Search This Blog

Introduction

Bermula dari dirangkai. Titik demi titik dirangkai menjadi garis. Garis demi garis dirangkai menjadi huruf. Huruf demi huruf dirangkai menjadi kata. Kata demi kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat dirangkai menjadi alinea.

Monday, June 27, 2011

What Diah Has Shared: INCLUSIVE EDUCATION AWARD 2011


Kerjasama Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional dan Helen Keller International-Indonesia

Pemerintah dalam hal ini Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (PPK-LK Dikdas) Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional bekerjasama dengan Helen Keller International (HKI)-Indonesia akan menganugerahkan Inclusive Education Award (IE) 2011. Pada kegiatan ini Yayasan Mitra Netra diikutsertakan dalam Penyebaran Informasi dan Formulir.
Tujuan penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk mendorong terselenggaranya pendidikan inklusi dan memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang secara signifikan telah menunjukkan jasanya bagi terwujudnya penyelenggaraan pendidikan inklusi di Indonesia.

A.   Yang Menominasikan:
Yang bisa mengajukan nominasi adalah pribadi yang bersangkutan atau orang lain, baik atas nama pribadi maupun lembaga.

B.   Katagori Penghargaan & Kandidat:
1.    Terdapat 3 Katagori Penghargaan:
a.    Penghargaan Katagori Pemerintah untuk Gubernur.
b.    Penghargaan Katagori Sekolah untuk Kepala Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi
c.    Penghargaan Katagori Individu diberikan kepada individu yang secara konsisten melakukan prakarsa strategis, inovatif, dan berdampak bagi terselenggaranya pendidikan inklusi. Penerima penghargaan katagori ini bisa dari kalangan dosen, orang tua, aktivis.
2.    Para kandidat yang dinominasikan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.    Warga negara Indonesia
b.    Berkelakuan baik
c.    Pada waktu diusulkan tidak dijatuhi hukuman pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
d.    Dinominasikan oleh pihak lain atau menominasikan sendiri
e.    Memiliki kontribusi signifikan bagi terselenggaranya pendidikan inklusi.

C.   Petunjuk Pengisian dan Pengiriman Formulir
Isilah secara lengkap seluruh pertanyaan, dan apabila lembar isian yang tersedia tidak cukup dapat menggunakan lembar terpisah.
1.    Formulir ini dapat diperbanyak sesuai kebutuhan.
2.    Formulir wajib dilengkapi Lampiran Penunjang yang dapat membuktikan atau memperkuat pernyataan yang memerlukan dokumen penunjang. Jika diajukan pihak lain dan belum dilengkapi dengan Lampiran Penunjang, maka bagi yang lolos dari penyaringan awal diwajibkan dapat menunjukkan Lampiran Penunjang yang diperlukan pada saat diadakan verifikasi. Lampiran Penunjang dapat berupa:
·                     Dokumen Surat Keputusan dan peraturan lain-lain terkait pendidikan inklusi
·                     Dokumentasi foto
·                     Dokumentasi video
·                     Kliping berita media massa
·                     Karya tulis
·                     Sertifikat dan piagam
·                     Produk yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan inklusi
·                     Lain-lain yang menunjang pernyataan dan bisa dipertanggungjawabkan.
3.    Formulir dan Lampiran Penunjang dapat dikirim melalui Pos atau Email.
4.    Formulir dan Lampiran dalam amplop tertutup dikirimkan ke alamat Sekretariat Penganugerahan IE Award 2011, Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional RI , Jl. RS. Fatmawati, Cipete Jakarta Selatan, 12410
5.    Pengiriman Formulir dan Lampiran Penunjang melalui email:
Subyek: Formulir IE Award 2011
Lampiran Penunjang dalam bentuk scan PDF/JPG/JPEG atau avi/ MPEG untuk file video
6.    Batas Akhir Pengiriman Formulir dan Lampiran Penunjang melalui pos adalah Jum’at / 22 Juli 2011 (Cap Pos), melalui email 22 Juli 2011 pukul 24.00 WIB.

D.   Penyaringan
Penyaringan akan dilakukan oleh Dewan Juri terhadap dokumen Formulir dan Lampiran Penunjang yang diterima Panitia.

E.    Verifikasi Lapangan
Verifikasi dilakukan oleh Dewan Juri melalui observasi dan wawancara. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.

F.    Pengumuman
Pengumuman Penerima Award akan dilakukan melalui:
·                     Media cetak nasional Media Indonesia terbit 2 September 2011
·                     Website Direktorat PPK-LK Dikdas www.ditplb.or.id
·                     Website Mitra Netra www.mitranetra.or.id

G.   Jadwal Seleksi
Batas Penerimaan Formulir dan Lampiran Penunjang: 22 Juli 2011
Penyaringan: 25 Juli 2011
Verifikasi Lapangan oleh Dewan Juri: 8 – 13 Agustus 2011
Pengumuman Penerima Award: 2 September 2011
Penganugerahan Award pada acara OSN Direktorat PPK-LK: 12 September 2011

H.   Download
Klik http://www.mitranetra.or.id/default.asp?page=event&id=8  untuk download Formulir, Petunjuk Pengisian, dan Brosur Kegiatan

Tuesday, June 21, 2011

What Diah Has Shared: Press Release Kopdar SI Jogja Juni 2011



PRESS RELEASE


Spiritual Indonesia, one of the largest spirituality-based online communities in Indonesia, is to hold a convocation for members and friends with the following details.

TIME : Saturday, June 25 at 3:00pm - June 26 at 6:00am
LOCATION : Penginapan Tutwuri, Jl. Parangkusumo. Mancingan XI 2/22, Parangtritis, Central Java, Indonesia GPRS 08S01'14 - 110E19'27
THEME : SESAJI BUMI NUSANTARA (Tribute to the Motherland)

Event highlights:
1. Mr Frans Hananto, an expert on Javanese rituals, will oversee the ritual offering to the South Seas or the Indian Ocean. Hananto will also have a session with participants to explain the symbols and meaning behind every ritual item used in the ritual. The ceremonial liturgy used is in line with the Javanese court tradition as practiced since the days of Panembahan Senopati, a 17th century Javanese Mataram king.
2. Mr Lilik Wysa and Tim Gendam Yogyakarta will hold a historical presentation and a live demonstration of ancient Javanese techniques of mind control and hypnosis, such as GENDAM, often employed by con artists for material gains.
3. Mr Abang Sihar Marojahan Panggabean will be presenting a new breakthrough in the Indonesian spiritual community. His presentation will deal with how to make a technical device capable of measuring and detecting energy field within the human body and within nature itself. Abang Sihar will also demonstrate how to use the device.

