Search This Blog

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Sunday, June 13, 2010

What Diah Has Copied: Dua Perempuan di Kursi Roda

Pagi di awal bulan Mei, Malang gerimis. Kalau melihat mendung tebal di langit, sepertinya hujan bakalan menderas. Saya berlari menuju beranda paviliun di sebuah rumah tua yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 3, Malang. Setelah melintasi halaman, terlihat dua perempuan di atas kursi roda.

Oleh: Putu Fajar Arcana

Wajah sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim (61) segera saya kenali. Tetapi seorang perempuan muda, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Susanty Octavia (22), baru pertama kali ini saya lihat. Dengan segera sambil tersenyum Ratna memperkenalkan ”murid”, yang juga ”asistennya” itu. Santy tersenyum dan menjabat tangan. Kelihatan ia agak canggung dan pemalu.

Ratna duduk di sisi dinding sebelah barat menghadap ke timur. Posisi itu membuatnya cukup leluasa mengawasi para tamu yang datang ke rumahnya. Lebih penting dari itu, ia cukup dekat dengan kabel yang menjulur dari dinding menuju tangan kanannya. Jika sedang membutuhkan bantuan, Ratna cukup menekan tombol bel dan suara ”assalamualaikum” akan mengantarkan Umi, pembantunya, untuk mendekat kepadanya.

”Apa yang mengantarkanmu ke Malang,” tanya Ratna mengawali perbincangan kami.

”Saya kangen sama Mbak Ratna,” kata saya sembari tersenyum.

Ratna terkekeh. Ia mengerti maksud saya. Sekitar awal tahun 2000-an, saya dan keluarga pernah bermukim di kota itu. Dan setiap ada kesempatan turut pula berdiskusi di rumah Ratna, yang dijadikan sekretariat kelompok diskusi Forum Pelangi, sejak sekitar 13 tahun silam.

Tepat di balik beranda paviliun, di mana kami mengobrol, terdapat susunan rak buku. Isinya sebagian besar buku-buku sastra. Inilah toko buku Tobuki (Toko Buku Kita) yang dibuka Ratna sejak sekitar empat tahun lalu. Nama Tobuki memang benar-benar mengandung pengertian ”milik bersama”, di mana semua pembeli melayani diri sendiri. ”Termasuk bayar dan ambil uang kembalian di laci, swalayan he-he-he,” kata Ratna dengan tawanya yang khas.

Ratna kemudian bercerita betapa ia memiliki harapan besar pada Santy. Mereka baru bertemu empat tahun lalu. Sebelum itu Ratna mengaku selalu berganti-ganti asisten untuk menuliskan kisah-kisah yang ia tuturkan. ”Mungkin sudah ada enam orang sebelum Santy yang dampingi aku. Santy ini lain, karena dia juga cerpenis,” kata Ratna.

”Sejak lama saya cari-cari Bu Ratna, sampai akhirnya saya berkirim surat agar diterima sebagai murid. Ibu saya bilang, saya harus belajar menulis dari pengarang terkenal seperti Ibu (Ratna),” kata Santy. Surat yang ditulis Santy tak pernah sampai ke tangan Ratna. Seorang suami dari pembantu keluarga Santy tak pernah mengantarkannya, padahal lelaki itu mengaku tahu rumah Ratna. Pertemuan keduanya terjadi karena Santy memberanikan diri untuk menelepon Ratna langsung.

”Saya deg-degan, wong saya ini remaja mau ketemu sama Ibu (Ratna) yang namanya sudah dikenal lewat buku-buku cerpen dan novel,” tutur Santy. Sejak itu perlahan Santy menjadi juru tulis di kala Ratna mengarang cerpen atau novel.

Lumpuh

Sebagai difabel, seluruh kemampuan fisik Ratna nyaris tak berfungsi. Sejak usia 10 tahun perlahan tangan dan kakinya mengecil dan menjadi lumpuh. Dokter tak pernah bisa mendiagnosis jenis penyakit yang menyerangnya. ”Ada dokter bilang gejala itu disebut rachitis, yang menyerang sendi, tetapi teori itu dibantah lagi karena rachitis hanya ditemukan di negara-negara yang kurang mendapat sinar matahari seperti Eropa. Tetapi yang jelas ini bukan polio….” tuturnya ringan.

Ketika menginjak masa remaja Ratna pernah mengalami krisis batin yang dahsyat. ”Bagaimana tidak, aku lahir normal, tetapi paling jelek di antara semua saudara perempuan. Sudah jelek cacat pula. Aku marah sama Tuhan, karena ini tidak adil. Aku cemburu setiap ada anak main engklek, gobak sodor, atau sepeda. Sementara aku duduk saja di kursi roda….”

Saat-saat seperti itulah Siti Bidasari Ibrahim binti Arifin (alm), ibu kandung Ratna, selalu hadir dengan kata-kata yang memberinya semangat hidup. Ibunya selalu bilang, ”Tuhan tidak mungkin menciptakanmu tanpa maksud baik. Pasti ada kelebihan di balik apa yang kamu jalani sekarang,” ujar Ratna menirukan kata-kata ibunya.

