Search This Blog

Loading...

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Friday, June 13, 2014

What Diah Has Mini-Researched: Info Seputar Kehamilan dan Persalinan untuk Calon Ibu Penyandang Disabilitas

123RF.com
Kaum perempuan berhak hamil dan menjadi seorang ibu. Nyatanya, di berbagai belahan dunia kaum perempuan penyandang disabilitas dipaksa untuk tidak hamil karena dikhawatirkan tidak bisa menjadi ibu yang baik atau bayi yang dilahirkan akan menyandang disabilitas juga.

Kehamilan yang sehat dan aman tidak dipengaruhi oleh disabilitas, melainkan faktor-faktor kesehatan seperti gaya hidup, sanitasi, dan tekanan darah tinggi. Hanya saja kaum perempuan penyandang disabilitas membutuhkan tindakan, perawatan, biaya dan bantuan yang lebih besar dibandingkan kaum perempuan non disabilitas.

Sebelum merencanakan dan memutuskan untuk hamil, kita sebagai calon ibu penyandang disabilitas sebaiknya mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

  • Benarkah kita ingin memiliki anak?
  • Sanggupkah kita merawat anak sendiri?
  • Jika sudah memiliki anak, sanggupkah kita merawat anak lebih dari satu?
  • Akankah kesehatan tubuh kita pulih pasca persalinan?
  • Akankah kehamilan mempengaruhi disabilitas kita?
  • Bersediakah pasangan dan keluarga ikut membantu dan merawat anak?
  • Adakah seseorang yang memaksa kita untuk memiliki anak?

PERENCANAAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN

Jika kita telah mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas secara matang dan siap menghadapi implikasi medis yang kemungkinan berdampak pada disabilitas kita, langkah-langkah selanjutnya sebagai berikut:

1. Kunjungi dokter ahli kandungan atau dokter ahli fetomaternal (dokter kandungan spesialis kehamilan dengan resiko tinggi) yang tepat untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang mungkin terjadi dan hal-hal yang harus dilakukan, seperti: 
a. Jika kita mengonsumsi obat secara teratur, akankah berpengaruh pada perkembangan janin?
b. Akankan disabilitas kita mempengaruhi kesehatan kita atau kesehatan dan perkembangan   janin?
c.  Mungkinkah disabilitas kita menimbulkan masalah selama kehamilan dan persalinan?
d.  Bisakah komplikasi dicegah dan ditangani secara aman?
e.  Tahukah kita cara menjaga kesehatan selama kehamilan?

2. Cari rumah sakit yang menyediakan perawatan medis jika terjadi komplikasi besar. Sebagai contoh, jika kita: 
a. Menyandang disabilitas yang kesulitan membuka kaki lebar-lebar seperti cerebral palsy, rheumatoid arthritis, atau kejang otot yang parah. Selama proses persalinan, kita harus terus-menerus membuka kaki lebar-lebar selama 2 atau 3 jam baik oleh diri sendiri atau dengan bantuan orang lain, atau bahkan kita melahirkan dengan cara bedah sesar. 
b. Berpostur pendek (cebol). Tulang panggul kita mungkin tidak cukup lebar untuk melahirkan bayi tanpa bedah sesar. Kemungkinan juga kita butuh transfusi darah karena tubuh akan banyak kehilangan darah. 
c. Menyandang cedera tulang belakang tinggi (T6 dan di atasnya). Kita beresiko mengalami dysreflexia, tekanan darah tinggi mematikan.  

3. Makan makanan yang mengandung banyak asam folat sebelum hamil dan di beberapa bulan pertama kehamilan. Kekurangan asam folat menyebabkan bayi anemia dan lahir cacat, seperti terhambatnya pertumbuhan otak dan tulang. Asam folat terkandung di dalam sayuran berdaun hijau, pisang, alpukat, pepaya, kentang, daging (terutama hati), kacang-kacangan, biji-bijian (beras merah, gandum utuh), biji bunga matahari, telur, ikan dan jamur. Beberapa calon ibu peyandang disabilitas juga megonsumsi tablet asam folat dengan dosis 0,5-0,8 mg sekali sehari. Bahkan, calon ibu penyandang spina bifida harus mengonsumsi 0,8 mg asam folat sekali sehari.