MC of the event will be Ms Rini Candra, a master Kundalini. The event will also feature other notable Spiritual Indonesia activists such as Leonardo Rimba, co-writer of Psikologi Tarot as well as founder of Spiritual Indonesia, and Gunadi Widjaya, Master Fengshui and parapsychology researcher. Aura snapshots and Tarot readings will also be available from different practitioners.

Spiritual Indonesia (SI) is an avant-garde online community that has been in existence since 2004. SI embraces universal spirituality and pluralism. SI convocations have been a tradition since 2007 with an emphasis on the sharing of spiritual experiences from all its diverse members.

PS: Participants from the Press Corps are free to attend the convocation. For logistical reasons, please notify us the number, and if possible, the names of the attendants.

Spiritual Indonesia can be found on:

For further information on the convocation:
Ms Rini Candra : 628129486948
Mr Abang Sihar Marojahan Panggabean: 0628566006985
Ms Tia Ningsih : 6282136939636
Mr Johannes Nugroho : 6287854776199 johannes@nonacris.com

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PRESS RELEASE


Spiritual Indonesia, salah satu komunitas spiritual online terbesar di Indonesia, akan mengadakan kopi darat bagi para anggota dan pemerhati spiritual se tanah air.

TANGGAL DAN WAKTU : Sabtu, 25 Juni jam 15.00 s/d 26 Juni jam 6:00
LOKASI : Penginapan Tutwuri, Jl. Parangkusumo. Mancingan XI
2/22, Parangtritis, Jawa Tengah, Indonesia GPRS 08S01'14 - 110E19'27
TEMA : SESAJI BUMI NUSANTARA

Susunan acara:
1. Bp Frans Hananto, pakar dalam ilmu sesajen dan ritual Jawa, akan mempraktekkan secara langsung sesajen untuk Laut Selatan. Bp Frans juga akan mengadakan sesi untuk menjelaskan makna di balik semua ritual sesajen dan bahan-bahan sesaji, sesuai dengan tradisi kraton Jawa sejak jaman Panembahan Senopati.
2. Bp Lilik Wysa and Tim Gendam Yogyakarta akan mempresentasikan sekaligus mendemonstrasikan teknik hipnotis dan GENDAM yang merupakan aplikasi dari disiplin ilmu batin Jawa yang sudah berumur ratusa tahun.
3. Bp Abang Sihar Marojahan Panggabean akan membawan sebuah terobosan bagi komunitas spiritual di tanah air dengan presentasi bagaimana menciptakan alat yang bisa dipergunakan untuk mengukur dan mendeteksi energi di tubuh manusia dan alam sekitar, sekaligus cara memakainya dan praktek langsung di acara.

Pemandu acara sarasehan adalah Ibu Rini Candra, master Yoga Kundalini. Kopdar juga akan dihadiri banyak sesepuh SI lainnya seperti Bp Leonardo Rimba, penulis Psikologi Tarot dan pendiri Spiritual Indonesia, Gunadi Widjaya, pakar Fengshui and periset parapsikologi. Setiap kopdar juga menghadirkan foto aura pribadi dan pembacaan Tarot dari berbagai member SI.

Spiritual Indonesia (SI) adalah sebuah komunitas avant-garde yang sudah ada sejak 2004. Spiritual SI adalah spiritual universal yang mendukung pluralisme. Kopi darat SI sudah menjadi tradisi sejak 2007 dan merupakan acara di mana partisipan bisa membagi pengalaman-pengalaman spritualnya secara terbuka.

NB: Teman-teman Pers bisa mengikuti acara secara cuma-cuma. Untuk keperluan konsumsi, dsb, mohon diinfokan jumlah dan nama peserta kepada panitia.

Spiritual Indonesia ada di:

Untuk informasi lebih lanjut:
Ms Rini Candra : 628129486948
Mr Abang Sihar Marojahan Panggabean: 0628566006985
Ms Tia Ningsih : 6282136939636
Mr Johannes Nugroho : 6287854776199 johannes@nonacris.com

Monday, June 20, 2011

What Diah Has Recommended: Kutipan, Ulasan dan Pujian "Membuka Mata Ketiga" karya Leonardo Rimba

 Kutipan:

“Apakah mata ketiga itu? Apakah Simbol itu? Dan bagaimanakah cara interpretasi simbol yang muncul di kesadaran manusia hidup itu? Tiga pertanyaan mendasar itu akan dicoba dijawab dalam 106 (seratus enam) percakapan yang menjadi isi dari buku ini. Semua percakapan itu dilakukan antara bulan Maret 2007 sampai dengan Maret 2008 melalui Yahoo Messenger dan e-mail. Memang melalui internet; baik pertanyaan, jawaban, dan bahkan sirkulasi semua dilakukan melalui internet. Yang ditanyakan, itulah yang dijawab. Bertanya juga apa adanya saja, dan dijawab apa adanya juga. Semuanya berjalan apa adanya saja, tanpa dibuat-buat, tanpa rekayasa. Dan itu bisa terlihat dengan jelas dalam gaya bahasa yang digunakan. Bahasa sehari-hari saja yang mudah dimengerti dan dicerna oleh siapa pun yang memahami bahasa Indonesia.

Bagian pertama berisikan tanya-jawab seputar pengertian tentang simbol. Bagian kedua tentang interpretasi simbol yang muncul dalam mimpi. Bagian ketiga tentang simbol yang muncul dalam penglihatan. Prinsip-prinsip interpretasi selalu sama, baik simbol itu muncul dalam mimpi maupun penglihatan, dan itu bisa ditelusuri dengan mudah di dalam tanya-jawab yang ada. Bagian ketiga merupakan satu sampel bagaimana suatu tanya-jawab tentang mata ketiga, simbol, dan interpretasinya itu berjalan dalam “real time”. Ada 12 (dua belas) tanya-jawab antara Jacky Chen (mahasiswa di Jakarta, 20 tahun) dan saya. Dan pembaca akan bisa melihat bahwa Jacky sedikit demi sedikit akhirnya memahami apa yang dinamakan mata ketiga itu, apa hubungannya dengan kehidupan kita sebagai insan spiritual, dan bagaimana menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara apa adanya saja.”

