula dengan sanak saudara dan tetangga. Tiada lagi ayam berkeliaran di jalanan mengais-ngais tanah. Seekor ayam sama harganya dengan seperangkat televisi, itu pun transaksi dilakukan secara diam-diam.
Dalam waktu singkat, para peternak ayam menjadi jutawan. Yang biasanya mereka meminjam koin ayah malah sekarang ayah yang meminjam koin mereka. Mereka adalah orang-orang yang didelegasikan sebagian wewenang kerajaan, yaitu menjaga dan memelihara properti kerajaan atas nama rakyat supaya jangan sampai diambil alih oleh yang tidak berhak. Mereka bangga terpilih menjadi aparatur tanpa seleksi dan tanpa keahlian. Tidak sedikit juga dari mereka yang berempati dan menyesal, tetapi tidak sanggup melawan karena masih ingin hidup.
Bagaimanapun pula rakyat tetap mengecap mereka musuh yang mengancam kententeraman. Mereka dianggap lebih mementingkan pribadi daripada orang banyak, yang berarti melanggar kesepakatan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, kebersamaaan dan kemanusiaan. Label itu membuat mereka berada di posisi yang serba salah.
Setiap dua atau tiga hari kerajaan yang diwakili pemelihara keamanan menjelajahi setiap tempat tinggal, mencari oknum-oknum yang memelihara atau hendak mengolah ayam untuk disantap secara tidak sah. Seperti waktu itu, sepulang belajar aku melihat ibu termenung sedih di sofa. Ibu mengatakan, ayah ditahan tadi siang karena menyimpan hak milik kerajaan. Ayah sembunyi-sembunyi membeli daging ayam dari temannya untuk makan besar merayakan ulang tahunku.


Jakarta, October 2000



Also available at: Oase Kompas