Search This Blog

Loading...

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Thursday, March 10, 2011

What Diah Has Copied: STUDI MENGENAI DIFABEL

Oleh Yusuf Assidiq

ILMUWAN MUSLIM MELONTARKAN BANYAK GAGASAN DALAM MENANGANI DIFABEL.

Kepedulian kepada para difabel telah lama tumbuh. Pemerintah Islam menerapkan kebijakan-kebijakan yang adil bagi mereka. Mereka mendapatkan hak-haknya seperti warga lainnya. Warga Muslim menaruh kepedulian tinggi. Para ilmuwan tak ketinggalan memberi andil.

Keberadaan difabel di tengah masyarakat menggerakkan hati dan pikiran untuk melakukan kajian dan penelitian. Beberapa bagian dari pemikiran dan karya mereka memberi fokus mengenai para difabel dari berbagai perspektif. Banyak ilmuwan kontemporer kemudian mengungkapkannya.

Martha E Banks, Mariah S Gover, dan Catherine A Marshal dalam buku Disabilities: Insights from Across Fields and Around the World, misalnya, mencatat sejumlah ilmuwan Muslim yang mencurahkan perhatiannya pada para difabel. Salah satunya adalah al- Jahiz (781-869), yang lebih banyak dikenal karena teori evolusinya.

Filsuf, teolog, psikiater, sejarawan, dan ahli biologi asal Basra, Irak ini termasuk ilmuwan paling awal yang mengulas keberadaan kaum difabel. Menurut dia, keberadaan difabel merupakan kenyataan sosial. Karena itu, ia meminta masyarakat tak mengabaikan keberadaan difabel yang hidup di antara mereka.

“Para difabel harus tetap diberi hak yang sama untuk beribadah,membuka usaha, maupun bekerja di lembaga-lembaga resmi,” ungkap al-Jahiz. Ia menambahkan bahwa kondisi yang ada pada difabel bukanlah hukuman dari Tuhan. Ia mengoreksi pandangan sejumlah kalangan kala itu.

Sementara itu, Al-Haytham bin Addiy menulis tentang kewajiban moral umat untuk meringankan beban difabel.

Sedangkan, Khalil bin Aybak al-Safadi, yang meninggal dunia pada 1361 Masehi, menyusun risa lah biografi tentang tokoh-tokoh besar yang juga difabel, baik tunanetra maupun tunarungu.

Langkah mulia para ilmuwan Muslim terdahulu terus berlanjut. Al-Basit melangkah lebih jauh dengan mengusulkan pada hal yang lebih praktis. Ia mendorong penggunaan zakat untuk pemberdayaan difabel. Zakat yang terkumpul dari masyarakat hendaknya didistribusikan untuk membiayai program-program produktif.

Antara lain, membuka pelatihan keterampilan atau lapangan kerja bagi para difabel. Ilmuwan abad ke-16 Masehi juga menggarisbawahi perlunya penguasa terus membantu kaum difabel dengan berbagai program. Seabad kemudian, perhatian terhadap difabel juga tak luntur.

Sultan Muhammad Qari al-Harawi, ilmuwan abad ke-17 Masehi, membahas hak-hak difabel. Selain itu, ia mengugah kesadaran umat tentang kewajiban mereka terhadap difabel sesuai ajaran Alquran dan hadis. Pada masa pemerintahan Islam, fasilitas khusus bagi difabel tersedia. Juga ada lembaga khusus dan pusat bimbingan bagi difabel.

Menjadi rujukan

Pada akhirnya, Martha E Banks, Mariah S Gover, dan Catherine A Marshal menyimpulkan, karya dan pemikiran ilmuwan Muslim sangat penting. Sebab, pemikiran ilmuwan-ilmuwan tersebut menjadi rujukan penting dalam menyikapi dan menyusun kebijakan bagi difabel. Kian terbuka wawasan umat dalam kenyataan sosial mengenai keberadaan difabel. Bahkan, sejumlah terobosan berarti ditemukan untuk membantu kehidupan difabel. Saintis Barat, Sara Scalenghe, menemukan bukti konkret terkait penggunaan bahasa isyarat bagi penyandang tunarungu dan tunawicara pada zaman Turki Usmani.

Begitu pula terungkap adanya pemberlakuan kebijakan dan aturan yang memberi keistimewaan bagi warga difabel.

Misalnya, dalam perkawinan, pekerjaan, hak properti, dan pelaksanaan ibadah. Jere L Bacharach dalam Medieval Islamic Civilization: An Encyclopedia menyatakan, studi tentang kaum difabel pada abad pertengahan sangat maju.

Kemajuan itu telah memasuki tahap penelitian medis mengenai sebab dan metode penanganan difabel. Ilmuwan Muslim, jelas Bacharach, berhasil mengklasifikasi penyebab terbesar kecacatan, yakni peperangan, usia renta, infeksi, epidemi penyakit, dan beberapa lainnya. Diketahui juga jenis yang paling sering ditemui, misalnya, kebutaan, tuli, pincang, dan lepra yang dapat menyebabkan cacat permanen.

Kebutaan merupakan jenis cacat dengan jumlah terbesar. Di antara sebab utama adalah kekurangan gizi, trachoma, katarak, penyakit gula (glukoma), serta infeksi mata.

Beberapa dokter Muslim kemudian memiliki spesialisasi dalam penyembuhan penyakit mata dan kebutaan, seperti Abi Mahasin, al-Jurjani, dan Ali bin Isa. Ini merupakan andil dan kepedulian mereka terhadap difabel. _ ed: ferry kisihandi


No comments:

Post a Comment