Ulasan:

Mata ketiga adalah mata batin yang terletak di antara dua mata, sering disebut sebagai Mata Tuhan, Mata Siwa, atau Cakra Ajna. Mata ketiga adalah pusaran energi yang menjadi pengendali dari semua cakra yang berada di dalam diri manusia dan yang menghubungkan jiwa dengan dimensi-dimensi yang lebih tinggi melalui bahasa simbol. Terbukanya mata ketiga adalah tersingkapnya tirai batin untuk melihat dan mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang tak biasa. Wawasan serta-merta akan berkembang dalam menyaksikan realitas fisik yang ilusif dan menipu. Terbukanya mata ketiga akan membangkitkan kesadaran seseorang untuk melihat sesuatu secara apa adanya, tanpa menilai, apalagi menghakimi. Terbukanya mata ketiga akan menghubungkan diri kita dengan "higher self", roh pembimbing, atau malaikat-malaikat di dimensi yang lebih tinggi.

Buku ini menampilkan kisah-kisah nyata tentang pengalaman-pengalaman spiritual terkait dengan pengalaman mata ketiga (mimpi, perjalanan astral [OOBE], pertemuan dengan roh di alam lain, dan masalah-masalah spiritual lainnya), disampaikan dalam bentuk percakapan “gaib” antara Leonardo Rimba (spesialis pembuka mata ketiga) dengan teman-teman perjalanan spiritualnya. Melalui buku ini, Anda diharapkan bisa mengaktifkan sendiri mata ketiga Anda, untuk meraih keseimbangan diri, kebahagiaan, juga kewaskitaan. Bersiaplah untuk mengembara menembus batas ruang dan waktu, menuju alam spiritual yang ada di dalam diri Anda. Inilah sebuah buku yang akan membantu menemukan kesejatian di dalam diri. Sebuah buku yang akan mengubah paradigma spiritual di Indonesia.

Pujian-Pujian:

“Melalui buku ini, para pembaca bisa mengaktifkan sendiri Cakra Ajna (mata ketiga)-nya. Cakra Ajna terletak di antara alis mata kanan dan alis mata kiri. Cakra ini bisa terus diaktifkan dengan tujuan spiritual yang aplikatif, semisal melihat cakra orang lain, energi positif atau negatif pada orang lain, makhluk spiritual atau makhluk gaib, dll. Cakra Ajna memiliki dua bagian, depan dan belakang. Bagian depan menguasai otak besar, bagian belakang menguasai otak belakang. Cakra Ajna bagian depan akan menyeimbangkan Cakra Ajna bagian belakang. Cakra Ajna juga merupakan titik pemusatan perhatian dan pengatur cakra-cakra lainnya, untuk keselarasan dan keseimbangan. Selamat kepada Mas Leo atas terbitnya buku ini. Sebuah gagasan yang sangat bagus untuk memperkenalkan mata ketiga kepada masyarakat umum!”
—Rini Candra, Master Maha Yoga Kundalini (Bekasi)

“Leonardo Rimba sangat brilian. Dengan pengetahuan yang mendalam dan gaya tulisan yang lucu, enak dibaca, dan mudah dipahami, dia mampu menjadi pemandu spiritual ideal yang membantu kita memahami mata ketiga serta simbol dan interpretasinya yang kompleks.”
—Rangga L Tobing, penulis, pengamat spiritual dan sains (Bandung)

“Leonardo Rimba berhasil membantu banyak orang yang terlibat masalah dengan cara menawarkan sebuah way out ala spiritual. Saya sangat menggemari tulisan-tulisannya. Saya berharap buku-bukunya yang lain muncul setelah ini, karena menurut pengamatan saya, setelah pembukaan mata ketiga, harus ada seorang master yang terus menjaga dan memelihara kesadaran yang telah terbangkitkan.”
—Haslinda Razalie, aktivis spiritual (Jakarta)

“Buku yang mencerahkan dengan cerita-cerita sederhana yang membuka mata batin kita bahwa setiap manusia berhak untuk menikmati hidup dengan bahagia dan bebas dari rasa takut, tanpa adanya ancaman dari dogma agama. Ternyata, spiritual truth is very simple!”
—Widya Astuti, mahasiswi (Denpasar)

“Membaca Leonardo Rimba adalah membaca masa depan dengan mengobrak-abrik masa lalu. Dia begitu progresif, bahkan anarkis, dalam menggoreskan kata-katanya. Kedalaman analisisnya, disertai paparannya yang apa adanya, akan membuat kening Anda berkerut. Tulisan-tulisannya akan memaksa Anda untuk mempertanyakan semua yang selama ini Anda percayai dan membuat Anda melihat hidup Anda lebih dalam lagi. Buku ini adalah sebuah aufklarung (pencerahan) di tengah kering kerontang keberagamaan di Indonesia.”
—Muhammad Amin, pengusaha (Amsterdam, Belanda)

“Di bagian dialog dengan ‘Jacky Chen’, wah, saya paling suka itu. Asyik dan lucu. Saya tidak menyangka ada banyak orang yang punya pengalaman seru. Masih bikin saya tercengang dan agak bengong. Seperti dongeng. Seperti sedang membaca kisah dari orang-orang yang hidup di dunia yang tidak begitu saya kenal.”
—Kanthi Asih, aktivis HAM (Jakarta)

“Sadar atau tidak, kita adalah orang-orang yang sedang mencari. Buku ini menyodorkan sisi lain dari ratusan sisi bagi kita yang sedang mencari. Tujuannya tidak lain adalah untuk berbagi dan menyadari bahwa dalam keberagaman, sebenarnya kita bertujuan sama, yakni agar kita semua dapat menikmati keindahan dalam perbedaan. Buku ini mengajak kita untuk lebih mengenal diri kita masing-masing, tanpa penilaian dan prasangka terhadap yang lain.”
—I Gusti Budianthika, aktor film (Gold Coast, Australia)

“An eye between the eyes, suggestively referred as the third eye, Shiva’s Eyes and God’s Eye. There’s a balance in thought, wherein the third eye functions with the same purpose as our two eyes which can utterly see the perspective of space, shape, colors, beauty and abhorrence of reality. Close your eyes, shut-off the 3-D reality, the sensual feeling entrapped in the mind has provocatively set an imagination which triggers the emotion softly or wildly. Let the emotion subside to give way the emerging of real feelings. The realization of balance in emotion is deprived of senses, the eye between the eyes, can witness the shapes of energy (aura of shapes) in 3-D setting which let us feel the higher sensitivity that supersedes the matter.”
—Niki Saraswati, seniwati (Denpasar)