Meski begitu, dalam sikap sehari-hari ibunya tidak pernah memberi perlakuan istimewa kepada Ratna. ”Aku tidak dianggap cacat. Kalau memang jam tujuh harus hadir di meja makan, kami 10 anaknya harus hadir. Tidak ada alasan cacat…. kek-kek-kek… (terkekeh). Jadi aku tak pernah dimanja, apalagi dianggap beban keluarga,” kata perempuan yang telah menghasilkan ratusan cerpen dan tujuh novel dari atas kursi roda ini.

Berkat dukungan ibunya, Ratna bangkit dan menyadari kebenaran teori fisika: sebuah benda akan memindahkan masanya ke sisi lain, apalagi salah satu sisi diberi tekanan tertentu. ”Seperti tangan ini, kalau ditekan di sini akan menggelembung di sisi lain,” kata Ratna sembari mencoba menekan tangan kirinya. Jika sekarang, tambahnya, tangan dan kakinya lumpuh, serta matanya tak bisa melihat dengan sempurna, Tuhan memberinya telinga dan ingatan yang tajam. ”Sekarang aku menulis pakai telinga dan ingatan,” katanya.

Sejak masa kuliah di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya, Malang, dulu Ratna mengandalkan telinga dan ingatan untuk ”mencatat” seluruh materi kuliah. ”Tidak mungkin membawa perekam, waktu itu tahun-tahun 1950-an, tape recorder itu besar sekali, he-he-he,” kata Ratna yang lahir di Malang, 24 April 1949. Kuliah Ratna di FIA tidak berlanjut karena ia menganggap kampus itu tidak aksesibel bagi para difabel seperti dirinya.

Hal yang sama juga dialami Santy. Ia memutuskan berhenti sekolah dari sebuah SMA lantaran infrastruktur sekolahan itu tidak mendukungnya sebagai penyandang cacat. ”Kebutuhan pengguna kursi roda seperti saya, secara umum tidak terperhatikan di Indonesia,” kata Santy, yang lahir 18 Oktober 1988 ini.

Bukan beban

Hujan kini benar-benar tidak bisa dihalangi. Saking lebatnya tempias air sampai juga di beranda di mana kami berbincang. Ratna menekan bel dan terdengar suara ”assalamualaikum”. Umi bergegas menemuinya untuk kemudian mendorong Ratna masuk ke kamar pribadinya, sementara Santy tak mau dibantu. Ia memutar roda kursi untuk kemudian bergerak menuju arah yang sama. Kami meneruskan obrolan di kamar Ratna. Sisi barat kamar itu terdapat rak tinggi yang dipenuhi buku, kertas-kertas kerja Ratna, serta beberapa foto kenangan masa kecil. ”Coba kamu lihat, itu aku bersama adikku,” kata Ratna. Foto itu menunjukkan Ratna sedang berdiri di belakang dua adiknya. Setidaknya itulah kenangan bagi Ratna bagaimana ia menikmati saat-saat terakhirnya bisa berjalan.

Sejak awal sebenarnya Ratna Indraswari Ibrahim bercita-cita menjadi ahli akunting atau psikolog. Tetapi ia menyadari bahwa rata-rata orang Indonesia takjub akan hal-hal yang visual. ”Aku urungkan niat itu karena secara visual mungkin aku diremehkan. Maka aku memutuskan menjadi pengarang…,” kata Ratna.

Dunia sastra telah memberinya daya hidup, yang barangkali tidak bisa diberikan bidang lain. Ketika cerpennya pertama kali dimuat sebuah majalah, Ratna mengaku tak lagi minder. ”Aku merasa sama dengan orang lain. Bahkan sekarang aku merasa sama cantiknya dengan Djenar (Maesa Ayu) atau Dee (Dewi Lestari), ha-ha-ha…” Ratna terbahak.

Kunci dari semua pencapaian itu, tambahnya, jangan pernah menganggap difabel itu sebagai beban keluarga. Orang-orang sekitar, terutama keluarga terdekat, sama sekali tidak boleh memperlakukan difabel sebagai orang cacat. ”Jangan dibuat tergantung sama orang lain,” kata Ratna.

Ratna merasa bersyukur tergabung dalam Yayasan Bakti Nurani, sebuah yayasan yang beranggotakan 50 difabel dan sudah berdiri sejak 30 tahun silam di kota Malang. Di situ para difabel benar-benar diangkat dari lembah keminderan yang menyelimuti mereka selama ini. Di yayasan ini pula Ratna mulai menulis cerpen. ”Dulu para anggotanya yang bantu aku mengetik ceritaku,” kata dia.

Kami mengakhiri pertemuan ini dengan makan siang. Santy sedang menjalani puasa Senin-Kamis. Ia memilih tetap tinggal di kamar Ratna. Umi perlahan-lahan dan telaten menyuapi Ratna, sastrawan yang namanya mendunia itu…. Dan hujan pun tetap bernyanyi saat menerpa dedaunan. Saya pamit, berlari menerobos hujan….(Dahlia Irawati)


Sumber: Kompas, 16 Mei 2010
Gambar: Kompasiana

No comments:

Post a Comment