4. Perbanyak pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan yang dialami oleh kaum ibu non disabilitas dari berbagai media untuk menambah referensi.
 
5. Susun rencana keuangan kehamilan hingga persalinan jauh-jauh hari. Pada umumnya, biaya kehamilan dan persalinan calon ibu penyandang disabilitas lebih besar dibandingkan calon ibu non disabilitas, yang meliputi antara lain biaya kunjungan ke dokter spesialis secara rutin, nutrisi, vitamin dan suplemen untuk ibu hamil, persalinan dengan cara bedah sesar, inkubator jika anak lahir prematur, jasa pengasuh bayi dan biaya-biaya tak terduga lainnya.

6. Jaga kondisi emosi agar tetap stabil dengan cara berpikir positif, menciptakan suasana nyaman, menghindari stress, selalu bersyukur dan berserah kepada Tuhan karena kondisi emosi mempengaruhi kondisi janin dalam kandungan. 
 
7. Untuk calon ibu penyandang disabilitas yang bekerja, kita harus melakukan penyesuaian wajar untuk menghindari resiko yang mungkin akan terjadi. Beritahu atasan kita bahwa kita sedang hamil; jangan terlalu banyak bergerak dan berjalan; hindari tekanan psikologis dan mara bahaya fisik; serta abaikan perilaku rekan kerja dan atasan yang mengarah pada ejekan dan perundungan.  

KETIDAKNYAMANAN SAAT HAMIL

Setiap perempuan pasti merasakan ketidaknyamanan saat hamil. Bagi beberapa perempuan penyandang disabilitas ketidaknyamanan karena disabilitas semakin bertambah. Kita harus bisa membedakan ketidaknyamanan ini disebabkan oleh kehamilan atau disabilitas. Ketidaknyamanan tersebut, antara lain:

Rasa Lelah
Rasa lelah biasanya sering terjadi di trisemester pertama kehamilan. Rasa lelah berdampak besar pada calon ibu penyandang disabilitas mobilitas. Kita harus mencari tahu apakah kelelahan ini disebabkan oleh anemia, masalah tiroid atau gejala eksaserbasi.

Sakit Punggung
Sakit punggung dirasakan beberapa minggu sebelum bayi lahir. Hal ini disebabkan otot perut merenggang dan melemah saat hamil sedangkan otot punggung harus bekerja lebih keras. Calon ibu penyandang disabilitas fisik merasakan sakit punggung lebih parah dan terjadi di awal kehamilan. Bahkan, calon ibu yang tubuh bagian bawahnya mati rasa sering merasakan sakit punggung saat hamil. Ada beberapa cara meringankan sakit punggung, yaitu:
a. Memakai kursi roda yang tempat duduknya telah dimodifikasi,
b. Menggunakan sabuk penyangga perut ibu hamil untuk lebih menyokong otot perut dan dengan demikian menyokong otot punggung,
c. Mengompres dengan air hangat atau es juga gunakan transcutaneous electrical stimulation untuk mengurangi ketidaknyamanan.

Sebagai saran, pilih sabuk penyangga perut ibu hamil yang memiliki dua tali pengikat. Tali pengikat pertama mengelilingi perut bagian atas sedangkan tali pengikat lainnya mengelilingi perut bagian bawah untuk menyokong perut bagian bawah, seperti gambar di bawah ini:
 
Sumber: healthandyoga.com
Terbatasnya Gerak Tubuh
Di akhir trimester kedua kita akan sering mengalami kehilangan keseimbangan dan mudah terjatuh atau kesulitan membungkuk dan memungut sesuatu. Oleh karena itu, di periode ini kita mulai menggunakan alat bantu untuk berjalan dan bergerak seperti kursi roda dan tongkat sampai bayinya lahir. Bahkan, calon ibu penyandang disabilitas fisik seperti lumpuh di tubuh bagian bawah atau terbatasnya kontrol otot semakin sulit bergerak dan berjalan. Jika kita pengguna kaki palsu, kita akan merasa protesisnya tidak pas lagi karena tubuh bertambah berat dan kulit membengkak. Jika memungkinkan, sesuaikan kaki palsu dengan kondisi tubuh kita. Jika tidak, gunakan kursi roda, tongkat atau kruk.
Jika kita berbaring di lantai, cara mudah untuk bangun seperti gambar di bawah ini:

Atau kita bisa menggunakan kursi sebagai penyokong seperti gambar di bawah ini:

Sulit Tidur
Posisi Tidur yang Disarankan
Di beberapa minggu terakhir kehamilan kita akan sering bangun di tengah malam untuk buang air kecil, karena kaki kram atau bayi bergerak-gerak. Sangat penting menemukan posisi tidur yang nyaman, tapi hindari tidur telentang karena bisa menyebabkan pembuluh darah tertekan rahim dan menyebabkan gangguan sirkulasi darah. Hal ini juga bisa mengakibatkan masalah percernaan, pernapasan dan punggung tegang. Beberapa posisi tidur yang nyaman, antara lain:
a. Tidur dengan posisi tubuh agak bersandar atau taruh sesuatu di belakang kita untuk menyangga kepala dan bahu serta taruh gulungan kain atau koran di bawah lutut.
b. Tidur dengan posisi miring. Jika memungkinkan, tidur dengan posisi miring ke kiri agar sirkulasi darah lancar. Taruh sesuatu yang nyaman seperti gulungan kain atau koran antara lutut dan pergelangan kaki.


Sulit Bernapas 
Posisi Tidur yang Disarankan
Semakin janin bertumbuh kembang, semakin tertekan paru-paru kita sehingga semakin berkurang ruang dalam dada untuk bernapas. Hal ini normal, tapi calon ibu penyandang disabilitas fisik seperti berpostur pendek (cebol) atau lumpuh otot dada mengalami napas pendek di awal masa kehamilan. Kita harus menjaga paru-paru bersih dan sehat agar janin berkembang dengan baik dengan cara, antara lain:
a. Tidur dengan posisi agak bersandar dan taruh sesuatu di bawah lutut.
b. Minum air minimal 8 gelas sehari agar lendir di paru-paru cair dan mudah dikeluarkan.
c. Berolahraga secara teratur.
d. Jika kita kesulitan bernapas dan juga lemah dan lelah, atau jika napas kita pendek terus menerus, kemungkinan kita mengalami masalah jantung dan membutuhkan perawatan medis atau kemungkinan mengalami anemia, pola makan yang buruk, infeksi atau depresi.

Borok Tindih (Pressure Sores)
Borok tindih biasanya disebabkan karena tekanan yang sangat lama pada jaringan lunak antara alas tidur dan bagian-bagian tulang. Duduk dan berbaring terus menerus tanpa bergerak dan mengubah posisi menimbulkan borok tindih. Hal ini terjadi pada calon ibu yang lumpuh dan mati rasa. Jika kita sedang hamil, semakin berat tubuh kita, semakin tertekan alas tidur oleh sebagian tubuh kita. Untuk menghindarinya, sering-sering bergerak atau mengubah posisi tidur atau duduk, setidaknya sekali dalam sejam.

Kejang Otot 
Sering terjadi pada calon ibu penyandang cerebral palsy atau cedera tulang belakang selama persalinan. Cara mengatasinya, antara lain:
a. Jangan menarik atau mendorong otot yang tegang karena hanya akan memperparah. 
b. Pegang bagian yang sakit sampai otot kembali relaks. 
c. Jika punggung atau seluruh tubuh kita terkena kejang otot, sangga kepala dan bahu agar tertekuk sedikit ke depan. Hal ini membantu merelaksasi kekakuan di seluruh tubuh. 
d. Basuh dengan rendaman air hangat atau, jika memungkinkan, duduk atau berbaring di air hangat. Namun, jangan terlalu panas karena bisa mengganggu janin. 
e. Lakukan latihan peregangan 2 sampai 3 kali sehari. 
f. Jangan memijat otot yang kejang karena bisa menambah kekakuan otot.