“Buku ini adalah sebuah karya yang berbeda dari buku-buku sejenis. Di dalamnya berisi tanya jawab antara si penanya dengan si penjawab. Si penjawab merespons pertanyaan si penanya dengan spontan, tanpa pikir panjang dan apa adanya. Yang ada pada saat itu, itulah yang menjadi jawabannya. Mungkin bagi beberapa orang isinya agak ngawur. Tapi, begitulah interpretasi, bisa berbeda masing-masing orang.”
—Andrea Febrian Marcel, pengusaha muda (Jakarta)

“Terbukanya mata ketiga adalah bangkitnya kesadaran seseorang untuk melihat sesuatu secara apa adanya, tanpa menilai apalagi menghakimi. Terbukanya mata ketiga adalah terhubungnya diri kita dengan yang disebut higher self, roh pembimbing, kakang kawah, atau sebutan lainnya. Secara sederhana, terbukanya mata ketiga adalah bersatunya kesadaran manusiawi dengan kesadaran roh. Selamat atas buku Mas Leo yang inspiratif ini.”
—Wawan Sumanta, aktivis spiritual (Tangerang)

“Mimpi hanya sebatas mimpi yang tidak nyata, bunga tidur belaka. Sedangkan simbol atau pertanda yang tiba-tiba muncul hanya sebatas kebetulan semata, tak lebih. Demikian biasa orang menyikapi sebuah pengalaman hidup, yang sesungguhnya adalah sebuah pesan yang mesti disikapi lebih lanjut. Membuka mata ketiga adalah bentuk usaha paling mudah yang ditawarkan Leonardo Rimba untuk memaknai mimpi dan pertanda yang hadir menghampiri kita, di mana di sini akan diulas secara singkat, akurat, serta sederhana. Mata ketiga diharapkan akan menyempurnakan indra fisik yang seringnya silau serta menyesatkan. Dengan perantaraan ‘indra’ mata ketiga yang dimiliki setiap orang, diharapkan perjalanan spiritualnya bisa semakin berwarna serta tercerahkan di setiap
—Yanti Kusumastuti, pengusaha internet (Yogyakarta)

“Membaca buku yang sarat dengan pengalaman orisinal ini sedikit-banyak telah mempengaruhi kesadaran saya mengenai acceptance terhadap diri saya, keberadaan saya, dan pada akhirnya terbukanya diri saya terhadap apa pun yang ada di luar diri saya. Bukan untuk mengesampingkan yang sudah ada dan tertata, tapi lebih memahami segala sesuatu apa adanya, tanpa rekayasa. Itulah orisinalitas.”
—Hanida Widyaningtyas, karyawati swasta (Semarang)

“Tulisan-tulisan Leonardo Rimba selalu menambah wawasan saya mengenai spiritualitas dan agama. Sehingga, hal itu banyak mengubah sikap saya untuk tidak menjadi fanatik dalam menyikapi perbedaan. Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengetahuan mengenai spiritual yang sering disalahartikan oleh banyak orang.”
—Denny Nicolas, pengusaha swasta (Jakarta)

“Buku ini bagi saya setara dengan perjalanan menuju puncak Borobudur. Sebelum mencapai pencerahan di puncak, kita disuguhi berbagai relief batin. Dari topik sehari-hari maupun topik penuh kontroversi, semua ditulis secara blak-blakan. Uniknya, dengan gaya khas Pak Leo, perjalanan tersebut bukanlah sebuah prosesi yang khusyuk sebagaimana ritual-ritual yang kita kenal, namun seperti sebuah trekking santai yang bisa disambi sambil ngopi atau ngeteh. Untuk manusia-manusia Indonesia yang masih terkungkung oleh ritual agama, bersiaplah untuk sebuah tsunami spiritual. Untuk Anda yang sudah melawati fase ritual dan mendambakan sesuatu yang lebih, bersiaplah untuk membuka mata ketiga Anda.”
—Johannes Nugroho Onggo Sanusi, pengusaha swasta (Surabaya)

“Sedari kecil, banyak sekali pertanyaan di benak saya tentang Tuhan dan kehidupan. Seiring waktu, alam langsung turun tangan, memberikan jawaban berupa perjalanan yang mengantar saya hingga bisa bertemu Pak Leo dan teman-teman Spiritual Indonesia lainnya. Lewat tulisan-tulisan Pak Leo, saya jadi mengerti bahwa saya bisa bertemu Tuhan kapan pun, sebab Tuhan tak beda dengan kesadaran kita sendiri. Buku ini adalah salah satu yang terbaik dari tulisan Pak Leo, yang semakin mengembangkan kesadaran dan spiritualitas saya.”
—Devia Arisandi, mahasiswi (Jakarta)

“Saya seperti melihat sekumpulan manusia yang sedang berdialog lintas agama, budaya, negara, dan profesi dengan cara yang santai serta cerdas, yang mampu memperlihatkan benang merah dari beragam agama. Buku ini membantu saya untuk menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan abadi tentang Tuhan, neraka, surga, setan, atau malaikat. Ini buku yang wajib dibaca oleh orang-orang yang hatinya selalu haus akan kebenaran di tengah lautan dogma yang sering kali menenggelamkan kita dalam kebingungan.”
—Yulius Leonarta Tarigan, pengusaha internet (Medan)

“Tulisan yang sangat menggigit, apa adanya, simpel, bahasanya gaul tapi penuh makna, tepat sasaran, juga berdasarkan fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Topik serius seperti Tuhan dapat dibawakan dengan santai. Dan ternyata, Tuhan juga sekadar konsep. Buku ini mampu membuka sekaligus memberikan pandangan baru mengenai sosok Tuhan yang kaku dan jauh di ujung langit sana. Setelah membaca tulisan Om Leo ini, saya menemukan sesuatu yang really fresh and new! Tuhan tidaklah sejauh itu asalkan kita mau mempelajari simbol-simbol keberadaan-Nya di sekitar kita!”
—Wenny Anggraini, karyawati swasta (Mataram)

“Di saat doktrin agama sudah merajalela, manusia zaman sekarang banyak yang akhirnya tidak kreatif, bahkan cenderung jauh dari pemahaman spiritual yang sebenarnya. Namun manusia diberi akal oleh Sang Pencipta dan akhirnya sebagian dari mereka pun mampu bersuara untuk mencari kebenaran dari pemahaman yang sudah ada. Membuka Mata Ketiga adalah pergumulan anak-anak manusia yang mencari kebenaran dan petunjuk-petunjuk penting dalam kehidupan mereka. Semua dibahas secara terbuka oleh Om Leo, yang memiliki banyak pengalaman spiritual sepanjang perjalanan hidupnya.”
—Deniya Patricia, pembaca kartu tarot (Jakarta)

“Ini zamannya jiwa-jiwa yang senang dengan keterbukaan dan keterusterangan beraksi. Tulisan-tulisan Leonardo Rimba punya jiwa itu. Sebagai seorang pemikir bebas, saya suka tulisan-tulisan Leo. Sayangnya, selama ini kebanyakan tulisan Leo hanya banyak nongol di dunia maya yang, tentu saja, terbatas. Kehadiran buku ini memangkas kekurangan tersebut. Selamat membaca!”
—Frans Donald, penulis dan pemikir bebas (Semarang)

“Leonardo Rimba adalah singa! Raungannya membuka mata-mata yang tengah terlelap.”
—Nugraha Adi Pratama, mahasiswa (Melbourne, Australia)

“Tulisan Mas Leo sangat gamblang, sederhana, dan mampu menelanjangi pikiran-pikiran saya dari dogma dan belief system yang menyesatkan. Tak perlu ritual-ritual atau ide-ide yang rumit. Telanjang saja dan menjadi diri Anda sendiri.”
—Ellsy Ayu Anggraeni, pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia (Jakarta)

“Buku ini harus dibaca oleh semua orang agar bisa keluar dari ‘tempurung katak’ dogmanya. Mas Leo, setelah membaca buku ini, saya jadi sangat ingin untuk berdiskusi dengan Mas Leo tentang sebuah pertanyaan yang saya simpan selama lebih dari 25 tahun. Sepertinya Mas Leo adalah orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan saya.”
—Lucia Setio Utomo, pengusaha garmen (Solo)

“Membaca buku ini membuat jidat saya terasa cenut-cenut karena begitu besarnya energi di dalamnya.”
—Wahyu Sulistiyo, musisi (Depok)

“Pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku ini, apabila dibaca, akan menjadi sesuatu yang sangat menghibur sekaligus mendidik bagi siapa saja yang memahami serta mengerti nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.”
—Ika Sari Puspita, pegawai negeri sipil (Jakarta)

“Membaca buku ini adalah sebuah pengalaman yang sangat unik. Penulis memberi saya sebuah paradigma baru yang ‘lain’. Mata ketiga atau mata batin diulas sangat lengkap di sini. Jika dulu saya mengira mata ketiga berfungsi untuk melihat hal-hal yang tak kasatmata, lewat buku ini penulis menguraikan bahwa mata ketiga bukanlah seperti apa yang selama ini saya kira. Mata ketiga adalah cara pandang kita yang berbeda dalam melihat segala sesuatu. Dan ini didapat lewat meditasi di kelenjar pineal yang penulis istilahkan dengan God’s Spot. Mengenai simbol-simbol, saya terkesan dengan apa yang diuraikan penulis dengan interpretasi yang mendalam dan terlepas dari segala belief system. Sungguh sebuah pencerahan!”
—Ernest Lesmana, pegawai swasta (Tangerang)

“Bagi saya, buku ini adalah surat cinta dari sang pengarang kepada setiap jiwa yang mengembara mencari kesejatian. Kita dibawa kepada pencerahan menyejukkan yang sering kali sangat mengharukan. Kelucuan terselip di sana-sini, sebagai merupakan kejujuran yang jenaka, dan yang lainnya adalah sebuah kesadaran betapa bodohnya kita selama ini.”
—Nicolas Noviyanto, penerjemah (Jakarta)

“Buku ini amat banyak manfaatnya. Saya sangat berharap Membuka Mata Ketiga ini bisa dibaca oleh banyak orang. Semoga damai datang dari segala arah.”
—Jiwa Negara Yanik, karyawan swasta (San Francisco, USA)

“Spektakuler! Luar biasa! Walau hanya pergumulan sederhana, namun isi tulisan-tulisannya membuat banyak orang jadi tercerahkan karena buku ini mampu membuka mata batin atau mata ketiga.”
—M. Nizar, dosen politeknik (Palembang)

“Bacaan ini sangat berguna untuk semua kalangan, baik tua maupun muda, religius maupun non-religius, baik yang masih percaya keagungan Tuhan atau yang atheis sekalipun. Mengupas tuntas sisi kehidupan manusia yang mencari pencerahan, mengejar eksistensi Tuhan, menemukan jati diri, tentunya di alam kesadaran.”
—Dafri Ariano, operator pemancar satelit (Jakarta)

“Semua manusia memiliki mata ketiga. Bedanya hanya apakah ia menggunakannya atau tidak. Atau, sejauh mana ia mampu menerawang berbagai tanda melaluinya. Banyak manusia menutup mata hatinya, yang sudah pasti akan menutup mata ketiganya. Banyak manusia di sepanjang hidupnya hanya bergantung kepada hasil penglihatan mata ketiga orang lain saja, tanpa berusaha mengembangkan kemampuannya sendiri. Sebuah buku yang luar biasa.”
—Made Restiati, pengusaha (Denpasar)

“Bravo, Om Leo! Akhirnya terbit juga buku ajaib ini. Terus terang, saya tidak bisa betah berjam-jam membaca buku ini. Energinya membuat saya kliyengan. Buku ajaib ini banyak mengubah pemahaman saya tentang jiwa manusia secara mendasar.”
—Vivi D. Noviyanti, psikolog (Jakarta)

“Membuka Mata Ketiga bukan sekadar mampu meningkatkan pemahaman spiritual saya, melainkan juga meningkatkan penalaran dan jiwa humanis di dalam diri saya. Buku ini disajikan dalam bentuk dialog dengan berbagai individu dari beragam golongan, profesi, serta prinsip dan pola pikir yang dianut. Benar-benar membuka seluruh indra saya.”
—Indra Prayana, Asisten GM sebuah perusahaan elektronik (Jakarta)