Infeksi Saluran dan Kandung Kemih 
Terkena infeksi saluran kemih saat hamil bagi penyandang cedera tulang belakang merupakan hal biasa karena rahim yang membesar menekan kandung kemih sehingga mengakibatkan urine sulit keluar. Kuman yang berkembang biak di urine bisa mengakibatkan infeksi. Sedangkan, calon ibu penyandang disabilitas, seperti terbatasnya kontrol otot dan lumpuh atau mati rasa di tubuh bagian bawah cenderung mengalami kebocoran urine dan terkena infeksi kandung kemih dan ginjal. Jika kita bisa mengatasi infeksi kandung kemih segera, maka kita bisa mencegah masalah serius lainnya, seperti infeksi ginjal dan bayi lahir prematur. Untuk mencegah infeksi urine, maka kita harus:
a. Meminum air setidaknya 8 gelas sehari dan jus buah.
b. Menjaga kebersihan alat kelamin.
c. Mencuci tangan sebelum menggunakan kateter dan membersihkan kateter sesering mungkin, jika menggunakan kateter.

Seizure, Konvulsi/Kejang dan Epilepsi 
Sebelumnya kita perlu mengetahui perbedaan seizure, konvulsi dan epilepsi. Yang dimaksud dengan seizure adalah cetusan aktivitas listrik abnormal yang terjadi secara mendadak dan bersifat sementara di antara saraf-saraf di otak yang tidak dapat dikendalikan. Akibatnya, kerja otak menjadi terganggu. Manifestasi dari seizure bisa bermacam-macam, dapat berupa penurunan kesadaran, gerakan tonik (menjadi kaku) atau klonik (kelojotan), konvulsi dan fenomena psikologis lainnya. Kumpulan gejala berulang dari seizure yang terjadi dengan sendirinya tanpa dicetuskan oleh hal apapun disebut sebagai epilepsi (ayan). Sedangkan konvulsi adalah gerakan mendadak dan serentak otot-otot yang tidak bisa dikendalikan, biasanya bersifat menyeluruh. Hal inilah yang lebih sering dikenal orang sebagai kejang. Jadi kejang hanyalah salah satu manifestasi dari seizure. Sulit membuktikan jika perempuan penyandang epilepsi akan lebih sering terkena seizure saat hamil. Jika kita pernah terkena seizure, kita pasti mengetahui seberapa sering dan seberapa parah kondisinya. Jika kita mengonsumsi beberapa obat antiseizure, khususnya phenytoin (diphenylhydantoin, Dilantin), kemungkinan resiko anak cacat meningkat. Namun jangan berhenti mengonsumsi obat antiseizure saat hamil karena bisa mengakibatkan seizure semakin parah dan bahkan membunuh kita. Phenobarbital (phenobarbitone, Luminal) kemungkinan merupakan obat antiseizure teraman untuk dikonsumsi saat hamil.

Kaki Bengkak 
Pembengkakan terjadi di awal trimester kedua. Calon ibu penyandang disabilitas yang gerakannya terbatas sering mengalami pembengkakan. Kaki bengkak biasanya tidak berbahaya, tapi jika bertambah parah saat bangun tidur, tangan dan wajah bengkak setiap saat kemungkinan itu merupakan gejala pre-eklampsia. Untuk meredakannya, cobalah berbaring dengan posisi miring selama 30 menit 2 atau 3 kali sehari. Tidak cukup jika hanya duduk dengan kaki diangkat ke atas.

Pre-Eklampsia
Tangan dan wajah bengkak bisa merupakan gejala pre-eklampsia, khususnya jika kita mengalami sakit kepala, pandangan kabur dan nyeri di perut. Berat badan naik mendadak, tekanan darah tinggi dan banyak kandungan protein dalam urine juga merupakan gejala pre-eklamsia. Pre-eklampsia bisa menyebabkan konvulsi dan baik janin maupun diri kita bisa meninggal dunia. Kita beresiko terkena pre-eklampsia jika ibu atau saudari kita mengidap pre-eklampsia, merupakan kehamilan pertama, atau kehamilan pertama dari pasangan baru. Pre-eklamsia sering terjadi pada perempuan yang memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, dan masalah ginjal; mengidap sakit kepala parah; berusia lebih dari 35 tahun; dan berharap memiliki anak lebih dari satu. Jika kita memiliki gejala-gejala tersebut, hubungi dokter segera.