“Cara Leonardo Rimba menyampaikan pemikirannya sungguh unik dan luar biasa. Bentuk  penulisan dan gaya bahasanya tertuang apa adanya, membuat pembaca seolah-olah berada di dalam tulisan itu sendiri, sehingga tanpa sadar mereka terbawa ke dalam sebuah bentuk komunikasi yang nyata dan interaktif. Seperti mendaki sebuah bukit, sampai pada titik tertentu kita dapat merasakan kenyataan dan hamparan fakta yang bisa digali, yang menimbulkan medan energi untuk membuka intuisi dan cakrawala berpikir kita.”
—Muallif Al Chasani, karyawan swasta (Surabaya)

“Buku ini disajikan dengan gaya bahasa imajinatif dan naratif yang mudah dipahami oleh orang-orang awam. Lahirnya buku ini membuktikan bahwa Leo telah berhasil mendobrak kemapanan sistem dan norma yang dianut oleh masyarakat. Two thumbs up buat Leo!”
—Diah Marliati, blogger dan penikmat buku (Jakarta)

“Energi dari buku ini sungguh sangat kuat. Siapa saja yang mampu menangkap frekuensi energinya pasti akan paham. Jujur, Bang Leo, tulisan Abang ini merupakan modal saya yang utama untuk naik kelas. Akan tetapi, bagi yang belum bisa menyadari adanya frekuensi energi yang ‘aneh bin gila’ dari buku ini, lebih baik berhati-hati. Sebab, tulisan Bang Leo ini bisa membuat yang gila menjadi waras, atau sebaliknya.”
—Arief Pribadi, praktisi meditasi (Sidoarjo)

“Membaca tulisan-tulisan Mas Leo menjadikan saya mampu berpikir lebih jernih dan tajam. Gaya tuturnya enak disimak, tegas, dan mudah dipahami. Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi kalangan luas.”
—Rudiyana Supriadi, master teacher of hypnotherapy (Garut)


Sampul Muka
SEGERA TERBIT AWAL AGUSTUS 2011!


Judul: Membuka Mata Ketiga (Menyingkap Rahasia Alam Spiritual)
Pengarang: Leonardo Rimba
Penyunting: Endah Sulwesi
Penyelaras Bahasa: Salahuddien Gz
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
Penerbit: Dolphin
Harga: Rp 65.000,- (400 hlm. Bookpaper)

BISA INDEN SEKARANG DENGAN DISKON 15% (Jadinya Rp 55 ribu + ongkos kirim) MELALUI INBOX AKUN SALAHUDDIEN GZ DENGAN MENULISKAN ALAMAT PENGIRIMAN .

Saturday, May 28, 2011

What Diah Has Mini-Researched: Saya Pro-Pilihan, Anda…..?

Sumber: feministsforchoice.com
Kehadiran seorang anak kadang-kadang bukan dambaan seseorang. Alasan-alasan berupa kehamilan di luar nikah, keadaan ekonomi yang sulit, korban pemerkosaan, dan kondisi janin yang cacat menjadi dasar untuk melakukan aborsi. Aborsi merupakan tindakan menghentikan kehamilan melalui pengangkatan janin dari uterus yang mengakibatkan kematian janin.

Aborsi  yang aman dan legal dilakukan oleh seorang dokter kandungan yang ahli dan berkompeten. Namun banyak aborsi yang dilakukan sendiri dan sembunyi-sembunyi karena kurangnya pengetahuan dan rasa malu karena memiliki anak yang tak diinginkan sehingga aborsi gagal dilakukan dan kemungkinan anak yang dilahirkan akan cacat seperti sengaja melakukan pekerjaan yang berat, meminum jamu herbal dan memasukkan benda tajam ke dalam vagina.

Di berbagai belahan dunia, aborsi menjadi isu perdebatan yang kontroversial di masyarakat karena berkaitan dengan sistem nilai yang dianut. Perdebatan yang meliputi pembahasan moral dan hukum aborsi melibatkan dua kelompok, yaitu pro-pilihan dan pro-kehidupan. Masing-masing kelompok beserta opini filosofisnya berusaha mengubah cara pandang masyarakat tentang aborsi dan memperoleh dukungan hukum.

Pro-Pilihan Versus Pro-Kehidupan

Gerakan pro-pilihan atau gerakan hak-hak aborsi memandang bahwa perempuan memiliki hak menghentikan kehamilan. Hak ini meliputi jaminan hak reproduksi yang lebih luas seperti akses pendidikan seksual, perawatan kontrasepsi dan kesuburan serta aborsi legal dan aman. Pendukung pro-pilihan berpendapat bahwa aborsi merupakan hak pribadi yang tidak bisa diganggu gugat karena melibatkan tubuh, kesehatan dan masa depan pribadi seorang perempuan.

Dari segi filosofis, mereka berpendapat bahwa janin dalam rahim bukan manusia namun hanya telur yang dibuahi sehingga tidak memiliki hak asasi manusia. Alasan dasar yang dikemukan pendukung gerakan pro-pilihan antara lain perempuan yang memutuskan untuk aborsi melakukannya pada trimester pertama, pada saat itu janin melekat pada plasenta dan tali pusat sehingga pertumbuhan dan kesehatannya tergantung pada ibu yang mengandungnya dan tidak bisa dianggap sebagai entitas terpisah karena tidak bisa hidup di luar rahim. Alasan ini juga memperkuat bahwa aborsi bukanlah pembunuhan.

Di pihak oposisi, dikenal gerakan pro-kehidupan yang berpendapat janin harus dipertahankan karena memiliki hak untuk hidup. Kehidupan setiap manusia harus dihargai dari pembuahan hingga kematian sehingga setiap tindakan sengaja yang bertujuan menghancurkan janin atau embrio dilarang secara etika dan moral serta dapat dihukum. Jika tidak ingin atau tidak mampu membesarkan anak, perempuan diberi pilihan untuk mengizinkan anaknya diadopsi. Pendukung gerakan pro-kehidupan tidak hanya menentang aborsi, melainkan juga seluruh tindakan yang mengakhiri kehidupan manusia seperti euthanasia dan hukuman mati.

Aborsi di Indonesia

Ketentuan hukum tentang aborsi di Indonesia diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang tentang Kesehatan. Menurut pasal 299, 341, 342, 343, 346, 347, 348 dan 349 KUHP, aborsi merupakan tindakan kriminal. Ketentuan-ketentuan tersebut mengatur antara lain seorang perempuan yang sengaja melakukan aborsi dihukum penjara maksimal 4 tahun (pasal 346 KUHP), seorang perempuan yang sengaja membunuh bayi pada saat atau setelah dilahirkan dihukum penjara maksimal 7 tahun bagi yang tidak merencanakan terlebih dahulu  (pasal 341 KUHP) sedangkan dihukum penjara maksimal 9 tahun  bagi yang merencanakan terlebih dahulu (pasal 342 KUHP). Bahkan dokter, bidan atau tenaga kesehatan yang membantu melakukan aborsi pun dihukum penjara maksimal 16 tahun jika tanpa seizin perempuan dan 7 tahun 4 bulan jika seizin perempuan serta surat izin prakteknya dicabut (pasal 349 KUHP jo pasal 347 dan 348 KUHP).

Dengan hadirnya UU tentang Kesehatan, aborsi tidak lagi dikategorikan perbuatan kriminal yang harus dipidana. Dalam keadaan darurat aborsi dapat diizinkan jika terdapat indikasi kesehatan dengan tujuan menyelamatkan nyawa ibu. Aborsi dilakukan sebelum kehamilan berumur 6 minggu serta sebelum dan sesudah melakukan aborsi perempuan harus menerima konseling. Aborsi yang dilakukan oleh dokter ahli kandungan, dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan di suatu sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan memadai harus mendapat persetujuan dari suami atau anggota keluarganya. Namun, UU Kesehatan mempersempit pelaku aborsi karena menjatuhkan pidana hanya kepada dokter yang melakukan aborsi tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hukuman yang dijatuhkan berupa penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak 1 milyar rupiah (pasal 194 UU No. 39 tahun 1999).

Di Indonesia, pandangan tentang aborsi juga dipengaruhi oleh agama. Islam sebagai agama berpenganut terbanyak memberikan berbagai pandangan namun sebagian besar menyatakan aborsi boleh dilakukan sebelum janin berusia 120 hari dan jika nyawa ibu terancam atau menjadi korban pemerkosaan.

Sedangkan Kristen sebagai agama berpenganut terbanyak kedua telah mengalami perubahan pandangan tentang aborsi seiring zaman. Gereja Katolik menentang semua tindakan yang bertujuan menghentikan kehamilan. Seorang perempuan yang melakukan aborsi hanya dapat dihapus dosanya melalui pengakuan dosa dan mendapatkan pengampunan. Di kalangan Protestan, pandangan tentang aborsi berbeda-beda, namun secara umum mereka mengizinkan aborsi dengan beberapa pengecualian.

Keputusan Saya

Baik laki-laki maupun perempuan dianugerahi hak asasi manusia oleh Tuhan Yang Maha Esa. Negara melindungi setiap warga Negara dalam melaksanakan hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia secara penuh dan tanpa diskriminasi. Terkait dengan aborsi, Negara menjamin dan melindungi hak khusus yang melekat pada diri perempuan dikarenakan fungsi reproduksinya.

Kaum perempuan berhak menentukan kehendak sendiri dan mengendalikan kehidupannya secara bertanggung jawab dan mandiri. Kemampuan memilih jalan hidup tidak hanya terbatas pada hak kebebasan reproduksi namun juga hak memiliki dan menjalani kehidupan pribadi. Setiap orang harus menghormati, menghargai dan mendukung keputusan yang diambil.

Saya berpihak pada gerakan pro-pilihan. Pendapat saya, seorang perempuan boleh melakukan aborsi jika dia  merasa aborsi menjadi pilihan krusial. Situasi ini terjadi dalam hal pemerkosaan, kegagalan kontrasepsi, kesehatan atau kehidupan dirinya terancam, janin mengalami kelainan bawaan dan ketidaksanggupan membesarkan anak karena minimnya kondisi ekonomi atau hamil di luar nikah.

Gerakan pro-kehidupan menawarkan adopsi sebagai alternatif aborsi. Namun, pilihan aborsi atau adopsi tetap diserahkan kembali kepada perempuan tersebut. Sangat sulit menemukan orang tua yang tepat, apalagi jika anak yang dilahirkan cacat, sehingga anak terabaikan dan kebutuhannya tidak terpenuhi. Di samping itu, jumlah anak yang mengharapkan diadopsi lebih banyak dibandingkan jumlah orang tua yang ingin mengadopsi mereka.

Dengan dilakukannya aborsi yang bermutu, higenis dan aman oleh dokter ahli, resiko kematian ibu akibat komplikasi-komplikasi tak terduga berkurang dan kesehatan reproduksi ibu terjaga. Sebaiknya aborsi dilakukan  sebelum usia janin 12 minggu karena pada usia itu kemungkinan rasa sakit sangat kecil. Untuk menghindari trauma psikologis yang akhirnya mengganggu kesehatan mental, perempuan harus memperoleh  konseling atau nasehat pra dan pasca tindakan dari konselor yang berkompeten dan berwenang. Yang terutama, dukungan, perhatian dan kasih dari keluarga dan orang-orang terdekat sangat berpengaruh dalam membangkitkan semangat hidupnya kembali.


Also available at: Kompasiana

Wednesday, May 18, 2011

What Diah Has Translated: Sekolah Musim Panas Disabilitas dan Pembangunan

Program Disabilitas dan Pembangunan ke-2 difokuskan pada isu-isu khusus yang terkait dengan disabilitas dan rehabilitasi dalam konteks pembangunan. Program ini akan memberikan keterampilan dalam bidang perencanaan dan manajemen proyek dengan menggunakan metode kerangka logis kepada para mahasiswa. Menawarkan kesempatan mahasiswa untuk melaksanakan dan mempraktekkan keseluruhan proses manajemen proyek melalui pembelajaran pengalaman. Topik besar lainnya adalah metode pemantauan dan evaluasi, saat ini digunakan di bidang program CBR. Pentingnya dan penggunaan Sistem Manajemen Informasi akan didiskusikan terperinci, karena ini merupakan landasan pemantauan dan evaluasi yang baik. Mahasiswa akan mempraktekkan menset sebuah Sistem Manajemen Informasi sederhana sendiri.

Sekolah Musim Panas Disabilitas dan Pembangunan merupakan program mandiri sekaligus seri modul ke-2 Disabilitas dan Pembangunan. Sekolah musim Panas tersebut bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pusat Studi Disabilitas FISIP-UI dan VU University Amsterdam


Tanggal: 4-29 Juli 2011 (3 kelas mingguan dan 1 minggu tugas kelompok)

Tempat: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat

Para Pengajar

Rehabilitasi Berbasis Komunitas:
Dr. Maya Thomas, MA PhD

Sistem Manajemen Informasi dan Indikator-Indikatornya:
Wim H. van Brakel, MD MSc PhD and Pandu Riono, Ph.D

Pemantauan dan Evaluasi:
Dr. Johan Velema, MSc PhD and Iwan Ariawan, MSPH

Perlindungan Sosial bagi Para Penyandang Disabilitas di Indonesia:
Prof. Irwanto, Ph.D

Pendidikan Anak-Anak Penyandang Disabilitas:
Prof. Frieda Mangunsong

Jaringan, Lobi dan Advokasi:
Prof. Hadi Pratomo

OrganisasiPenyandang Disabilitas:
Dra. Mimi Mariani Lusli, M.Si, MA

Metode Partisipatif dalam Pemantauan dan Evaluasi:
Laurike Moeliono MA,MSi

Tujuan

·        Untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam kebijakan, advokasi, perencanaan manajemen (proyek), pemantauan dan evaluasi yang terkait dengan disabilitas, rehabilitasi dan pembangunan
·        Untuk memahami pentingnya rehabilitasi berbasis komunitas sebagai suatu model rehabilitasi yang tepat bagi Negara-negara berpendapatan rendah dan pembangunan proyek partisipatif.
·        Untuk mengembangkan pemahaman tentang posisi kelompok tertentu penyandang disabilitas di masyarakat, pentingnya membentuk kemitraan dengan organisasi penyandang disabilitas dan penghargaan bagi pendekatan pembangunan inklusif.

Bentuk Pengajaran

Pengajaran dengan latihan praktek, kelompok tutorial, belajar sendiri, pengalaman dan tugas kelompok.
Sekolah musim panas setara dengan 6 SKS.

Naskah

Alat pembaca elektronik akan tersedia, artikel akan tersedia di internet atau tersedia secara elektronik sebagai dokumen pdf atau Word.

Cara Penilaian

Penilaian didasarkan pada tugas individu, kerja kelompok tutorial dan ujian tertulis individu

Target Peserta

Mahasiswa internasional atau mahasiswa dari Universitas Indonesia atau universitas lainnya, yang menyandang disabilitas tertentu. Instansi pemerintah atau para profesional dari organisasi disabilitas, rehabilitasi dan pembangunan atau orang-orang lain yang peduli dengan isu-isu disabilitas.

Persyaratan

Lancar berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris disyaratkan, karena program akan diajarkan dalam bahasa Inggris.

Biaya Pengajaran (tidak termasuk makan & penginapan)

·        Mahasiswa internasional: €1.800
·        Mahasiswa Indonesia: Rp 3.000.000,-

Makan dan penginapan (perkiraan tinggal selama 22 hari di Jakarta)

·        Makan (3 kali sehari):  €6 atau Rp. 60,000,- per hari di kampus
·        Akomodasi:
      Luar kampus: €150 per bulan
      Dalam kampus: €10-30 per hari (Makara Hotel atau Pusat Studi Jepang)

Pendaftaran dan Informasi

Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia

DR. Rita Damayanti
SummerSchool2011.Disability@gmail.com
+62.21.727.0154

Meliana Sari, SKM
+62.21.786.4975

What Diah Has Shared: International Summer School on Disability and Development


The 2nd Disability and Development (D&D) course focuses on specific issues related to disability and rehabilitation in the context of development. The course will provide the student with skills in the field of project planning and management using a logical framework method. It offers the student opportunities to go through and practice the entire process of project management through experiential learning. Another major subject will be monitoring and evaluation methods, currently used in the field of CBR programmes. The importance and use of Management Information Systems (MIS) will be discussed in some detail, since this is a cornerstone of good monitoring and evaluation. Students will practice setting up a simple MIS themselves.

The Summer School on Disability and Development (D&D) is both a standalone course and the 2nd module in a series on Disability and Development. The Summer School is a collaborative undertaking between Faculty of Public Health Universitas Indonesia, the Centre for Disability Studies FISIP-UI and the VU University Amsterdam.

Dates: 4th-29th July 2011 (3 weeks classes and 1 week group assignments) 

Venue: Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (UI), Depok, West Java

Lecturers

Community Based Rehabilitation:
Dr. Maya Thomas, MA PhD

Management Information System and Indicators:
Wim H. van Brakel, MD MSc PhD and Pandu Riono, Ph.D

Monitoring and Evaluation:
Dr. Johan Velema, MSc PhD and Iwan Ariawan, MSPH

Social Protection of PWDs in Indonesia:
Prof. Irwanto, Ph.D

Education on Children with Disability:
Prof. Frieda Mangunsong

Networking, Lobbying, and Advocacy:
Prof. Hadi Pratomo

Disabled People's Organization:
Dra. Mimi Mariani Lusli, M.Si, MA

Participatory Method in M&E:
Laurike Moeliono MA,MSi

Aim

·        To develop skills needed for policy, advocacy, planning (project) management, monitoring and evaluation related to disability, rehabilitation and development
·        To understand the importance of Community-Based Rehabilitation (CBR) as an appropriate model of rehabilitation for low-income countries and participatory project development
·        To develop an understanding of the position of specific groups of disabled people in society, the importance of forming partnerships with Disabled Peoples Organizations and appreciation for inclusive development approaches.

Form of Tuition

Lectures with practical exercises, tutorial groups, self study, experience events and group assignments.
The summer school is equal to 6 credits.

Literature

An electronic reader will be available; articles will be available on the internet or made
available electronically as pdf or Word documents

Mode of Assessment

Assessment is based on individual assignments, tutorial group work and an individual written examination.

Target Audience

International Students or students from Universitas Indonesia or other universities, in particular disabled persons. Government institution or professionals from disability, rehabilitation and development organizations or others concern with disability issues.

Requirement

Fluency in spoken and written in English is required, since course will be taught in
English.

Tuition fees (excluding board & lodging)

·        International students: €1,800
·        Indonesian students: Rp 3,000,000,-

Board & Lodging (estimated for living in 22 days in Jakarta)

·        Meals (3 times a day) : €6 or Rp. 60.000,- per day on campus
·        Accommodation:
      Off campus: €150 per month
      On campus: €10-30 perday (Makara Hotel or Pusat Studi Jepang)

Registration & Information

Faculty of Public Health
Universitas Indonesia

DR. Rita Damayanti
SummerSchool2011.Disability@gmail.com
+62.21.727.0154

Meliana Sari, SKM
+62.21.786.4975